
Saat ini, Asna masih tertegun dan sangat sulit untuk menelan saliva yang tersangkut di tenggorokannya. Menatap mimik wajah Arkan yang tampaknya ada hal serius, lalu melirik ke arah Dira yang asyik bermain bersama Imel di ruang depan.
Walau terlihat agak jauh, tetapi aktivitas mereka dapat disaksikan apalagi dengan pintu yang terbuka lebar.
Entah apa yang ingin Arkan katakan seolah bersifat rahasia. Namun, ia juga tidak ingin membuat Dira berpikir negatif tentang apa yang dilakukan Arkan dengannya, saat tidak ada dalam pandangan.
Walau kenyataannya memang diperbolehkan, tetapi sebisa mungkin Asna menghindari rasa kecemburuan yang ada.
“Kenapa nggak di sini saja, Mas?” tanya Asna mengernyit, berharap mengerti akan maksudnya. Kala Arkan, mengajak agak jauh dari pandangan Imel dan Dira, dari ruangan lain.
“Mas, ingin berbicara berdua,” kata Arkan singkat.
“Tapi, Mas, bagaimana dengan Dira?” Asna sangat tidak enak, dan melirik ke arah Dira yang juga sedang menatapnya.
“In syaa Allah Dira mengerti dan tahu permasalahan ini, Dik.” Arkan memperjelas dan tujuannya kemari memang ingin memberitahu hal ini.
Asna pun bingung, masalah apa yang dimaksud. Hatinya menolak, tetapi melihat mata Arkan yang menyiratkan sesuatu membuat Asna dilema.
Dira yang berada di luar memerhatikan dua insan tersebut yang saling pandang. Pembicaraan mereka tidak terdengar, tetapi tatapan mereka tampak jelas jika saling membutuhkan.
Sedih, rasanya tak pantas Dira menyedihkan. Karena mereka yang lebih lawas apalagi cemburu pada Mba Asna, sebab Dira sadar diri dengan posisinya sekarang. Ia tahu betul siapa Mba Asna dan sampai diizinkan masuk menjadi bagian dari keluarganya.
Keluarga penuh kasih sayang yang membesarkan cinta atas perintah-Nya. Mungkin cinta Dira juga kuat terhadap Arkan, tetapi sudah lama mereda dan lebih mencintai-Nya, hingga Allah mempertemukan kembali dengan caranya.
“Bunda, lihat deh. Aku berhasil membuat rumah-rumahan yang bagus,” celoteh Imel riang, menyusun mainan yang membuat rumah.
__ADS_1
Dira tersadar dan kembali fokus pada Imel. Anak yang terbilang pintar dan cerdas, di usianya yang belia begitu banyak pengetahuan. Bahkan, dia sudah dipaksa mengerti tentang keadaan orang tuanya.
“Wah, bagus sekali. Rumahnya juga besar seperti rumah Imel.” Komentar Dira memberi kalimat yang positif.
Ia tidak tahu bagaimana perasaan anak itu sesungguhnya saat mengetahui abinya menikah lagi. Entah pengetahuan apa yang sudah Mba Asna berikan sampai Imel menerimanya dengan lapang.
Bahkan selama mengenal Mba Asna, Dira tak tahu banyak hal tentang keluarganya. Ia hanya sekadar mengetahui wanita yang sudah menikah dengan segudang prestasi juga bisnisnya yang melejit.
Mba Asna memang sangat menjaga privasi sampai suaminya saja tak pernah di publish. Rasanya berbeda dengan wanita lain yang begitu bangga mengumbar suaminya di berbagai postingan media sosial.
Wajar jika banyak orang yang beranggapan Mba Asna seorang single karena memang tak pernah menunjukkan satusnya kepada orang lain.
Menurutnya memang bagus, tak seharusnya semua orang tahu, apalagi kemesraan yang diumbar sana sini seolah memiliki keluarga yang paling bahagia.
Dira sendiri pun belajar banyak dari beliau tentang cinta yang sesungguhnya dan cinta sejati yang didapatkan, terutama cinta Allah yang akan mendapatkan semuanya.
“Silakan, Bunda.”
“Mengapa Imel bisa menerima Bunda Dira dengan cepat. Padahal, kita baru bertemu,” ujar Dira lembut dan penasaran akan jawaban anak itu. Tampaknya pemikiran dia jauh lebih dewasa.
“Kata Bunda, Bunda Dira itu baik dan katanya memiliki dua bunda itu pahalanya jauh lebih besar. Jadi, Imel harus menghormati dan baik sama Bunda Dira sama seperti Bunda Imel.”
Deugh!
Hati Dira terenyuh mendengar kalimat Imel yang membuatnya haru, hampir saja air matanya meluruh. Hanya kalimat sederhana mampu menggetarkan hati.
__ADS_1
Perihal kata pahala, Imel begitu patuh dan sepertinya pengetahuan agamanya memang sangat luas dan paham apa yang harus Imel jalankan.
Ma syaa Allah. Bagaimana Dira tak luluh melihat keikhlasan Mba Asna yang mendidik Imel penuh dengan ilmu.
'Jadi, seperti ini mbak Asna, aku jauh dari kata sempurna. Mba Asna, memang layak bergelar bidadari tanpa sayap.' batin Dira, masih menatap Imel.
Sementara kedua insan yang sudah berpindah ke dalam kamar saling mematung untuk beberapa detik. Tidak ada yang ingin memulai dan membisu seketika.
“Katakanlah, Mas, apa yang ingin kamu katakan,” kata Asna terpaksa membuka suara. Ia tidak suka menghadapi situasi yang canggung seolah memiliki masalah besar.
Padahal, keduanya baik-baik saja bahkan tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan jika ingin membahas perihal pernikahan kemarin.
“Apa ini menyangkut pernikahan kalian mas?” Asna bermaksud tertuju pada suaminya dan Dira.
“Iya, Dik. Sebelumnya Mas meminta maaf, tetapi Mas harus memberitahu kamu dan ini yang membuat Mas berat untuk melanjutkan,” lirih Arkan berat.
Mata Asna membola, jarak yang berjauhan kini berdekat, karena Asna melangkah maju menghampiri suaminya. Ia terkejut mendengar kalimat Arkan yang membuat hatinya terusik.
Berat melanjutkan? Apa dia ingin berpisah dengan Dira? Asna menggeleng. Arkan tak bisa mempermainkan pernikahan.
Asna tahu betul jika suaminya orang yang bertanggung jawab, dan kuat dengan komitmen yang sudah berjalan.
“Apa maksud kamu, Mas?” Asna tak rela jika Arkan mencampakkan Dira seenaknya.
Sementara Arkan, masih ragu dan takut melukai hatinya. Jika Dira, adalah bagian masa lalu, kesalahan Arkan yang amat fatal.
__ADS_1
'Entah harus apa dik, mas rasanya bingung untuk bicara jujur padamu, apa kamu sanggup mendengar semua ini.' batin Arkan, yang melihat wajah istrinya meneduhkan.
TBC.