DURI PERNIKAHAN

DURI PERNIKAHAN
MENERIMA JADI MADU


__ADS_3

Dan kini, Asna dan Dira yang mengaduk teh, menyadarkan lamunan diantara keduanya akan tiga minggu lalu, mereka debat meminta tawaran.


Asna begitu percaya karena memang sudah mengetahui seluk beluk wanita itu dan sebelum meminta suaminya menikah, banyak ilmu yang Asna pelajari mengenai poligami sehingga jatuhlah wanita pada Dira.


Wanita itu masuk ke dalam kategori yang Asna cari juga tidak terlalu menimbulkan konflik dalam rumah tangganya. Ia yakin dengan kehadiran Dira, Asna dan Arkan bisa semakin harmonis menjalani rumah tangga.


Apalagi Dira merupakan gadis yang usianya cukup matang, untuk menikah bahkan rahimnya telah siap untuk dibuahi.


“Lalu apa kamu sudah memberikan jawaban kepada pria yang melamarmu?” Asna teringat akan pria yang masih menunggu jawaban Dira.


Sesuai syariat seharusnya Dira lebih dulu memberi jawaban kepada pria itu, tetapi entah mengapa Dira justru memberikan jawabannya kepada Asna.


Dira menggeleng. “Nanti malam, saya baru mengajak dia datang ke rumah.”


Asna mengangguk dan ia akan ikut bersama Dira untuk menemui pria itu sekaligus meminta izin pada ibunya. Ia bertanggung jawab atas semuanya, sebab Asna yang meminta.


Sedari tadi, tatapan Dira tak lepas pandangan dari Asna. Ia memikirkan perasaan wanita di hadapannya yang tak bisa Dira lihat.


Entah, dia benar bahagia atau sedang berpura-pura bahagia karena jawaban Dira yang mungkin menusuk hati. Sesama wanita, Dira tahu betul jika poligami itu tidak mudah. Apalagi harus berbagi suami di setiap harinya.


Dira sendiri membayangi saja tak sanggup, tetapi niatnya hanya ingin menolong Mba Asna. Kebaikan yang selalu diberikan juga jawaban yang menguatkan membuat hati Dira bertolak belakang dari impian.


“Baik, Mba kalau gitu saya lanjutkan pekerjaan lagi, ya,” kata Dira dan permisi pada atasannya itu. Beberapa hari tak masuk membuat banyak pekerjaan yang terbengkalai.


Sedangkan Asna meringis dalam hati. Kedua pasangan sudah setuju, tinggal tugas Asna mempersiapkan apa yang harus dipersiapkan.


Ia melanjutkan beberapa laporan pemasukan bulan kemarin yang signifikan, sembari mencari beberapa kebutuhan suaminya juga Dira.


Tak lupa memberi pesan kepada Arkan jika pulangnya sedikit terlambat sehingga dia tidak perlu menjemputnya nanti.


Setelah mendapat persetujuan, hatinya terasa lega. Arkan juga tidak bertanya ke mana perginya Asna dan meskipun bertanya, Asna tidak akan memberitahunya.


Hampir seharian bergelut depan layar membuat waktu tak terasa berputar. Dari mulai matahari yang menyorot ruangannya sampai redup Asna belum juga beranjak. Ia berhasil menyelesaikan semua pekerjaannya termasuk beberapa desain untuk para pelanggan yang kemarin tertunda.


Langit pun sebentar lagi akan berubah gelap, Asna segera beranjak untuk memberikan hasil desain kepada produksi agar segera diproses. Ia pikir keadaan butik sudah sepi dan ternyata masih diramaikan oleh pengunjung.

__ADS_1


“Bu Asna belum pulang?” sapa karyawan Asna ramah.


“Saya baru menyelesaikan desain terakhir ini, tanggung jika harus ditunda besok.” Asna sembari melirik arloji di tangan kirinya.


“Seperti biasa jam enam sore butik harus tutup, ya.”


Asna memberi peringatan kepada karyawannya, sebab kasihan mereka sudah hampir seharian melayani para pengunjung. Sudah saatnya matahari terbenam pun mereka beristirahat dengan tenang.


“Baik, Bu.”


Asna melangkah menuju ruang produksi. Ia memberitahu desain terbaru sekaligus mengecek barang yang sudah siap untuk dikirimkan kepada customer.


“Oh, iya, Bu, tadi ada pelanggan, ada yang minta tambah mutiara di bagian lengannya dan bagian pinggangnya sedikit dibesarkan.”


“Nggak apa, kamu turuti saja, ya. Jangan sampai membuat pelanggan kita kecewa.”


Asna selalu mengingatkan dan tetap bersikap lembut, tidak memerintah karyawannya. Bahkan, seringkali Asna ikut turun juga ke bagian produksi jika overload pesanan dan dikejar deadline.


Sang karyawan pun mengangguk dan Asna kembali ke ruangan. Sebelum itu, ia mampir ke ruangan Dira untuk melihat pekerjaannya.


“Tapi, Mba, saya belum menyelesaikan ini.”


Dira menunjukkan kertas yang belum dikerjakan setengah. Baru saja memulai dan terkejut melihat kedatangan atasannya tiba-tiba.


“Lanjutkan besok, Ra!”


Mendengar kalimat atasannya sekaligus perintah. Dira pun segera merapikan barang dan mengambil tas mengikuti langkah Mba Asna.


Di saat tatapan para karyawan mengernyit heran, Dira merasa biasa saja dan tetap ramah menyapa mereka.


Belum sampai pada ruangan Mba Asna, ternyata beliau sudah lebih dulu ke luar ruangan mengunci pintu. Kemudian, memberi pesan kepada salah satu karyawan yang menjaga butiknya.


“Saya pulang duluan sama Dira, ya!” Kalimat Asna sebelum benar meninggalkan butik.


Sebagian sudah tahu jika Dira merupakan tangan kanan Asna, tak heran jika Dira sering diajak ke mana pun Asna pergi bahkan memilih pulang duluan seperti sekarang.

__ADS_1


Jarak yang ditempuh tidak terlalu lama, hanya belasan menit sudah sampai rumah Dira, terlihat wanita paruh baya berdiam di ambang pintu menunggu kedatangan sang putri tercinta.


“Ibu kenapa di luar? Ibu ‘kan baru saja sembuh!” Suara Dira begitu lembut dan perlakukan terhadap ibunya sungguh membuat hati Asna tersentuh.


“Ibu menunggumu, Ra.” Jawaban sang ibu singkat, hanya ingin memastikan putrinya pulang dengan selamat.


Saat Dira bergeser, Asna mulai menampakkan wajahnya. Ia langsung mengulurkan tangan dan bersalaman pada ibunya Dira.


“Ya Allah, Nduk, terima kasih sudah mau mampir ke gubuk ibu,” kata ibu Dira tak enak hati.


Dira pun mempersilakan masuk dan Asna menelisik rumah Dira yang cukup miris. Wanita itu sangat sederhana dan pertama kalinya melihat kondisi rumah Dira apa adanya.


Tak lama kedatangan Asna, terdengar suara seseorang yang berada di depan rumah. Saat itu Dira menghampiri dan menjawab salamnya.


“Mas Reno. Silakan masuk, Mas!” Dira sedikit terkejut. Padahal janjinya malam, tetapi dia sudah lebih dulu datang dari waktu yang telah ditentukan.


“Maaf, jika kedatangan Mas terlalu cepat, sebab nanti malam Mas akan terbang ke Ternate karena ada urusan bisnis.”


Sebelum Dira bertanya, ternyata pria itu lebih dulu peka dan menjelaskan tentang kedatangannya. Bahkan, Dira juga tidak tahu apa pekerjaan pria itu, hanya saja ibu yang mengenalinya.


Dira juga tak gesit bertanya atau antusias mengetahui seluk beluk pria itu. Hatinya berat dan belum sepenuhnya percaya pada orang baru. Terbukti, hasil jawaban istikharahnya tak menunjukkan padanya.


“Sebelumnya Dira juga meminta maaf sama Mas. Tujuan Dira meminta Mas datang ke sini untuk memberi jawaban atas permintaan Mas satu minggu yang lalu.” Dira mendongak sedikit melirik ke arah pria, yang tampak tegas dan berwibawa.


Sudah jelas dia tampan dan berada di depan mata, tetapi entah mengapa sinyal Dira tak memberi respon kuat kepadanya.


“Dira minta maaf yang paling dalam. Dira... menolak lamaran Mas Reno.”


Asna yang mendengar kalimat Dira, rasa hatinya bagai dihantam timah panas. Di balik pintu, Asna tak melihat pria yang melamar Dira. Berdosakah dirinya telah menyakiti pria itu? Sungguh, tak kuasa melihat tatapan pria itu yang sedikit kecewa. Ia hanya mendengarkan keduanya di balik dapur sembari isak tangis yang tak berhenti.


“Ibu sudah tahu tentang niat Dira, Nduk.”


Deg! Hal itu membuat Asna terdiam, mendengar ibu Dira yang mendekat ke arah Asna.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2