
Asna pun menghela napas pasrah. Arkan begitu keras kepala bagai baja yang begitu sulit ditembus, tetapi Asna tak bisa egois seperti ini. Dira berhak mendapat kebahagiaan bersama Arkan dan terutama malam ini.
Seharusnya menjadi pendekatan di antara mereka, justru Arkan melarikan diri ke sini dan entah Dira tahu atau tidak tentang kepergiaannya kemari.
“Justru kamu datang ke sini akan menyakitiku, Mas. Di mana tanggung jawab sebagai seorang suami yang meninggalkan istrinya di malam pertama?” Kemarahan Asna sudah di ubun-ubun. Ia menyatakan tubuhnya dan berbalik menghadap sang suami.
Bukan bermaksud melawan atau membantah, tetapi Asna pun berhak memberitahu, jika langkah yang Arkan lakukan salah.
"Dik .."
“Tolong berbuatlah adil, Mas. Malam ini kamu pulang ke rumah Dira, bahagiakan Dira sebagaimana kamu membahagiakan aku,” lirih Asna penuh tangis. Ia memohon pada suaminya agar bisa bersikap tegas.
Layaknya seorang pemimpin yang mengomandokan para karyawan. Dia juga bisa bersikap adil pada seluruh karyawannya tanpa memandang bulu. Sama halnya dengan Asna, dia harus terima Dira seperti menerima dirinya.
Dengan air mata yang masih membasahi, Asna memilih masuk ke dalam, sebelum Imel dan para tetangga mendengar keributan yang ada. Sungguh memalukan jika hal itu terjadi.
Namun, tangan kekar Arkan sudah lebih dulu mencekal dan membuat Asna kembali pada tempatnya.
“Please, Dik, jangan membuat Mas tersiksa.”
Arkan bersuara lembut. Ia tahu jika hati Asna sangat rapuh, tetapi dirinya justru jauh lebih rapuh.
“Lepas, Mas! Jangan membuat aku menjadi istri yang berdosa karena telah menahan kamu di sini.” Asna tetap bersikeras. Ia tidak akan mengizinkan Arkan untuk masuk ke dalam rumah.
“Pulanglah dan lakukan kewajibanmu menjadi seorang suami.”
__ADS_1
Sekuat tenaga, Asna melepaskan cengkeramannya, lalu berlalu masuk dan mengunci pintu. Hatinya bagai tertusuk duri telah mengusir suami sendiri dari rumahnya.
“Dik, buka pintunya, Dik,” kata Arkan sembari mengetuk pintunya. Ia yakin jika Asna masih berdiri di balik pintu.
Asna meringis, tubuhnya pun merosot dan menangis sepuasnya. Menghadapi kenyataan jauh lebih berat ternyata, apalagi tak sejalan dengan keadaan hatinya. Entah ucapan apa, sikap apa yang harus Asna kuatkan kala suaminya masih mengetuk, meminta dibukakan pintu untuk masuk.
Tapi Asna, tidak ingin egois yang keputusan itu telah bulat ia buat, mungkin rasa cinta yang tumbuh agar Dira dan Arkan bisa bersatu, setelah ini rencana Asna terpikirkan. Ia mengusap air mata, dan berjalan ke kamar dengan rapuh.
'Ya Allah beri aku kekuatan juga keluasan hati serta luluhkanlah hati suamiku untuk menjalankan apa yang sudah dia tunaikan,' bisik Asna dalam batinnya.
“Dik, baiklah Mas akan kembali sesuai permintaanmu.”
Pernyataan yang begitu jelas di telinga Asna membuat semakin sesak. Sudah seharusnya begitu dari awal, tanpa datang dan membuat hatinya semakin gundah.
Langkah kaki Arkan begitu gontai. Kepalanya kembali menoleh berharap Asna akan membukakan pintunya, tetapi rasanya tak mungkin dan tidak akan terjadi.
Arkan benar sedih atas takdir yang dijalani sekarang. Mau tidak mau, ia segera meninggalkan rumahnya untuk kembali ke rumah Dira.
Sementara Dira merasa resah karena sudah hampir satu jam Arkan tak juga kembali. Entah ke mana pria itu pergi, rasanya tak mungkin jika kesasar di jalan yang menurutnya sudah hafal.
Dua tahun bersama tak mungkin Arkan lupa, tetapi ia sadar posisinya sekarang sudah berbeda. Pikirannya yang merenung tak karuan pun seketika sadar jika Dira hanya seorang madu dan sudah jelas cinta yang ada, tak akan pernah bisa diberikan untuknya.
Beberapa Jam Kemudian :
“Bang Arkan!” Dira terkejut melihat kedatangan pria yang beberapa jam menjadi suaminya. Raut wajahnya begitu lesu dan ditekuk sudah jelas jika dugaan Dira benar.
__ADS_1
“Abang dari mana?”
“Abang habis cari angin,” katanya berbohong. Sungguh, luka yang pernah digores seolah kembali tercipta.
“Abang nggak berbohong sama Dira, ‘kan?” Dira mengintimidasi pria di hadapannya.
Arkan mendongak, memberanikan diri menatap Dira dengan segudang rasa gundah yang terbendung. Namun, ia bukan pria yang meluapkan emosinya secara terang-terangan.
“Tanpa Abang jawab, kamu pasti sudah paham, Dik,” kata Arkan menghela napas.
Deg!
Dira terpaku. Ucapan Arkan begitu sinis dan tak salah jika dia habis menghampiri Mba Asna. Sungguh, sampai kapan pun Arkan memang tak akan bisa kembali padanya.
Bahkan malam pernikahan yang seharusnya indah ternyata jauh dari apa yang dibayangkan. Apalagi setelah mengetahui siapa pria yang menjadi suami sesungguhnya.
'Kenapa harus kamu yang kembali datang di hidupku, Bang?' lirih Dira dalam hati. Sekuat tenaga melupakan dan ternyata justru dipertemukan.
Awalnya aku rasa menerima takdir, setelah kamu tiada dan mungkin melupakanmu menerima menjadi istri kedua. Tapi jika itu abang, apakah aku bisa merebut cinta itu lagi. Pikiran batin Dira, entah kenapa celos begitu saja.
"Maafkan Dira mba Asna, Dira rasa bang Arkan harus jadi seutuhnya milik Dira." lirihnya, kala Arkan sudah masuk ke dalam kamar.
Tlith!!
Ponsel Dira pun berdering, tak lama panggilan dari tante Yola. Yang berarti itu adalah ibu dari bang Arkan sendiri.
__ADS_1
"Semalam ini, tante hubungi aku setelah sekian lama .. ups! mama mertua meneleponku, apa dia juga terkejut kala pengantin yang mba Asna siapkan, adalah masa lalu putranya." desis Dira, seolah malas untuk menjawab panggilan tersebut.
TBC.