
“Selama ini pun, tidak mengurangi rasa bahagia kita selama menikah, Dik. Kita bisa melewati semuanya sampai detik ini. Lantas mengapa tiba-tiba kamu mengajukan permintaan seperti itu?” Arkan tak habis pikir dengan permintaan Asna yang tak masuk akal.
Asna beranjak. Langkahnya maju mendekati gagang balkon, menatap langit dengan ribuan bintang yang tampak bersinar.
“Jangan siakan hidupmu hanya untuk menunggu hal yang tak pasti, Mas. Penantian kita sudah tak membuahkan hasil, tak ada jalan lain lagi selain kamu menikah lagi Mas.” Asna menghela napas panjang, mengeluarkan sekuat tenaga beserta hembusan angin yang lewat.
“Mas tetap nggak setuju, Dik. Kita masih punya banyak waktu dan cara yang bisa kita lakukan untuk kamu bisa hamil.” Arkan mendekati, berbicara dengan lembut. Teringat saran temannya yang belum ia coba.
“Cara apa lagi, Mas?” Asna sedikit meninggikan suaranya tak percaya. Dirinya sudah kecewa.
“Kamu lupa setiap cara yang kita lakukan hasilnya selalu negatif.”
Emosi Asna tak bisa lagi terkontrol, rasanya sesak dengan air mata yang terus mengalir tak ada habisnya.
“Aku sudah memikirkan hal ini dengan matang, Mas, dan aku akan menjodohkan kamu pada wanita yang sudah aku siapkan,” kata Asna memberitahu.
__ADS_1
Arkan semakin mematung. Rencana gila yang pernah ia dengar, permintaan untuk menikah saja, rasanya tak sanggup dan sekarang kata perjodohan yang begitu jelas di telinganya, sudah disiapkan oleh istrinya. Entah ide atau kesabaran apalagi, yang keluar dari istrinya ini.
Sungguh, hatinya membara seolah terbakar api panas yang menyengat, ditambah kepalan yang tak terima dengan ucapan istrinya.
“Kamu gila, Dik! Aku nggak bisa terima dan aku nggak setuju!” bentak Arkan sedikit keras.
Hal konyol harus mengikuti permintaan istrinya sampai seapik itu dia merencanakan semuanya. Hati Arkan ingin berteriak kencang. Semuanya hanya perlu kesabaran. Bukankah selama ini dia selalu sabar? Lantas, mengapa tiba-tiba Asna menyerah?
“Iya aku gila karena nggak bisa menjadi seorang ibu, Mas. Kamu tahu harapan aku setelah menikah adalah menjadi seorang ibu. Ibu yang dapat melahirkan dari rahimku sendiri,” isak tangis Asna pecah. Tak mampu lagi tertahan dengan bahu yang bergetar hebat.
Asna tak mampu berkata. Sudah cukup rasanya untuk terus bersabar, entah apa yang salah dengan dirinya sampai Allah memberi ujian kepadanya yang begitu sesak.
“Aku tahu itu, Dik! Tetapi bisakah tanpa menikah? Apa rasa cintamu telah berkurang kepada Mas?” Air mata Arkan ikut mengalir. Rengkuhannya semakin erat, tak sanggup membayangkan jika dirinya kembali menikah.
Hati Asna sesak, tak sanggup melihat tangisan suaminya yang ikut bersedih. Tujuh tahun melewati bersama bukan waktu yang sebentar, ada banyak kisah yang selalu membahagiakan setiap harinya.
__ADS_1
Bahkan, jika suaminya menikah lagi pun tidak ada yang berubah. Asna tetap menjadi istri yang baik untuk Arkan. Pasalnya, semua sudah diatur seapik mungkin dan Allah juga tampaknya merestui.
Sebelumnya, Asna bukan asal mengizinkan tanpa ada campur tangan Allah. Semua yang ia lakukan sudah atas restu dan takdir terbaik dari-Nya.
“Tidak sama sekali, Mas. Justru aku menyayangimu sepenuh hati hingga aku merelakan Mas menikah lagi. Aku hanya ingin menjadi wanita taat yang tak menghalangimu untuk bahagia. Aku bukan wanita yang sempurna untukmu, Mas.”
Asna kembali, menguraikan dekapannya dan membiarkan pipinya basah. Memegang kedua bahu suaminya, memberi kekuatan pada Arkan.
Sakit, hati Arkan mendengarnya. “Begitu antusiaskah dirimu, Dik, sampai rela membagi suamimu sendiri pada orang lain?” tanya Arkan lemah, dan rasa kecewa.
Tenggorokan Asna tercekat. Bibirnya kelu untuk menjawab, bukan lagi masalah rela, tetapi hatinya sudah terlalu sakit karena tak bisa memberikan anak.
“Pikirkan dengan matang, Mas, dan aku akan mempersiapkan pernikahan keduamu!”
"Dik, jangan berkata hal gila lagi. Aku tak ingin dengar!" celos Arkan, ia beranjak pergi mengambil kunci mobil.
__ADS_1
TBC.