
Tangan Arkan sudah mulai berjabat tangan pada sang penghulu. Degup jantung tak karuan dengan manik mata yang tak lepas dari Asna di hadapan.
Mendengar aba-aba dari penghulu, Arkan menguatkan hatinya, lalu dengan lantang berucap, “Qabiltu nikahaha wa tazwijaha bil mahril madzkur haalan.”
Satu kali tarikan nafas pun berhasil Arkan lontarkan dengan baik. Rasa haru juga sendu menyelimuti hatinya. Kini, tanggungjawab Arkan bertambah pada wanita asing yang sudah Asna pilihkan untuknya.
Teriakan sah pun menggema di telinga oleh para saksi juga orang sekitar yang menyaksikan momen sakral ini.
Saat itu pula, air mata Asna menetes di pelupuk mata dengan sendirinya. Ia bangga melihat Arkan yang gentle dan bertanggungjawab. Sekaligus, Asna teringat saat pertama kali mendengar ijab untuk menjadi suaminya.
Kini, kembali mendengar suara lantang Arkan untuk wanita keduanya. Asna cukup haru dan tak mampu berkata apa pun.
“Alhamdulillah, sekarang pengantin wanitanya boleh dikeluarkan, ya,” titah sang penghulu meminta pengantin wanita untuk keluar.
Pasalnya, sebelum ijab tertunaikan, pengantin wanita tidak diizinkan untuk bertemu dan bersanding. Sesuai syariat dan akan dipertemukan setelah sah.
Asna yang mencari keberadaan Dira, tak dapat membendung air matanya. Ia tidak sabar melihat kecantikan juga keanggunan wanita itu.
__ADS_1
Sekarang sudah menjadi keluarga dan adik kakak sungguhan dengan ikatan yang sama. Sebagai seorang kakak, ia akan mengayomi Dira untuk menjadi istri salihah.
Tak lama kemudian, terlihat wanita anggun yang berjalan memasuki ruangan. Wanita itu tertunduk tanpa ingin menoleh pada siapa pun yang didampingi dua wanita di sampingnya, yang mungkin kerabat dekatnya.
Asna memerhatikannya dan Dira tampak cantik dengan gaun buatan tangannya. Pertama kalinya Asna membuat gaun pengantin dalam waktu singkat.
“Kamu cantik, Ra,” lirih Asna melihat Dira yang semakin mendekat.
“Mba Asna.”
Sungguh, ia tidak menyangka akan menjadi istri kedua bahkan kini sudah sah dan tepat di belakangnya sudah ada sosok pria yang entah siapa dia.
“Kamu kenapa ke sini, Ra?” Asna terkejut dengan Dira yang tiba-tiba menghampiri. Padahal, seharusnya dia menemui Arkan sebagai suami sahnya.
“Dira ingin meminta maaf, Mba. Maafin Dira,” kata Dira yang masih menggenggam tangan Asna dengan tubuh membungkuk.
Bahkan rasanya tidak ingin bangun. Ia jahat sekali menjadi wanita yang telah mengambil suaminya.
__ADS_1
“Kamu nggak salah, Ra. Saya ikhlas dan ridha. Ini sudah menjadi keputusan saya. Bangunlah!” Tangan Asna mengulur memegangi punggung Dira untuk bangkit.
Air mata membanjiri karena tangisan Dira yang membuat hati Asna ikut menjerit. Sedih itu pasti, tetapi untuk rasa sakit Asna sedikit meminimalisir tidak mengenyampingkan egonya.
Mungkin Asna merupakan wanita yang dipilih Allah untuk menjadi kuat. Di saat wanita lain tak mampu berbuat sejauh ini, tetapi Asna jauh dari kata mampu.
“Ini hari bahagiamu, Ra. Tersenyumlah Sekarang, lebih baik temui suamimu yang sudah menunggu,” bisik Asna tepat di lorong telinganya.
Hati Dira tertegun, ia belum sanggup berhadapan dengan suaminya sekarang. Apalagi suami itu merupakan suami Mba Asna.
“Mba,” rengek Dira yang merasa belum siap.
Saat itu, Asna merangkul lengan Dira dan mengajaknya berdiri, memang sangat tak mudah untuk Dira, tetapi semua sudah berjalan penuh khidmat.
'Ya rabb, jadikan aku wanita yang ikhlas dan sabar, menerima takdir.' batin Asna bergumam, menatap madunya.
TBC.
__ADS_1