DURI PERNIKAHAN

DURI PERNIKAHAN
KEBAYA UNTUK MADU


__ADS_3

Asna merutuk dirinya karena hampir saja dilaknat oleh para malaikat. Sungguh, sama sekali tak bermaksud menolak.


“Maafkan Asna, Mas!”


“Mas sudah memaafkan mu. Senyum dong!”


Arkan berdiri di hadapan Asna dengan melengkungkan kedua sudut bibirnya untuk tersenyum. Ia tidak suka melihat wanitanya yang bersedih seperti itu.


Dan hari pun, terus berjalan dan pernikahan kedua suaminya sudah berada di depan mata. Tidak ada yang berubah dan justru kehangatan rumah tangga semakin erat.


Seminggu ini, Asna benar menghabiskan waktu di rumah dan menyambut suaminya dengan ceria. Hal sederhana pun selalu tercipa membuat Arkan semakin betah di rumah.


Tidak ada kesibukan yang Asna lakukan selama Arkan di rumah, waktunya benar diberikan kepada Arkan juga Imel.


“Lusa hari pernikahanmu, Mas. Kamu harus siap,” kata Asna memberitahu. Ia sudah siap mental juga hati untuk mengantarkan pangerannya menuju gerbang kebahagiaan kedua. Tidak ada yang salah, semua sudah sesuai porsi dan takaran kemampuannya.


'Aku tidak akan pernah siap, Dik.' Arkan menyahut dalam hati. Terlalu cepat baginya dan bukan keinginannya melihat orang ketiga masuk di antaranya.


“Hari ini izinkan aku untuk ke butik, ya, Mas. Selain itu, aku juga mau mengambil surat undangan.” Asna berbicara lembut sembari membenarkan dasi Arkan yang bertengger di leher.


“Kamu mengundang banyak orang?” Arkan tidak tahu menahu tentang ini. Bahkan, pernyataan jika dia telah mencetak undangan, Arkan tidak sempat bertanya karena malas membahas.


Asna menggeleng. “Hanya keluarga calon mempelai wanita juga kerabat dekat. Ibuku dan ibumu juga sudah tahu. Lusa mereka akan datang.”


Ia menceritakan apa yang sudah Asna persiapkan. Semuanya memang tak melibatkan Arkan, termasuk memberitahu ibunya masing-masing.

__ADS_1


“Kamu beritahu ibu, Dik?” Arkan terkejut mendengar penuturan Asna yang membuat jantungnya bergemuruh.


“Iya, Mas, ibumu juga berhak tahu.” Asna menjawab begitu santai. Bahkan, mereka wajib mengetahui jika putranya akan menikah lagi.


Terlepas itu, mungkin ibu bisa bahagia melihat putranya menikah dengan wanita yang jauh lebih subur dan sempurna darinya. Itulah batin Asna yang yakin ibu mertuanya bahagia. Lagi pula, ketidak sempurnaan dirinya maka Asna memang harus siap dengan hal seperti ini.


Arkan menahan amarah. Ia tidak setuju, bukan karena tidak menghormati sang ibu, tetapi ibu sudah terlalu banyak menyakiti Asna karena ucapannya. Ibu selalu tak bisa menahan diri.


“Tidak seharusnya kamu mengatakan ini padanya, Dik!” Arkan menghela napas kasar. Ingin segera lepas dari masalah ini.


“Nggak apa, Mas. Ibumu, ya, ibuku juga. Mereka berhak tahu agar bisa mendoakan pernikahan putranya.” Asna menjelaskan dengan enteng. Ia tetap berpikir positif dan sangat yakin Allah akan melindunginya.


“Sudah tak apa, Mas. Jangan terlalu berpikir buruk. Aku bahagia ko.”


Kalimat terakhir Asna membuat hati Arkan meringis. Bahagia yang tak sempurna itu sangat menyakitkan, apalagi Arkan harus membagi kebahagiaan di antara keduanya.


Saat itu, Arkan berpamitan untuk ke kantor dan Asna segera bersiap menemui Dira sebagai madunya. Ia sudah memberi libur padanya sejak kemarin, sebab menjelang hari pernikahan tidak diperkenankan untuk calon manten bepergian.


Arkan juga seharusnya sama, tetapi pria itu sangat keras kepala dan esok Asna akan menjaganya dua puluh empat jam untuk mempersiapkan diri.


Setengah jam berlalu, Asna mengunci pintu rapat, lalu menaiki mobil dan berjalan menuju percetakan. Kebetulan jalanan lenggang sehingga tidak membutuhkan waktu banyak.


Tibanya di percetakan, Asna langsung mengambil surat undangan yang dipesan dan melanjutkan perjalanannya menuju rumah Dira.


“Mba Asna?” Dira mengernyit melihat Mba Asna yang berada di rumahnya.

__ADS_1


“Bagaimana kabarmu, Ra, baik?” Asna berpelukan dengannya dan tetap bersikap ramah pada wanita itu.


“Sesuai keinginan Mba Asna.” Dira merentangkan tangannya, dan dapat terlihat jika dirinya jauh lebih baik.


“Syukurlah, aku hanya mengantarkan ini untukmu, Ra!” Asna menyodorkan paper bag kepadanya.


Dira mengernyit, terlihat tumpukan undangan yang berada di dalamnya. Ia tertegun dan tidak berniat mengundang siapa pun, tetapi entah mengapa Mba Asna telah menyiapkan ini semua.


“Walau ini pernikahan kedua suami saya, tetapi tetap menjadi pernikahan pertama untukmu, Ra. Saya tetap melaksanakan pernikahan impian kamu. Jadi, jangan berpikir pernikahan ini akan menjadi buruk,” kata Asna memberitahu.


Ia tidak sejahat itu dan justru akan membuat Dira tetap menjadi ratu sehari. Merasakan kebahagiaan sebagaimana memiliki suami seutuhnya. Asna tidak egois. Ia juga tahu hak-hak mana saja yang harus ia lakukan dan tidak.


“Tapi, Mba tidak seharusnya seperti ini.” Dira bersikeras menolak. Ia sadar hanya menjadi istri kedua, ia juga tidak ingin terlalu jatuh dan membuat hatinya sakit karena berharap banyak dalam pernikahan ini.


“Sudah selayaknya saya memperlakukan seperti pengantin yang lain. Sudah, no komen, ya. Tetap jaga kesehatan dan jaga diri. Saya ada hadiah satu lagi untuk kamu.” Asna memberikan paper bag yang masih disembunyikan olehnya.


Dira semakin tak enak hati. Sungguh, ia sama sekali tidak tahu dan mengharapkan semuanya. Miris sekali rasanya antara dikasihani atau memang benar tulus Mba Asna memberikan ini semua.


Mata Dira menangkap bingkisan yang membuat hatinya penasaran. Ia pun membuka dan matanya membola, kala melihat baju seperti kebaya dengan warna kesukaannya.


Hati Dira berpikir tak enak. Ia pun mengambil baju itu dan ternyata membuat Dira ternganga karena terpukau.


“Mba, apa maksudnya ini?” Dira menahan haru dan meminta penjelasan kepada sang desainer.


Ia tidak bodoh. Tahu betul apa yang telah Asna lakukan dan meminta kejelasan dari apa yang ada di depan matanya sekarang.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2