
"Suami pasien, bisa kita bicara di ruangan saya sebentar pak?"
Semua mata menatap Arkan dengan cemas, terutama Arkan yang saat itu juga takut jika Dira dan calon bayinya, terjadi sesuatu.
Ibu Yola pun menatap tajam, sebagi ibu dari Arkan, ia tidak ingin bayi Dira kenapa kenapa, sehingga menjadi seorang nenek gagal lagi. Mungkin ibu ibu teman arisannya akan mencemooh Yola! karena putranya yang bermasalah, seolah Yola kesal ingin mematahkan rumor tersebut.
"Menantu saya bagaimana dok?" kilat Yola, mendekati putranya.
"Untuk saat ini, pasien perlu masa observasi. Saya akan menjelaskannya pada pak Arkan, saya pamit sebentar ya bu. Untuk janin alhamdulillah baik. Mari pak! ikut ke ruangan saya!"
Arkan pamit pada ibu dan mertuanya, meninggalkan mereka disana. Sementara gelisah Arkan, apakah terjadi sesuatu pada Dira kelak, semoga saja pikiran Arkan salah.
"Ini data riwayat kehamilan ibu Dira. Janin berkembang baik. Hanya saja saya meminta bapak untuk menjaga ekstra. Kehamilan muda amat rentan pak! ibu Dira kemungkinan mengalami. Inkompetensi."
"Apa itu dok?"
"Inkompetensi itu mulut rahim mengalami pembukaan dan penipisan atau dikenal mudah terbuka dan menjadi pendek! sebelum waktunya, sehingga tak bisa menahan janin. Dengan kata lain, penyebab kandungan lemah, karena kondisi ibunya depresi, stress berat terlalu memikirkan hal aneh dan lelah."
"Hah! lalu apa yang harus saya lakukan dok?"
"Pada saat usia kehamilan 4 bulan, seharusnya mulut rahim belum terbuka. Tapi jika observasi lanjutan tidak ada kelainan, bisa dikatakan ibu Dira alami Anomali Rahim. Anomali rahim adalah sempitnya bentuk Rahim yang tidak normal! bisa dari genetik, atau sebelumnya istri bapak tidak pernah lancar haid, nyeri saat haid namun dianggap biasa."
Deg.
Arkan sendiri tidak mengerti istilah medis, sehingga Arkan kembali bertanya.
"Dok, bagaimana keadaan istri dan janinnya. Apa yang harus saya lakukan? Apa ada obat untuk sembuhnya, agar istri saya tidak kesakitan?"
"Ada pak. Saya akan buat resep untuk bu Dira. Tapi saya minta dari bapak, Suport! siaga selalu pada istri bapak! dan untuk beberapa bulan ke depan. Sampai janin benar benar kuat empat bulan lebih, saya sarankan bapak tidak campur dulu. Meski saya yakin ini berat untuk sebagian para suami. Maaf pak! tapi ini demi keselamatan jabang bayi dan ibu Dira sehat."
Dosa apa yang membuat Arkan untuk mengingatnya. Bibirnya kelu, menipis seolah istrinya di saat yang bersamaan membutuhkannya. Ingin rasanya Arkan terbelah saja, entah harus seperti apa lagi Arkan bingung agar bisa membagi waktu untuk Dira dan Asna yang sama sama membutuhkannya.
"Baik dok. Terimakasih penjelasannya, saya pasti akan menjaga istri saya."
__ADS_1
"Kalau begitu saya buatkan resep obat penguat janin. Nafsu makan bu Dira harus dijaga jangan sampai kosong ya pak! semoga bayi dan ibunya kembali pulih dan sehat." ujar dokter menyemangati.
Arkan sendiri kembali ke ruangan Dira, dimana ia akan di perbolehkan pulang untuk istirahat di rumah.
"Gimana Dira dan bayinya, Arkan?" tanya Ibu.
"Dira ga boleh stress bu. Ga boleh capek, kandungannya lemah dan rentan."
"Alhamdulillah! kalau gitu kamu harus ekstra jagain Dira. Selama istri kamu hamil, nginap di tempat istri kamu Dira. Ibu ga mau Dira dan cucu ibu terjadi sesuatu."
"Iya bu."
Hati ibu Hanna, dibelakang ibu Yola merasa senang jika keadaan putrinya baik baik saja. Tapi mengingat Asna yang sakit parah, apakah tega, jika putrinya akan dijaga suaminya, tapi mengabaikan istri pertama. Benak ibu Hanna, resah dilema sebagi ibu menyelimuti.
Dan ruangan igd terbuka, dimana Dira akan di pindahkan ke ruangan lain.
***
Sementara Imel, ia masih saja bercerita pada bundanya. Tangisannya pecah, ingin sekali bundanya itu cepat membuka mata.
Tak terasa tangan Asna pun bergerak, ketika di sana ada Irham yang ikut menunggu. Sebetulnya ia menunggu Arkan kembali, jadi ia sekalian menemani bu Nira dan Imel. Sebab tak enak rasanya jika Irham sendiri menyusul ke ruang Igd. Dimana disana ada ibu Hanna, dan Arkan sendiri belum tahu kisahnya yang pernah melamar Dira, tapi di tolak.
"Nenek! Imel mau ke toilet."
"Oh! ayo nak, ikut sama nenek. Dan nak Irham, tunggu sebentar ya di sini!"
"I-iya bu! Irham juga menunggu Arkan disini, lagi pula Asna dan Irham kita sama sama teman baik, dengan Arkan juga."
"Iya kalau Arkan datang, sampaikan ibu anter Imel ke toilet sebentar."
"Iya bu."
Setelah di rasa pergi tak terlihat. Irham sendiri menumpahkan kekesalannya pada Asna saat itu, tanpa tahu jari tangan Asna bergerak beberapa detik.
__ADS_1
"Asna, kenapa kamu lakukan suami kamu, poligami? apa kamu sehat Asna, apa hanya karena anak saja. Kamu egois Asna, bahkan yang menjadi madu nya lah adalah wanita yang aku lamar, bahkan banyak metode lain. Jika tahu Arkan menyakiti kamu, harusnya dulu aku tidak mengizinkan dia mendekatimu. Pria yang benar benar baik, dia tidak akan membuat kamu seperti ini." lirih Irham.
Entah kenapa Irham yang menumpah kekesalannya, ikut berlinang air mata menutupi wajahnya. Tanpa Irham sadar, tangan Asna bergerak lagi, matanya terbuka pelan. Ingin sekali bayangan orang yang ia cintai hadir menunggunya.
'Mas Arkan...' lirih Asna membuka mata.
Irham yang terkejut, entah harus bahagia atau tidak. Memencet tombol biru, agar dokter memeriksa Asna.
'Mas .. Ar- kan.' panggilnya.
"Asna, kamu sudah sadar. Aku Irham, Imel dan ibumu sedang keluar sebentar. Ar- kan dia sedang ..." terdiam Irham.
"Mas Ar-kan ke-ma-na? Ir-ham. Ka-mu di-sini?" pelan Asna.
"Dia sedang membayar administrasi." berbohong Irham, tak ingin membuat drop Asna yang baru sadar.
Tak lama dokter pun datang! Irham diperkenankan untuk keluar dan menunggu dibalik pintu. Imel yang berlarian bertanya saat itu juga.
"Om ini, kok di luar? Bunda kenapa ya Om?"
"Ah. Imel, Bunda tadi sadar, sekarang lagi di cek sama bu dokter. Imel seneng kan? doakan ya agar bunda kamu cepat pulih."
"Alhamdulillah." lirih bu Nira yang ikut mendengar.
Irham sendiri entah kenapa menjadi cemas, ia hanya prihatin pada kisah rumah tangga Asna. Lama dia tidak pernah menjalin asmara, setelah tahu Asna dilamar sahabatnya sendiri. Dan beberapa tahun lamanya, ia mengenal seorang wanita untuk ia jadikan istri, tapi kandas saat tahu Dira, menolak lamarannya, ia syok ketika tahu Dira menjadi madu sahabatnya itu.
"Om, boleh Imel tanya gak?"
"Heump. Boleh sayang, Imel mau tanya apa?"
"Imel, kok kayak pernah lihat Om ya, tapi dimana ya ..?" gemas Imel senyum.
Deg.
__ADS_1
"Iya, kamu juga cantik, chubby. Om juga ga asing, sekarang kita doakan bunda Asna ya. Om, mau ke Abie kamu dulu di ruangan lain. Kasih tahu kondisi bunda kamu udah siuman." senyum Irham, di anggukan Imel.
TBC.