DURI PERNIKAHAN

DURI PERNIKAHAN
MEMBUAT GAUN


__ADS_3

Tidak ada yang menyangka, bahkan kehidupan siapapun tidak ada yang ingin berlanjut pernikahannya ada duri dalam bahtera menerpa, tapi Asna yang sudah takut akan umur yang tidak bisa membuat suaminya bahagia, maka ia rela dengan ikhlas mencoba menjadi wanita yang lebih baik lagi menerima takdir.


Bahkan Asna sudah menggunakan perhitungan dirinya. Kebetulan, minggu depan tanggal yang bagus untuk melakukan pernikahan dan in syaa Allah akan menjadi keberkahan dalam rumah tangganya.


“Aku sudah mengatur semuanya, Mas, kamu hanya duduk manis dan terima beres.” Ia memang tak mengatakan pada suaminya tentang hal ini.


Lagipula jika bertanya pendapat padanya, justru dia akan menolak dan terus mengulur waktu. Namun, jika Asna sudah menebak waktu yang ditentukan, Arkan tak bisa lagi menolak selain menerima.


Bahkan, Asna pun sengaja tak memberitahu siapa wanita yang akan dinikahinya nanti. Arkan dapat melihatnya saat pernikahannya berlangsung.


“Tak usah risau, Mas. In syaa Allah dia wanita yang baik sepertiku,” kata Asna sedikit memberitahu, tetapi biarkan suaminya penasaran.


Arkan tak banyak berbicara. Ia hanya mendengarkan celoteh Asna yang membuat bibirnya malas untuk berdebat.


Ia sedang berusaha meyakinkan hatinya untuk bersikap adil. Entah siapa wanita itu, apakah dirinya mengenal atau tidak, hanya Asna yang mengetahui? Namun, ia percaya pada istrinya jika semua pilihannya adalah yang terbaik.


Arkan juga tak bisa menjamin jika akan mudah jatuh cinta pada wanita itu. Di hatinya sekarang, hanya ada Asna seorang.


Kini, Asna sudah terbaring di atas ranjang yang diikuti oleh Arkan. Selama ini memang tidak pernah membuat masalah dan selalu damai, dalam menjalani rumah tangganya.


Di saat Asna sudah memejamkan mata, berbeda dengan Arkan yang masih terjaga. Wajahnya menatap ayu sang istri begitu lekat memerhatikan keseriusan yang ada.


'Dik, mengapa kamu harus mengambil jalan yang belum tentu aku mampu?' Arkan menggerutu dalam batinnya.


Setiap bertemu dengan ibu, memang yang selalu menjadi perbincangan adalah masalah momongan, dan entah mengapa untuk kali ini dia menyerah. Apakah semua karena ibu, kamu melakukan semua ini?!


Tangannya terulur, mengusap lembut pipi Asna yang mulus. Lamanya mengenal, tahu betul sikap istrinya yang begitu sabar. Bahkan, selama ini tak pernah memedulikan omongan orang lain. Asna sendiri yang justru menguatkan Arkan karena ucapan mereka yang begitu menyayat.


“Dik, apa nggak bisa kamu tarik lagi ucapanmu. Biarkan kita hidup seperti biasa adanya.” Arkan kembali merintih. Ia sangat menyayangi Asna dan tidak ada sedikit pun hatinya untuk mendua.


Kini tangannya merapat pada tubuh Asna, merengkuh erat dan mencari kenyamanan untuknya dan sama sekali tidak membuat sang empu terusik.


Waktu pun terus berjalan membuat kedua pasangan itu kembali melakukan aktivitas. Tidak ada beban dalam diri Asna dan selalu tersenyum saat berhadapan dengan Arkan.


Sungguh, terbuat dari apa hatinya, tampaknya Asna begitu tegar dan tak ada wanita yang mampu sepertinya.


“Kamu harus jaga kesehatan, Mas. Seminggu lagi menuju hari bahagiamu dan in syaa Allah mulai hari ini aku sudah di rumah sebelum kamu pulang.” Asna memberitahu sang suami.


Ia akan meluangkan waktu untuk merawat suaminya, memastikan kesehatan yang menjadi paling utama dalam pernikahan. Memang bukan yang pertama, tetapi akan menjadi pertama bagi Dira.


Cup!


“Jangan bahas itu saat bersamaku, Sayang!” Arkan mengecup kening Asna. Ia tidak ingin momen saat bersamanya diganggu dengan percakapan yang tidak enak hati.


Rasanya Arkan ingin segera melewati hari itu dan, jika bisa jangan sampai ada hari yang selalu ditunggu Asna.


“Inginku hanya ingin selalu bersamamu.”

__ADS_1


Tatapan penuh cinta Arkan begitu lekat. Tujuh tahun bersama, menjalani bahtera rumah tangga dengan rasa cinta yang begitu besar.


Arkan tak pernah berubah, apa pun keadaan Asna, ia tetap menerima. Sebab pernikahan merupakan melengkapi segala kekurangan dan Arkan tak masalah dengan segala kekurangan Asna.


Daripada memikirkan kekurangan, lebih baik fokus menata hati dan diri untuk ke depannya. Namun, berbeda dengan Asna yang lebih mengkhawatirkan dirinya.


“Aku akan tetap bersamamu, Mas,” sahut Asna.


'Hanya saja sedikit beda dari biasanya, kita akan memiliki anggota baru.' Asna melanjutkan dalam hati.


Kecintaan Asna lebih besar pada Sang Maha Pencipta, ia mengutamakan ibadah dan kewajibannya menjadi seorang istri. Memang bukan istri yang sempurna, tetapi Asna berusaha menjadi istri salihah yang di cemburukan para bidadari surga.


***


Esok Harinya.


“Ayo, kita turun. Imel sudah menunggu.”


Senyum Asna merekah setelah memastikan pakaian Arkan rapi dan wangi. Dasi yang bertengger di leher pun sudah memajang dengan sempurna.


Usai mengantarkan keduanya ke depan rumah, Asna segera bersiap. Ia akan melanjutkan rencananya demi acara yang diinginkan.


Setelah itu, ia langsung melajukan mobilnya menuju outlet dan butik. Seperti biasa, berhenti beberapa menit bahkan jam untuk memantau pekerjaan karyawannya.


“Wah, para karyawanku rajin sekali, baru buka sudah sibuk di dapur semua,” celetuk Asna melihat beberapa karyawan yang berkumpul di dapur.


“Alhamdulillah, perlu saya bantu?” Asna senang melihat toko roti, yang berkembang pesat, bahkan semua kalangan banyak yang suka.


Tidak menyangka bisa menjadi sebesar ini. Awalnya hanya coba-coba dan ternyata menjadi usaha yang membawa berkah. Asna pun mengikuti zaman sehingga selalu ada varian dan bentuk baru rotinya agar tetap disukai oleh masyarakat.


Kali ini, bentuk roti yang mini telah menjadi favorit, sebab selain mungil dan mudah di makan juga cukup rasanya di kantong para pelajar.


“Tidak perlu, Bu. Ibu duduk manis saja. Lagipula Ibu sudah rapi nanti kotor, Bu,” kata karyawan yang tidak mengizinkan bosnya turun tangan.


Walau sudah terbiasa baginya, tetapi para pekerja dapat menyelesaikannya sendiri dan seorang bos hanya perlu memantau.


“Kalo gitu biar saya yang melayani pembeli,” timpal Asna yang melihat ada beberapa pembeli menunggu di depan.


Kebetulan, tidak ada yang menjaga dan bagian kasir pun ikut membantu di dapur. Mereka selalu tak memberitahu jika ada pesanan banyak, padahal tidak ada salahnya berbicara dan Asna bisa membantunya.


Di Kantor :


Sementara di kantor Arkan fokus menjelaskan tentang prodak yang tersedia kepada para klien. Perusahaan Arkan sendiri bergerak di bidang manufaktur yang di mana ia menyediakan kayu belum jadi untuk diproses menjadi bahan jadi.


Arkan memiliki kebun pohon jati beberapa hektar yang menjadi usahanya sampai sekarang. Meski sebagian perusahaannya memproduksi kayunya, tetapi kebanyakan para klien bekerjasama untuk meminta kayu yang baru setengah jadi.


“Untuk pengiriman dipastikan aman, ‘kan, Pak?”

__ADS_1


“In syaa Allah aman, Pak. Kami pun menyediakan beberapa supir untuk siap mengantar pesanan Bapak, selamat sampai tujuan.” Arkan selalu ramah dan profesional dalam bekerja.


“Oke deal, Pak Arkan.” Sang klien mengulurkan tangan untuk saling berjabat.


Arkan pun menyambut dengan senang. Pasalnya, perusahaan kayu jati Arkan memang sudah diketahui banyak orang dan dikenal akan kualitasnya. Dibangun berjalan hampir tujuh tahun dan cukup memiliki banyak relasi bisnisnya, menurun sejak sang ayah pensiun maka Arkan lah yang terjun menerusi.


“Semoga kerjasama kita berjalan lancar, ya, Pak!”


Arkan mengangguk. Itu yang selalu diharapkannya, menjalin relasi bisnis dengan kepercayaan yang ada.


Kini beralih pada Asna yang sudah berpindah tempat. Wanita itu memang luar biasa tangguh, selalu bisa membagi waktunya dengan tepat.


Ia sedang berkutat di ruangan membuat desain gaun keinginannya, yang sedikit lagi selesai. Sebagian polanya juga sudah terangkai rapi di rumah. Ia membuat sepenuh hati dan sangat hati-hati untuk hasil yang sempurna.


Tak ada bosannya selalu bergelut dengan kertas dan pensil, karena memang merupakan dari separuh jiwanya. Bahkan, rata-rata semua baju Imel pun buatannya sendiri.


Jangan heran jika posisi Asna selalu berada di depan mesin jahit, atau kertas karena itulah hobi yang sesungguhnya.


Di ruangannya pun tak terlepas dari mesin jahit khusus dirinya untuk menyelesaikan tugas pribadi seperti sekarang. Ia sudah kembali menjalankan mesin jahitnya untuk menyempurnakan bahan yang masih berbentuk persegi panjang.


Took Took!!


“Maaf, Mba ada yang bisa saya bantu?”


Asna menoleh dengan bibir yang melengkung, terlihat Dira sudah berada di ambang pintu karena tadi memanggilnya.


“Saya ingin meminjam tubuh kamu, Ra, untuk mengukurnya karena ada klien yang ingin dibuatkan baju, tetapi tak bisa datang kemari. Kebetulan tubuhnya sama dengan kamu.”


Asna bangkit, lalu meminta Dira untuk masuk. Saat itu, Asna bergerak gesit melakukan pengukuran mulai dari lingkar atas, lingkar leher, sampai panjang baju yang dibutuhkan.


“Mba yang menjahitkan sendiri?” tanya Dira melirik ke arah mesin jahit yang penuh dengan bahan.


“Biasanya juga seperti itu, Ra, jika permintaannya khusus.” Asna menimpali dengan tenang.


“Oh, iya kamu persiapkan diri, ya, seminggu lagi menuju hari bahagiamu.”


“Apa?” Dira terkejut mendengar penuturan mba Asna yang membuatnya hampir melompat.


Tanpa berbicara padanya dan beliau sudah memutuskan. Bahkan, baru kemarin meminta restu pada ibu.


“Saya nggak setuju, Mba.” Dira menolak langsung tanpa memedulikan perasaan Asna.


Asna menghela napas, lalu kembali duduk merapikan catatan yang baru saja ditulis.


“Apa alasannya? Terlalu cepat atau kamu tidak siap?” tanya Asna.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2