
"Bunda udah tidur?" langkah Imel memeluk tiba tiba, yang saat itu mata Asna tak melihat jelas, tapi ia sembunyikan dan meraba wajah Imel.
"Bunda kok kayak yang sakit? bun, Imel telepon Abie ya?"
"Ga usah sayang! Bunda hanya kecapean aja, enggak tahu kenapa mata bunda letih, jadi samar. Kamu kenapa nak? kok belum tidur?" tanyanya, ketika pandangan ke arah Imel sudah membaik, Asna juga kaget dan ketakutan jika benar benar matanya tak bisa melihat, bagaimana dengan Imel nantinya.
"Imel ga bisa tidur, pengen di peluk Bunda. Boleh kan Imel tidur sama bunda?"
Deg.
Anak ini seolah tahu, jika hati Asna gundah. Sehingga pencipta ciptakan anak berlian seperti Imel, untuk menghilangkan dukanya.
"Boleh dong sayang." memeluk hangat.
Ke Esok Harinya.
Asna melakukan seperti biasa, hari demi hari rasanya hampa jika mas Arkan tidak menemuinya, haruskan Asna ke kantor mas Arkan. Agar semua kesalahpahaman ini terobati, agar semua selesai dan baik baik saja. Bukan ini yang di inginkan Asna, melainkan mas Arkan yang lembut dan mau mendengarkan lebih dulu sebelum bertanya, dengan kepala dingin.
Setelah Asna menitipkan Imel pada bibi di rumah, Asna berangkat ke toko butik, satu pandangannya tertuju pada kain batik, Asna lihat kalender jika setiap kamis ada undangan acara kantor, Asna berniat memberikan sebuah batik yang ia buat sendiri di butiknya. Mungkin perlu satu sampai dua hari, jika membuat kemeja batik khusus, lagi pula Asna mempunyai designer ternama dengan banyak model inspirasi, yang saat itu Asna juga sudah bekerja sama secara kontrak.
"Pagi bu! pt ini meminta kita seribu kemeja untuk acara kantor! tapi kita kekurangan tenaga bu. Sedangkan waktunya udah mepet sekitar lima hari lagi."
"Kalau gitu, rekrut pekerja freelance seperti biasa ya Nis! tolong urus, nanti saya bantu ke group. Sepertinya saya punya teman yang bisa bantu, tetap semangat dan terimakasih atas kesabarannya karena akhir akhir ini kalian lembur."
"Baik bu."
__ADS_1
Asna pun turut membantu beberapa yang bisa ia bawa pulang, ia berencana membantu menjahitnya di rumah. Selebihnya ia percayakan pada karyawan kepercayaannya. Belum lagi, ia mampir ke kedai kue dan beberapa pesanan, dan stok hampir habis, jadi Asna melupakan kesedihan ketika ia melamun tentang Arkan, jika sampai tokonya sepi.
Asna Sangat bersyukur, ketika kedua usahanya semakin maju dan banyak klien yang percaya memakai jasanya. Lagi pula orang kepercayaan Asna, ada sepupunya yang turut membantu dan handle ketika Asna tidak di rumah.
Hingga pulang pun, Asna yang telah bersiap siap membersihkan diri, ia bergegas ketika Imel sudah tidur. Sudah pukul delapan, Asna jadi terlambat menemani Imel untuk bercerita dongeng.
"Imel hari ini gimana bi?"
"Baik kok bu. Makan banyak, hanya saja tadi dia melihat ke arah pintu. Katanya kangen .. maaf bu. Kangen Abi -nya, kenapa belum pulang."
"Terimakasih ya bi, maaf kalau akhir akhir ini saya pulang malam. Kalau bibi ga sempat masak, pesan seperti biasa aja ya bi. Saya belum sempat belanja bulanan, tadi saya lihat kulkas banyak kosong."
"Iya bu, kalau begitu saya permisi."
"Baik bu."
Asna melangkah menuju tangga, benar benar mas Arkan tidak lagi hangat seperti dulu. Asna sadar diri, karena kesalahannya pergi melalui pesan adalah hal fatal, tanpa menunggu suaminya. Entah sampai kapan, jika kondisi Asna akan terus tertutupi. Tapi Asna tidak boleh mengeluh, karena semua ini dialah yang merencanakan semuanya.
Hingga inisiatif Asna ke ruang kerjaannya, ia semalaman untuk menyelesaikan kemeja batik untuk mas Arkan. Rencana esok pagi, Asna ingin menemui mas Arkan di kantornya, di tempat biasa tak banyak orang tahu.
"Semoga dengan ini, mas Arkan bisa senyum lagi." lirih Asna, hingga terasa sudah hampir selesai, tangannya tertusuk jarum, Asna segera mengambil plester, menutupi lukanya, dan Asna berwudhu untuk shalat malam, karena yakin setelah itu ia bisa melanjutkan jahitan kemeja untuk suaminya itu, agar cepat selesai dan di kenakan.
Pagi Harinya.
Hal rutin seperti biasa, pagi pagi sekali setelah mengantar Imel, ia melangkah menuju kantor mas Arkan, pagi dini hari juga Asna sudah menguap parfum kemeja hasil buatannya, karena sebelum Asna jahit kain itu sudah Asna cuci bersih, apalagi kali ini sudah tertata dengan box indah.
__ADS_1
Sreeith.
Asna memarkir, ia yakin sebentar lagi mas Arkan akan tiba, tapi ketika sudah menunggu sepuluh menit. Tak terasa sebuah taksi membuat mata Asna terpaku.
"Mas Arkan naik taksi," senyum Asna, sesaat ia keluar dari mobil, dengan jarak sekitar lima meter dibatasi dinding menjulang, ia berdiri terhenti kala ..
"Dik, kamu langsung pulang ya setelah dari dokter. Kabari abang jika ada sesuatu."
"Iy bang! oh ya, Dira punya sesuatu untuk abang. Abang besok pakai ya, setiap kamis. Sesekali pakai dari Dira, meski itu tidak mahal dan uangnya juga .."
Arkan pun membuka paperbag kecil, terlihat sebuah kemeja batik yang memang Arkan rencana ingin beli untuk acara penting, karena yang lama tak sengaja sobek belum di jahit.
Deg.
Hati Asna dan matanya berurai air mata, entah kenapa rasa sakit itu muncul semakin melihat kedekatan suaminya dengan madu yang ia pilih.
"Syukurlah kalau mas Arkan, sudah berhasil membawa Dira dan menerima Dira. Semoga mas Arkan bisa membahagiakan Dira." lirih Asna.
Asna membalikan badan dan menjatuhkan paper bag besar yang berisi kemeja buatan tangannya, jika dilihat kemeja itu tidak akan pernah Arkan temui di toko manapun, apalagi label dan inisial nama Arkan dan Asna ada disana yang mungkin jika Arkan lihat, ia akan sadar persis seperti jahitan kemeja batik pertama Arkan kenakan yang sudah usang kini.
Asna menghapus air mata, dengan sadar ia segera menuju butik karena saat ini, karyawan pasti membutuhkannya. Setidaknya Asna akan baik baik saja, ketika waktunya full hari ini sibuk.
'Bisakah aku semakin bersabar, bukankah ini yang aku harapkan mas Arkan bahagia, lagi pula jika mas Arkan berubah, itu sudah garis yang aku buat. Wajar karena mereka masih pengantin kan.' batin Asna, ia sedih dan butuh sandaran, tapi sadar sandaran tepatnya adalah mengadu pada penciptanya, sehingga semua orang tidak perlu tahu, termasuk ibunya nanti akan sedih, jika tahu tentang Asna saat ini.
TBC.
__ADS_1