DURI PERNIKAHAN

DURI PERNIKAHAN
TAK BISA BERSAMA


__ADS_3

Asna sudah kembali ke rumah yang terasa sunyi dan sepi, hanya ada Imel yang menemaninya saat ini. Tak ada canda juga kehangatan yang Asna rasakan.


Malam ini, Imel sudah tertidur pulas di sampingnya, tetapi Asna belum juga memejamkan matanya dengan baik. Entah apa yang membuat matanya masih terjaga.


Asna beranjak berjalan menuju balkon yang anginnya terasa dingin. Matanya memandang langit dengan pikiran yang berkecamuk dalam otak. Ia tidak bisa bayangkan melihat suaminya yang tidur bersama wanita lain.


Wajahnya tertunduk dan hatinya rapuh. Kedua tangan yang saling mendekap meredakan hawa dingin di tubuh. Dalam kenyataannya memang tak sanggup dengan apa yang akan terjadi malam ini.


“Mas, aku berharap kamu bisa amanah dengan apa yang sudah kamu ucapkan,” lirih Asna dalam diam.


Langit yang dipenuhi bintang pun tampak bersinar seolah memberi semangat kepadanya, untuk tetap menjadi wanita tegar.


Tak hanya bintang, tetapi ada bulan yang begitu menyinari sekelilingnya dengan seorang diri dan mungkin Asna sesuai posisi bulan itu. Walau kini sendiri, tetapi harus tetap memberikan energi positif juga kebahagiaan kepada yang lain.


Mengembuskan napas dalam, Asna memejamkan matanya sejenak. Ia ingat akan tujuan awal dan semua karena ibadah bukan nafsu belaka.


Ting! Teng!


Asna mendengar suara bel berbunyi begitu nyaring. Entah siapa yang bertamu semalam ini di waktu istirahat. Sebelum memutuskan keluar, Asna memastikan matanya yang sembab, lalu memakai hijab dengan sempurna.

__ADS_1


Mungkinkah ibu mertuanya?


Ah, Asna tidak tahu, sebab ibu mertuanya tadi tidak datang karena kesibukan yang ada. Asna pun berteriak agar sang tamu tidak membuat gaduh di rumahnya, karena dirinya yang terlambat membuka pintu.


Pasalnya, Imel sudah terlelap dan jangan sampai akibat bunyi bel itu membuat Imel terbangun dan tak nyaman dalam mimpinya.


“Iya seben-“


Grep! terbuka pintu.


Asna terkejut kala seorang pria yang tiba-tiba langsung merengkuh. Tubuhnya mematung dan hampir terhuyung karena harus menimpa tubuh yang bobotnya lebih besar dari tubuh Asna.


Beberapa detik pelukan terjadi, Asna pun baru sadar jika kedatangan suaminya seorang diri tanpa ada Dira. Ia tidak mengerti, mengapa begitu nekat seorang Arkan Kainan yang terkenal disiplin dan patuh tentang jadwal pribadi, berani merusaknya begitu saja.


“Mas nggak bisa tidur bersama Dira, Dik,” katanya lemah semakin mengeratkan pelukan bahkan sembari rintihan sesak dalam meyakitkan.


Rasanya tak sanggup harus tidur bersama wanita lain, sedangkan pikiran Mas memikirkan keadaan kamu Dik, juga Imel.


Otaknya hanya ada Asna sehingga ia tidak bisa berpaling, apalagi sampai melakukan sesuatu yang menjadi kewajibannya sebagai seorang suami.

__ADS_1


“Mas, jangan egois!” Asna geram dan melepaskan dekapannya dengan kasar. Ia tidak suka pada Arkan yang labil setelah apa yang sudah menjadi keputusan bersama.


“Kamu nggak bisa meninggalkan Dira begitu saja di malam yang penuh bahagia. Kamu sudah menjadi suaminya dan jangan membuat Dira kecewa, Mas.”


Hati Asna bergemuruh melihat sikap Arkan yang begitu abai. Padahal, ia begitu mengagungkan Arkan di hadapan Dira sehingga memintanya untuk menikah.


Langkahnya maju menapaki teras luar dengan semilir angin yang menusuk tulang. Kesedihannya pun tak bisa menampung banyak air mata di pelupuknya.


“Lebih baik kamu kembali ke rumah Dira dan lakukanlah kewajibanmu sebagai suami, Mas,” lirih Asna menahan tangis. Ia harus kuat dan jangan sampai terlihat lemah di hadapan suaminya.


“Mas nggak bisa, Dik, bayangan Mas hanya ada kamu.” Arkan ikut maju dan tangannya sudah menyentuh bahu Asna agar wanitanya mengerti.


Hubungan suami istri tak bisa dilakukan secara paksa, apalagi tak ada cinta di dalamnya justru akan menyakiti sang wanita. Sebagai lelaki, Arkan tidak ingin menyakiti Dira dan sudah seharusnya dia mendapati lekaki yang lebih baik dari dirinya.


“Lupakan aku untuk malam ini, Mas dan hargai Dira yang sudah menjadi istrimu.”


Bahu Asna bergetar, tak ingin menatap wajah Arkan yang justru membuatnya semakin bersedih.


Grep!

__ADS_1


“Jangan paksa Mas, Dik. Mas nggak mau menyakitimu,” bisik Arkan manja yang kepalanya sudah menopang di bahu Asna. Ia hanya ingin tidur bersama Asna bukan Dira. Terlebih hati Arkan ingin mengatakan sesuatu tentang Dira, sebelum ia meminang Asna kala itu. Apakah setelah tahu, Asna istrinya akan kecewa setelah Arkan bicara nanti yang tak pernah, Arkan sendiri bayangkan ketika Asna, menikahi dirinya dengan wanita masa lalu pahitnya.


TBC


__ADS_2