DURI PERNIKAHAN

DURI PERNIKAHAN
CERITA KITA


__ADS_3

Kedua pengantin baru pun masuk ke dalam kamar saling diam, tanpa ada yang berbicara. Hening dengan pikirannya masing-masing.


Mata Dira masih terjaga tak habis pikir bisa satu ranjang bersama orang yang pernah menjadi harapannya.


Namun, bukan kebahagiaan yang ia dapat, justru kesedihan yang sedang ia pendam sekarang. Jika sejak awal sudah tahu siapa yang akan menjadi suaminya, Dira pasti akan menolak secara terang-terangan.


“Dik,” lirih Arkan yang membelakangi tubuhnya seketika bergerak menjadi terlentang. Ia yakin jika Dira pun belum benar tertidur.


“Maafkan Abang atas kesalahan yang sudah Abang perbuat,” katanya melanjutkan.


Ia sadar betul tentang kesalahannya terdahulu dan seharusnya tidak pantas untuk kembali, dan mengukir kisah baru bersama Dira.


Entah bagaimana rasa sakit Dira yang dialami pada saat itu. Arkan berasa menjadi pria yang tidak gentle dan sangat lemah.


Lemah karena tak bisa menjaga perasaan. Perjalanan mengejar pendidikan Magister membuat Arkan melupakan sosok Dira dan bertemu dengan Asna.


Usia Arkan dengan Dira memang terpaut jauh. Saat itu, komplek rumah yang berdekatan ada sinyal cinta yang bergetar di hati Arkan saat melihat Dira dengan seragam putih abu yang menggunakan hijab menjuntai sampai bawah hati.


Perkenalan terjadi begitu singkat dan bodohnya Arkan, menjanjikan akan menikahi gadis kecil itu. Bahkan, sempat sudah merencanakan vendor dan perlengkapan pernikahan. Namun, nyatanya Arkan mengingkari setelah dua tahun bersama, karena perpindahan Arkan ke kota untuk melanjutkan pendidikannya.

__ADS_1


Pasalnya, manusia memang hanya bisa berencana. Arkan pun tak mengabarkan pernikahannya sampai sekarang.


Namun, setelah bertemu Asna rasa cinta Arkan sudah hilang pada gadis mungil itu, dan sangat itu mencintai istrinya itu, tetapi sekarang justru Asna sendiri yang mempertemukan Dira dengannya.


“Itu hanya menjadi masa lalu yang sudah Dira lupakan, Bang. Dira juga sudah memaafkan jauh sebelum Abang meminta maaf.”


Dira menimpali dengan pandangan yang menatap langit. Dikatakan sakit tentu perasaannya hancur karena sikap Arkan sendiri membuat rasa trauma Dira tak kunjung menghilang.


Para pria yang berusaha mendekati dengan perkataan ingin menikah pun, Dira memilih mundur dan tak berani melangkah ke tahap itu, sebab ia pernah dikecewakan oleh Arkan tentang pernikahan.


Kabar Arkan yang sudah menikah juga tak pernah terdengar di telinga, karena Dira memblok dan menghapus semua kenangan Arkan dalam memorinya, sehingga perjalanan Dira yang panjang membuat Dira menyibukkan diri sampai akhirnya bisa menjadi sekarang.


Namun, ternyata Dira salah melabuhkan hati kepada seseorang. Mulai saat itu, Dira belajar untuk menerima takdir Allah dan ikhlas tentang apa yang sudah ditetapkan.


Termasuk apa yang terjadi hari ini sekarang, yang ternyata menjadi istri kedua dengan suamikan Arkan. Entah mengapa, Allah swt kembali mempertemukan dengannya yang pernah membuat luka di hati.


“Lalu mengapa kamu mau menjadi madunya Abang, Dik?” Kini Arkan mulai bertanya, lalu sedikit melirik ke arah Dira yang banyak perubahan darinya.


Dia masih sama seperti gadis kecil waktu itu, Dira tampak lebih dewasa dan cantik, hanya saja rasa canggung masih memenuhi relung hati masing-masing.

__ADS_1


“Semua karena Allah, Bang, hati dan petunjuk yang menggerakkan Dira untuk menerima ini.”


Dira berkata jujur. Bukan terpaksa atau paksaan yang diminta Mba Asna, murni atas kehendak Allah untuk mendapat keridhoannya.


Hati Arkan terenyuh. Rasa bersalah semakin menyeruak, dia menerima bukan karena nafsu semata, tetapi Allah ta’ala. Entah bagaimana hatinya bisa ikhlas menjadi seorang madu.


Di mana seorang madu dikenal sebagai penghancur rumah tangga orang, dan Arkan yakin jika Dira sempat berperang hebat dengan hatinya, sebab berada di posisi ini sangat tidak mudah.


“Lagipula Dira tidak tahu jika akan menjadi madu Abang. Jika tahu mungkin butuh waktu pertimbangan yang lebih banyak lagi,” lanjut Dira tanpa ekspresi, menjelaskan pada Arkan.


Lelah rasanya jika harus membohongi perasaannya sendiri jika sampai saat ini Dira masih setia dengan Arkan. Bahkan, namanya selalu terselip dalam doa, walau rasanya mustahil Arkan akan kembali. Akan tetapi doanya adalah jembatan melalui mba Asna, meski kala itu Dira pernah bersujud! meminta Arkan bisa menjadi miliknya dan menunggunya sampai kapanpun.


Ternyata doa itu, dikabulkan yang membuat Dira merasa bersalah dan canggung. Apalagi pria di hadapannya, benar benar mencintai mbak Asna, yang jauh Dira pikir, dia adalah wanita yang berhati luas. Jika Dira jadi mba Asna, rasanya tidak mungkin sanggup melewati menerima madu, apalagi semuanya ia yang siapkan.


“Abang juga nggak tahu karena Asna tak mengatakan siapa calon madu Abang karena semua Asna sendiri yang mempersiapkan.” Arkan menjelaskan apa yang terjadi. Sama sekali tidak ada saling tahu dan semua rencana di luar kehendak-Nya.


Deuugh! Terdiam mereka saling membisu, inilah kekuatan doa, dan mungkinkan ini bagian tanggung jawab Arkan dahulu.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2