DURI PERNIKAHAN

DURI PERNIKAHAN
INGATAN SUAMI


__ADS_3

Sementara Arkan, ia di sudut bibir teringat kala menatap istrinya, bukan lagi keraguan dan ketakutan permintaan istrinya yang meminta ia menikah lagi. Satu Hal, yang Arkan tak percaya, bagaimana bisa seorang istri meminta suaminya berbagi kehidupan dengan wanita lain.


Arkan, masih ingat beberapa minggu lalu, saat dirinya pulang dari luar kota, Asna begitu tertarik melihatnya dan melayaninya dengan baik. Tapi setelah mereka bersantai, lontaran istrinya membuat Arkan celos begitu saja tak bisa berkata kata. Apakah semua ini ada hubungannya dengan ibunya, atau benar kemauan istrinya.


“Aku ingin kamu menikah lagi, Mas!”


Kalimat lantang keluar dari mulut Asna, memandang serius wajah sang suami penuh keyakinan dan ketegaran dalam hatinya.


“Apa? Me-menikah?” Arkan terkejut mendengar penuturan Asna yang mencolos hati.


“Kamu sedang tidak bercanda bukan, Dik?”


Asna terdiam beberapa detik. Ia sudah yakin dengan keputusannya, bahkan sudah memikirkan resiko yang akan terjadi ke depannya. Tidak hanya itu, ia juga tahu akan respon suaminya yang terkejut seperti ini.


“Aku serius, Mas. Aku ingin kamu menikah lagi agar bisa memiliki keturunan,” tegas Asna menahan sesak.


Tujuh tahun pernikahan begitu merindukan sosok bayi mungil dalam keluarga kecilnya. Ia pun ingin merasakan, bagaimana menjadi wanita hamil seperti wanita lain di luaran sana. Terlebih ibu mertuanya amat membenci Asna, terkait suatu hal besar yang membuat Asna berfikir, kemauan ini benar, yang pastinya untuk kebahagiaan keluarga kecilnya.


Bukan penantian yang sebentar, menunggu dengan sabar, tetapi tak sesuai harapan. Hampir setiap terlambat datang bulan, Asna selalu menduga dirinya hamil. Namun, nyatanya tetap mengecewakan.


Walau bagaimanapun dirinya hanya wanita biasa, tetapi sangat ikhlas jika suaminya menikah lagi. Bukan karena tak cinta, melainkan keharmonisan rumah tangga yang diharapkan bisa memberikan keturunan.

__ADS_1


Semua diniatkan untuk beribadah, bukan melepaskan tanggungjawabnya sebagai seorang istri. Ia sudah tak bisa menunggu lagi sebelum usianya semakin tua. Arkan pun wajib bahagia dengan adanya seorang anak.


“Apa ini karena permintaan ibu yang selalu menuntut tentang anak?” Arkan sedikit meninggikan suara. Hatinya tersulut emosi dengan rasa sesak yang membara.


Selama dua tahun terakhir ini, ibu memang selalu menanyakan perihal anak dan menuntutnya untuk segera. Entah apa yang sudah ibu katakan sampai Asna kepikiran untuk dirinya berpoligami.


“Tidak sama sekali, Mas. Ini murni atas permintaan dan keinginanku sendiri. Aku ingin kamu memiliki keturunan.” Asna terisak dengan hati yang menggebu.


“Tapi tidak dengan cara menikah, Dik. Mas nggak mau menduakanmu.” Arkan berdiri dan sudah berpindah mendekap tubuh sang istri.


Rasa cintanya begitu kuat. Ia tidak ingin menyakiti wanitanya yang sudah berjuang selama Tujuh tahun hidup bersama. Bukan waktu yang sebentar, tetapi segala pahit dan manis serta suka duka selalu dilewati bersama.


“Tapi, Mas, mau sampai kapan lagi kamu bertahan. Aku nggak bisa terus menunggu seperti ini. Aku juga ingin kamu bahagia, Mas.” Air mata sudah tak bisa terbendung lagi. Asna menumpahkan semua rasa sesak di bidang suaminya.


Ia bahkan memandang lekat, membicarakan dari hati ke hati agar kesabaran Asna bisa diperluas lagi.


Asna menggeleng, lalu melepaskan tangan suaminya di pipi. “Enggak, Mas, sudah cukup semuanya. Aku hanya ingin kamu menikah dan memiliki seorang bayi.”


“Dik, kamu tahu, poligami itu berat. Mas ini hanya manusia biasa yang bisa mencintai satu wanita. Mas nggak bisa menuruti keinginanmu!” Arkan sedikit membentak istrinya.


Ia memalingkan wajah dengan sikap yang bergemuruh, tetapi tetap mengontrol emosi agar tidak menyakiti Asna. Ia tidak mungkin bisa mengikuti permintaannya.

__ADS_1


“Mas ....”


Tatapan penuh cinta begitu menghunus Asna. Pertama kalinya, Arkan membentak membuat hatinya semakin sesak. Seketika buliran bening mengalir dengan deras.


Namun, dirinya tak boleh lemah. Ia teguh pendirian dengan pilihannya. Asna sangat mencintai suaminya, tetapi justru kebahagiaannya sangat berharga dari pada rasa cintanya.


Tidak mungkin dirinya tega membiarkan Arkan terus hidup sendiri tanpa adanya keturunan. Ia bukan wanita egois yang ingin merenggut kebahagiaannya sendiri.


Arkan yang mendengar isakan istrinya merasa bersalah dalam hati. Tidak seharusnya membentak seperti tadi.


“Maafkan Mas, Dik.” Tangannya kembali menggenggam lengan Asna dan mengecupnya penuh cinta.


“Tetapi Mas nggak mungkin menduakanmu. Mas nggak bisa membagi cinta Mas untuk orang lain. Kita bisa cari solusi lain selain aku menikah lagi, Dik.” Arkan penuh mohon meyakinkan hati Asna.


Masih banyak cara yang bisa dilakukan bersama. Memiliki keturunan memang selalu didambakan dalam pernikahan, tetapi jika takdir belum berkehendak tak ada yang bisa dilakukan selain sabar.


“Tapi hatiku sudah bertekad bulat, Mas. Aku ikhlas dan akan bahagia melihat Mas yang nantinya juga bahagia.” Air mata Asna semakin membanjiri pipinya.


“Jangan biarkan aku merasa bersalah karena tak bisa memberikanmu keturunan, Mas.”


Asna terisak. Sebelumnya, ia sudah merenung memikirkan hal ini. Hatinya benar yakin dan ikhlas mengizinkan suaminya menikah lagi. Mungkin hanya cara itu agar suaminya bisa mendapatkan keturunan.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2