
Dira saat ini, ternganga semakin tak enak hati. Sungguh, ia sama sekali tidak tahu dan mengharapkan semuanya. Miris sekali rasanya antara dikasihani atau memang benar tulus Mba Asna memberikan ini semua. Padahal sejak dulu dimasa sekolah, beliau dan mba Asna terus mensuport berbagai moril dan ekonomi. Apakah pantas kali ini Dira, tidak salah menerima pria yang telah beristri, terlebih jika nanti ia meminta lebih entah apa yang harus Dira lakukan.
Mata Dira menangkap bingkisan yang membuat hatinya penasaran. Ia pun membuka dan matanya membola kala melihat baju seperti kebaya dengan warna kesukaannya.
Hati Dira berpikir tak enak. Ia pun mengambil baju itu dan ternyata membuat Dira ternganga karena terpukau.
“Mba, apa maksudnya ini?” Dira menahan haru dan meminta penjelasan kepada sang desainer.
Ia tidak bodoh. Tahu betul apa yang telah Asna lakukan dan meminta kejelasan dari apa yang ada di depan matanya sekarang.
“Spesial for you.” Kalimat Asna singkat dengan wajah bahagia penuh haru. Tampaknya Dira sangat menyukai dan mungkin akan dirawat baik baju itu.
Dira menggeleng. Lagi-lagi terkejut dengan apa yang Mba Asna lakukan. Hatinya menciut tak karuan. Bagaimana tidak, wanita itu telah memberikan gaun yang begitu cantik dan sepertinya sangat pas di tubuhnya.
__ADS_1
“Saya sengaja membuatkan itu untuk hari bahagiamu, Ra, sesuai permintaan dan kesukaan kamu.” Asna menerangkan secara gamblang. Ia memang tak meminta izin terlebih dahulu jika akan membuatkan gaun untuknya.
Ia tahu betul watak Dira, jika tak suka diberi pemberian tanpa ada alasan. Namun, kali ini Asna memberikan sesuatu yang berkesan dan bisa menjadi kenangan untuk sejarah hidupnya.
“Mba jadi gaun ini?” Dira baru ingat jika Mba Asna pernah bertanya mengenai model gaun yang akan di launchingkan, dan tentang rating yang semua menurutnya bagus.
Ternyata di balik itu, Mba Asna menyimpulkan dari sisi dirinya. Sungguh, tak sedikit pun rasa curiga yang terbesit dan kepikiran tentang hal ini. Bahkan, beliau juga pernah meminjam tubuhnya untuk mengukur baju dengan alasan klien yang tak bisa datang.
Dira terharu. Ia tidak tahu perjuangan Mba Asna di balik acaranya yang sungguh berjasa. Dia merupakan wanita tangguh dan tidak seharusnya menyakiti dirinya sendiri.
Hampir seminggu bangun di sepertiga malam untuk melanjutkan pekerjaan tanpa membuat Arkan marah. Membuat dengan hati-hati dan penuh cinta yang dituangkan dalam gaun tersebut. Asna akhirnya bisa membuatkan gaun indah, yang akan membuat Arkan bahagia, jika gaun ini buatan tangannya dan bentuk rasa sayang tulusnya.
Dira tak mampu lagi berkata. Pasalnya, beliau memang mengatakan untuk tidak perlu khawatir karena semua akan dipersiapkan olehnya. Ia pikir dipersiapkan yang dimaksud bukan berarti memberikan gaun yang dibuat dengan tangannya sendiri.
__ADS_1
Entah mengapa Dira tak peka akan pertanyaan saat itu. Jika tahu, Dira akan menolak mentah-mentah. Kini, gaun cantik sudah berada di tangannya, rasanya tak ada alasan lagi untuk menolak.
Mba Asna terlalu baik sampai membuatkan gaun pernikahan untuk melihat madunya menikah. Hanya seorang madu yang berarti memiliki seorang suami yang sama, tetapi sikapnya di luar ekspetasi Dira.
“Mba terima kasih. Saya nggak tahu lagi harus bilang apa. Semoga saya bisa menjadi istri yang Mba Asna inginkan.”
Ada rasa tak percaya dalam hatinya, tetapi takdir sudah memilih dirinya untuk menjalani pernikahan ini.
“Aamiin. Kalo gitu saya permisi, ya.”
“Tunggu, Mba!” Dira memberhentikan langkah Asna dan bangkit berjalan menuju kamar.
“Saya ingin mengembalikan ini.” sesuatu diberikan pada Asna, membuat Asna terdiam menatap Dira.
__ADS_1
TBC