
Asna terhenyak. Sebenarnya tadi Arkan menelepon, tetapi tak Asna angkat. Mungkin, batinnya menyatu sehingga Arkan ikut merasakan apa yang Imel alami.
“Apa kamu mau bertemu Abi, Nak?” Asna justru berbalik tanya. Ia tidak akan menjadi orang yang egois untuk membatasi pertemuan seorang anak kepada ayahnya.
Apalagi ayah merupakan cinta pertama anak perempuannya, dan tahu betul kedekatan mereka yang seperti magnet.
Imel menggeleng. “Imel nggak mau ganggu Abi, Bun.”
Nyes!
Hati Asna kembali tertegun. Entah mengapa Imel bisa mengatakan seperti itu seolah tahu betul apa yang Asna rasakan. Padahal, Asna belum mengatakan apa pun padanya.
Sedih rasanya, tetapi bagaimanapun Arkan memang perlu tahu kondisi Imel. Mungkin, setelah ini ia akan menghubungi abinya Imel.
Bukan sedih karena menjauh dari Arkan. Itu memang sudah menjadi resikonya, tetapi tidak ingin mengambil sisa waktu yang ada bersama Dira. Asna juga tidak ingin waktunya mas Arkan bersama Dira diganggu.
“Bun, jangan beritahu Abi, ya.”
Lagi-lagi Asna dibuat terpaku oleh perkataan Imel. Menahan tangis dalam diam, Asna mengangguk dan merengkuh tubuh Imel dengan iba. Tidak seharusnya dia terlibat dalam pergelutan batinnya.
Imel yang masih kecil harus dipaksa mengerti tentang keadaan orang tuanya, yang tak bisa memiliki keturunan. Asna amat bersalah dan jika Imel merupakan anak kandungnya, tidak mungkin Asna memilih jalan ini.
Astagfirullah, Asna tersadar. Ia tidak boleh menyalahkan takdir. Semua sudah menjadi keputusan terbaiknya dan harus dijalankan sesuai perintahnya.
“Ya sudah kamu nggak perlu khawatir. Sekarang buka mulutnya.” Asna siap memasukkan nasi ke dalam mulut Imel.
__ADS_1
Suapan demi suapan, Imel berhasil menghabiskan nasinya tak tersisa. Setelah itu memberikan obat kepadanya dan meminta Imel untuk beristirahat.
“Kalo ada apa-apa panggil Bunda, ya! Bunda ada di ruangan sebelah,” kata Asna memberitahu dan sebelum benar meninggalkan, Asna memberi kecupan di keningnya.
"Iy Bunda." senyum Imel, yang kala itu Asna menutup pintu kamar, karena ia akan menyibukkan dirinya membuat butik.
***
Sementara di tempat lain, Arkan sudah berdiri di ambang pintu memerhatikan Dira yang begitu khusyu dalam doanya.
Ia begitu tega telah melukai wanita yang memiliki hati sebaik malaikat. Sejak beberapa tahun lalu dengan seenaknya pergi meninggalkan tanpa kabar, dan saat dipertemukan kembali menorehkan luka.
“Bang.”
Arkan mengerjap kala namanya dipanggil. Ia merekahkan bibirnya tipis, lalu menghampiri Dira yang sudah menoleh ke arahnya.
“Maafin Dira, Bang, tak seharusnya Dira marah sama Abang. Dira hanya ingin berbakti dan mendapat keridhaan Abang sebagai suami Dira,” lirih Dira sembari mengecup punggung tangan Arkan dengan tulus.
Tubuhnya sedikit membungkuk dan memohon maaf agar Arkan membukakan pintu maafnya dengan luas. Dira hanya ingin tenang dan damai dalam menjalankan pernikahannya.
“Abang yang meminta maaf, Dik.” Tangan Arkan mengusap lembut punggung Dira yang ragu, dan memberanikan diri mengecup pucuk kepalanya.
Tidak ada yang salah dan halal bagi Arkan, sebab Dira pun merupakan istrinya yang mendapat kedudukan sama seperti Asna. Ia sedikit menahan, menikmati sesapan kasih sayang Dira untuknya.
Walau hatinya menolak, tetapi tak ada yang bisa menggugurkan kewajiban Arkan sebagai suami. Perasaannya begitu berat dan bayangan Asna seakan tengah memandangi sembari tersenyum.
__ADS_1
Allah, mungkin ini yang Asna inginkan. Jawabannya langsung diberikan secara nyata dan terlihat wanita itu tersenyum bersinar.
“Hatimu begitu luas, Dik. Maafin Abang,” batin Arkan dan tanpa ragu lagi, tangan Arkan mengangkat tubuh Dira bangkit, lalu saling berhadapan.
Saat itu, entah dorongan dari mana Arkan merengkuh tubuh Dira sekuat tenaga, memberi kenyamanan pada wanita di depannya.
Dira sendiri merasa tertegun, pertama kalinya Arkan memeluknya tanpa ada perintah dari Mba Asna dan bahkan pelukannya terasa hangat, membuat hatinya merasa dicintai.
Air mata semakin terisak dan meluruh semakin sesak. Allah begitu mudah meluluhkan hati manusia, terbukti Dira mendapat kasih sayang Arkan sesungguhnya. Tak lupa Arkan mengucapkan doa sebelum menyentuh Dira.
“Tuntun Dira menuju surga, Bang!”
“In syaa Allah, Dik, kita belajar bersama-sama mengarungi rumah tangga yang akan semakin banyak ujiannya di depan. Beritahu Abang jika salah mendidik atau jalan. Mulai sekarang Abang akan berusaha menjadi suami yang terbaik buat kamu dan terbuka untuk segala sesuatunya.”
Dira tak bisa membendung tangis. Dengan berdoa, Allah sendiri yang telah menentukan jalan. Ia bersyukur dengan apa yang Allah berikan padanya. Wajah Arkan menatap Dira adalah senyuman Asna, entah keluasan apa istri pertamanya sehingga Arkan pun melakukan ibadah sesungguhnya, memberi kenyamanan di malam pengantin hari ke empat yang baru Arkan lakukan kewajiban nya sebagai suami terhadap Dira.
Setelah mereka membersihkan diri, melakukan wudhu. Arkan menatap Dira yang membawa piring berisi buah, membawakan teh hangat dan duduk di depannya dengan senyuman.
“Lalu apa yang sedang Abang pikirkan tadi? apa Dira boleh bertanya?"
Deuugh!
Arkan seolah terhipnotis, kali ini Arkan telah melakukan kewajibannya sebagai suami. Dan saat ini di depannya bukanlah Asna yang ia lihat, melainkan Dira yang kala tersenyum seperti bayangan Asna.
'Ya rabb! apa maksud semua ini, kenapa rasanya seperti ini, jangan buat aku seperti suami penuh dosa pada kedua istriku.' batin Arkan.
__ADS_1
TBC.