
"Ibu, maaf jika sa-ya. Telah membuat pikiran Dira berubah." menunduk Asna.
Detak jantung Asna bergemuruh. Ia belum mengatakan apa pun pada ibunya Dira, dan entah sejak kapan beliau memerhatikan dirinya di sini.
“Ibu agak kecewa karena takdir Dira yang harus dipilih.”
Asna semakin sesegukan. Sungguh, ia tak bisa berkata apa pun, lagipula orang tua mana yang rela melihat putrinya menjadi istri kedua. Rasanya tidak ada yang mampu, pasti hal itu juga terjadi pada ibu Asna sendiri.
Namun, bagaimana jika sudah menjadi takdir? Asna sendiri belum memberitahu orang tuanya mengenai pernikahan kedua suaminya. Jika ibunya tahu, pasti sama halnya seperti ibu Dira, akan kecewa. Apalagi semua itu ia yang siapkan."
Dalam rumah tangga, suami yang menikah hanya perlu mendapat restu istri pertama, bukan orang tua dan Asna pikir tidak perlu memberitahu pun pernikahannya, akan tetap sah.
“Maafkan saya, Bu,” lirih Asna bersimpuh di kaki ibunya Dira.
Entah beliau tahu dari mana, padahal kata Dira belum mengatakan apa pun, pada ibunya dan malam ini Asna berniat mempertanggung jawabkan semuanya.
“Saya nggak bermaksud merebut kebahagiaan Dira. Saya pun memberi waktu Dira untuk mematangkan pilihannya.”
Asna kembali menjelaskan. Ia tidak tega melihat wanita paruh baya di hadapannya begitu sendu dan penuh kecewa.
“Ibu paham, Nduk. Ibu nggak tahu lagi harus bagaimana, semua yang menjalani Dira dan seluas apa hatimu sampai begitu ikhlas meminta Dira menikah dengan suamimu sendiri.”
Kini ucapan wanita paruh baya semakin diperjelas, dan bibir Asna seakan kelu, tak mampu menjawab. Asna pun hanya mengambil lengan ibunya Dira dan mengecupnya penuh takzim.
Ia menangis tersedu dan memohon restu agar sang ibu, mengikhlaskan pernikahan Dira bersama suaminya. Hal ini justru akan menjadi pernikahan pertama untuk putrinya sendiri.
“Saya hanya menjalankan syariat Islam yang dibenarkan, Bu. Saya wanita kekurangan yang tak bisa memiliki keturunan, sedangkan suami saya, sangat butuh keturunan juga pendamping untuk melanjutkan hidupnya sehingga hati saya memilih Dira untuk menjadi madu saya. Bahkan, bukan hanya hati, tetapi petunjuk dari Allah pun mengatakan hal yang serupa.”
Lagi-lagi Asna mengutarakan usahanya selama beberapa minggu, sebelum mengambil keputusan, yang agak berat ini.
Wanita di hadapan Asna semakin terisak. Ia pun mendekap tubuh Asna begitu erat, dan mulia sekali hati yang dimilikinya.
Saat itu pula, ibu Dira menceritakan sebab putrinya yang selalu menolak lamaran pria yang datang. Belum juga bertemu, tetapi Dira sudah mengatakan tidak mau dan yang terakhir pernah bertemu sekali, dan ibu meminta dengan benar untuk Dira lebih serius meminta petunjuk.
Di samping itu, ibunya pun tidak tahu jika Dira mendapat tawaran menjadi istri kedua oleh atasannya sendiri. Jika diperhatikan, Asna memang sangat baik dan memiliki hati yang tulus.
“Ya Allah, Nduk, nggak mudah menjadi wanita sepertimu, Nduk. Ibu saja belum tentu sanggup jika melakukan hal yang sama,” kata Ibu dengan air mata yang masih mengalir.
“In syaa Allah sebuah perintah dari hati dan takdir saya, tak mungkin bisa mengelak, Bu. Di samping itu pun saya terus berdoa dan meminta yang terbaik. In syaa Allah, ini jalan terbaik untuk saya dan suami.”
Sudah tak sanggup lagi berkata, keduanya saling mendekap dan tanpa diketahui, ada Dira yang berdiri, mendengar beberapa kalimat terakhir yang membuat hatinya menderu.
__ADS_1
“Ibu ...,” lirih Dira, lalu bersimpuh di kakinya. Ia mengecup kedua kakinya, karena pilihannya yang begitu kuat.
“Bangunlah, Nduk. Maafkan Ibu sudah terlalu memaksamu. Sekarang Ibu serahkan semuanya padamu, Ra, karena kebahagiaan itu datang dari dirimu sendiri. Ibu hanya bisa berdoa untuk kebaikan kamu ke depannya.”
Ibu mengungkap kedua pipi Dira dan mendukung apa yang menjadi keputusannya. Walau ia sudah tahu, tetapi rasanya ingin mendengar langsung dari putrinya yang tidak ada lagi kebimbangan.
“Ibu tahu dari mana dengan masalah ini. Padahal, Dira belum berbicara pada Ibu.” Dira semakin merasa bersalah karena menyembunyikan masalah ini darinya, sebab tidak ingin membuat ibunya menjadi beban.
“Maafkan Ibu, Ibu tak sengaja mendengar keluh kesah di sepertiga malam Mu, dan akhir akhir ini pikiranmu juga tak fokus, Ra.”
Sebagai seorang ibu memiliki insting yang begitu kuat. Apalagi apa yang terjadi terhadap putrinya sendiri.
Walau Dira selalu mengatakan baik-baik saja, tetapi hati dan matanya tak bisa berbohong. Ibu bisa merasakan hal itu.
Melihat kasih sayang seorang ibu kepada putrinya. Asna berjanji akan menjaga Dira dan memberikan kebahagiaan yang layak seperti seorang istri seutuhnya. Resiko Asna mungkin akan lebih banyak mengalah nantinya.
Ia tidak menyangka jika respon ibunya Dira sangat positif, dan menyetujui permintaan Asna yang dianggap konyol. Tentang ke depannya biar menjadi urusan nanti, dan sekarang Asna hanya fokus untuk membuat mereka bisa bersatu.
Setelah saling berbincang lama, Asna pun pamit pulang karena anak dan suaminya sudah menunggu. Waktu juga semakin larut membuat Asna sedikit bersalah karena mengabaikan keluarganya di rumah.
***
Di Rumah.
“Malam sekali, Sayang, kamu pulang naik apa?” Arkan memunculkan wajahnya sedikit di luar pintu, dan tidak ada kendaraan yang berhenti di depan rumahnya.
“Iya, maaf, Mas, aku baru selesai. Tadi naik taksi.” Asna bersikap sopan dan rasanya terbalik, jika Asna baru pulang di waktu jam sepuluh.
Memang tidak terlalu malam, tetapi perasaan Asna tak enak hati, karena selalu lebih dulu suaminya yang pulang daripada dirinya.
“Imel sudah tidur, Mas?” tanya Asna yang sudah bergelayut manja pada bidang suaminya.
“Kayanya belum deh, tadi dia bilang mau mengerjakan tugasnya,” kata Arkan memberitahu.
Asna mengangguk, lalu meminta Arkan agar dirinya bebersih terlebih dahulu setelah itu menyiapkan makan malam singkat, sepertinya mereka belum makan.
Usai bebersih, Asna kembali turun, terlihat ada Imel juga suaminya, yang menunggu di ruang makan.
“Maaf, Bunda baru datang.” Ia menghampiri Imel dan mengecup kening putri kecilnya.
Asna merasa berdosa jika pulang malam seperti ini, membiarkan suami dan anaknya terlantar di rumah seperti sekarang. Entah bagaimana menebus rasa bersalahnya kepada mereka, yang tak pernah memberi komentar.
__ADS_1
“Nggak apa, Bunda, Imel mengerti. Lagipula ada Abi yang gantian menjaga Imel,” celoteh anak itu sembari melirik abinya yang duduk di samping.
“Iya, Bunda. Sudah jangan terlalu dipikir, ya. Lebih baik kita makan, karena Imel sedari tadi menunggu bundanya,” kata Arkan memberi pengertian pada Asna.
Ia pun tak marah padanya. Lagipula bukan setiap hari Asna pulang larut, tetapi bisa terhitung oleh jari dan Arkan masih mengizinkan.
Setidaknya masih ada tanggung jawab Asna sebagai seorang istri. Wanita itu juga selalu bangun lebih pagi, untuk mempersiapkan kebutuhannya.
Lagi-lagi Asna dibuat haru dengan jawaban kedua berlian, yang membuat hatinya terenyuh. Beruntungnya memiliki mereka berdua yang selalu memberi semangat kepadanya.
Setelah makan, Asna berbincang bersama mereka di ruang tamu. Biasa dilakukan sebelum tidur, tak lupa memberi kasih sayang kepada Imel yang saat ini tidur dalam pangkuannya, juga Arkan yang ikut bersandar di bahunya. Dan Imel, dipindahkan ke kamarnya. Sehingga Mereka sudah berpindah di kamar utama, Arkan membuka piyamanya duduk di atas kasur
“Keadaan kantor aman, Mas?” tanya Asna pada suaminya.
“Aman, Sayang.”
Asna sedang mencari waktu untuk bisa mengungkapkan tujuannya, kepada Arkan. Ia juga memastikan jika Imel sudah benar terlelap di kamar sebelah..
“Mas, aku ingin mempercepat pernikahan keduamu.”
Arkan yang mendengar langsung bangkit dan matanya saling menatap, menelisik ketulusan yang begitu besar seakan sirna, mendengar kalimat yang membuat dirinya terdiam. Detak jantung suami mana, yang dibuat gemetar menatap istrinya begitu tenang.
“Kamu serius, Dik?” Arkan begitu lekat mencari kejujuran di mata Asna.
Asna mengangguk tak takut, akan penolakan Arkan kesekian kalinya. Pria itu sudah menyetujui dan segala persiapan pun sudah Asna siapkan.
“Tidak baik untuk menunda hal baik, Mas. Lagipula lebih cepat lebih baik pula kamu bisa mendapat keturunan.” Asna penuh mohon pada sang suami.
“Tapi, Dik? Mas butuh waktu.”
“Satu minggu dari sekarang, Mas, karena aku sudah cetak undangan,” tutur Asna memberitahu secara mendadak. Ia meletakkan tangan Arkan, di atas kepalanya.
Arkan terkejut dengan mata yang membola hampir keluar. Ia tak habis pikir jika Asna sudah sedetail itu.
“Kamu hanya perlu siapkan diri dan mental saja untuk menyambut hari bahagiamu, Mas.”
Duar!
'Bukan ini yang Arkan inginkan,'
Bagai tersambar petir, belum tentu bahagia, tetapi Asna tampaknya begitu antusias dengan pernikahan ini. Sepertinya dia juga sudah merencanakan semua dari jauh hari.
__ADS_1
“Ya Allah, Dik, haruskah secepat itu?” mata Arkan begitu sendu, wajahnya pias. Apakah ia sanggup dan bisa adil nanti.
TBC.