
Asna gelagap karena pertanyaan Imel yang menyadari dirinya melamun. Seketika bibirnya melengkung.
“Bunda nggak apa, Sayang. Kita tidur, yuk, besok ‘kan kamu harus sekolah,” ajak Asna mengalihkan pertanyaan Imel, lalu bangkit dari pangkuan suaminya.
“Tapi Imel tidur sama Bunda dan Abi, ya?” pinta Imel menatap keduanya saling bergantian.
“Boleh, Sayang, ayo.” Arkan yang menjawab dan langsung membopong tubuh Imel menuju kamar.
Sedangkan Asna mengikuti dari belakang, sembari membawa buku Imel yang tertinggal di atas meja.
Setelah Imel terlelap pulas di samping Arkan. Kini, Asna menghampiri suaminya, mendekati tubuhnya dan bersanding di sebelah kiri sang suami.
“Mas, aku minta maaf. Jangan mendiamiku seperti ini,” kata Asna penuh salah. Ia tidak suka melihat kekasih hatinya diam tanpa berbicara, sebab menjadi bumerang dalam batinnya.
“Tidak ada yang mendiamimu, Sayang.” Arkan membalas rengkuhannya. Tangannya sudah mengusap punggung Asna lembut.
Mereka saling berpelukan seolah melupakan masalahnya sejenak. Arkan hanya ingin ada dirinya dengan Asna, tidak ada wanita lain.
Di sepertiga malam, Asna melakukan kewajibannya dan mengadahkan doa. Lagi-lagi hatinya mendapat petunjuk mengenai niatannya agar sang suami berbagi surganya kepada yang lain.
Entah, jika bukan karena petunjuk-Nya, Asna tidak akan seantusias ini. Namun, ia hanya meminta agar hati suaminya dilembutkan dan dipermudah menuju proses yang lebih sakral.
Setelah menumpahkan unek-unek dalam hatinya. Asna beranjak, lalu berpindah tempat. Ada banyak PR dirinya yang harus segera diselesaikan, masuk ke dalam ruangan kerja dan membuat pola yang sempat tertunda.
Hampir setiap pagi, Asna bergelut dengan pola, bahan dan juga jarum sebelum Subuh tiba. Ia benar memanage waktunya agar pekerjaan dan mengurus rumah dapat dilakukan sendiri.
Tidak ingin terlewat sedikit pun merawat suaminya yang paling utama. Tujuh tahun berjalan, Arkan tak pernah berkomentar tentang pekerjaannya. Bahkan, pria itu sering membantu Asna.
Sedikit pun tidak ada yang berubah dalam diri Arkan setelah Asna mengungkapkan permintaannya. Ia akan menunggu sampai hatinya benar terbuka dan pasrah. Yakin betul jika Allah memberikan kemudahan dalam hati suaminya.
Saking asyik menggunting pola bahannya, Asna hampir lupa membangunkan suaminya dan ternyata dia sudah berada di belakang yang merangkul tangannya di leher.
“Kamu kebiasaan, memangnya kamu nggak lelah?” Arkan mengusap lembut pipi istrinya, lalu mengecupnya singkat.
“Maaf, Mas, aku lupa tidak membangunkan,” kekeh Asna membalas kecupan seperti biasa.
“Dik, Mas rindu,” bisik Arkan mendayu tepat berada di telinganya. Angin yang berembus kencang membuat gorden ikut tersipu seolah mengerti akan keinginan Arkan untuk menghangatkan tubuh.
Asna yang mengerti keinginan suaminya, ia langung melepaskan jarum dan bahan di atas meja. Kemudian tangannya merangkul di leher Arkan penuh manja.
“Sejauh mana rasa rindu Mas sama aku?”
__ADS_1
Asna kembali, menggoda suaminya dengan senyum yang terbit di bibir. Bahkan tangannya sudah menyapu di wajah, lalu turun sampai bidangnya.
“Mas akan selalu rindu kamu, Dik.” Suara Arkan sudah tertahan seolah tak kuat lagi menahan hasrat yang berada di ujung.
Saat itu, Arkan sudah mendekatkan wajahnya ke arah buah merah yang sedikit basah dan membuat matanya berbinar kehausan.
“Mas, nanti Imel nyariin gimana?” Tangan Asna lebih dulu menghalangi Arkan, khawatir Imel mendengar suara yang lolos dari keduanya yang tidak pantas dia dengar.
Arkan menggeleng. Ia meyakinkan Asna jika Imel tak akan bangun juga mendengar aktivitas orang dewasa. Bahkan, Arkan sudah mengunci pintu saat masuk ke sini.
Asna yang agak ragu, tetapi melihat tatapan Arkan penuh mohon, seolah tak ada lagi alasan untuk menolaknya. Sebagai seorang istri, memang sudah menjadi kewajibannya membahagiakan suami dengan memberikan nafkah batin.
“Berwudulah dulu. Biar aku bersiap, Mas!” Asna memberi lampu hijau kepada suaminya.
Saat itu pula Arkan langsung bergegas dan kebetulan ruangan kerjanya terdapat kamar mandi. Sedangkan Asna memakai wewangian di tubuhnya agar Arkan menyukai. Bisa jadi, malam indah ini menjadi malam terakhir untuk keduanya sebelum Arkan benar menerima keputusannya.
***
Esok Harinya :
Jam pun terus berdenting. Asna begitu gesit dalam mengurusi rumah juga dua orang yang berarti dalam hidupnya. Suami yang selalu tampak gagah atas perawatan juga pelayanan. Asna untuk mengutamakan penampilannya. Dan Imel, selalu cantik dengan ikat rambut satu yang dibuat olehnya. Tidak boleh sedikit pun ada kekurangan dari mereka. Semua harus terlihat sempurna dan terpukau saat dipandang.
“Oke, Abi, kita let’s go,” kata Imel sumringah menarik lengan Arkan.
“Sun dulu dong!”
Asna membungkukkan tubuhnya, lalu memberikan pipi yang siap dikecup oleh putri cantiknya.
Imel tampak terkekeh. Ia hampir lupa jika masih ada Bunda. Saat itu pula, Imel mendekat dan mengecup kedua pipinya penuh sayang.
Setelah Imel, kini bergantian pria yang bertubuh tegap sudah berdiri di hadapannya. Belum mendapat izin, pria itu sudah mendaratkan bibirnya di kening Asna.
“Ih, Abi nggak mau kalah.”
Aktivitas keduanya menjadi pusat perhatian Imel, yang masih berdiri di belakang Arkan. Kedua pasangan itu pun terkekeh dan Asna langsung mengulurkan tangan untuk bersalaman pada suaminya.
Entah mengapa, Imel selalu jahil dan membuat Asna menjadi salah tingkah. Sebelum sifat jahil Arkan semakin menjadi, Asna sudah lebih dulu meminta keduanya berangkat.
“Belajar yang rajin, ya, Sayang!"
"Hati-hati, Abi.” Asna melambaikan tangan ke suaminya, dan memandang punggung mereka yang sudah menjauh.
__ADS_1
Kini, saatnya Asna kembali kepada rutinitas sebagai wanita karir, yang mengurusi dua usahanya. Pagi ini, ia akan melipir terlebih dahulu ke toko roti sebelum stay di butik.
Seperti biasa, selalu mendapat sambutan ramah dari para karyawannya dan disambut dengan senyuman hangat dari Asna.
“Selamat pagi, Bu! Mau pesan roti seperti biasa?”
“Boleh, kamu siapkan sepuluh roti, ya, dengan varian dan toping kaya biasa,” kata Asna memberitahu. Ia memang terbiasa memberikan sarapan roti kepada karyawan butiknya.
Memang tidak setiap hari, tetapi seminggu sekali pasti Asna akan membawa bakery miliknya untuk dibawa ke butik.
“Oh iya, apa ada masalah selama saya nggak di toko?” tanya Asna berjalan menuju dapur. Ia mengecek bahan juga memastikan jika semuanya dalam keadaan baik.
“Alhamdulillah semua aman terkendali, Bu.”
Hati Asna merekah mendengar kalimat sederhana yang membuat paginya menjadi semangat.
“Syukurlah, jangan lupa jika ada sesuatu kabarin saya, ya! atau jika kehabisan bahan, langsung beli dan berikan laporannya pada saya. Reni saya percayakan sama kamu, oke. Kalo gitu saya tinggal lagi.” Asna pamit dan bergegas pergi menuju butiknya.
Toko rotinya memang sudah dikendalikan oleh Reni, sepupu Asna yang dipekerjakan sejak Asna memiliki toko butik. Ia percaya karena dia merupakan anak yang jujur.
Selama ini pun keadaan toko selalu kondusif dan sedikit terbantu, karena Reni menjadi tangan kanannya.
Asna melanjutkan perjalanannya menuju butik. Sesampainya di sana, terlihat butiknya sudah diramaikan oleh para pengunjung.
Kemudian, Asna memberikan paper bag yang ia bawa tadi kepada salah satu karyawannya.
“Ini kamu bagikan kepada seluruh karyawan yang lain, ya, dan tolong kamu panggilkan Dira untuk ke ruangan saya!”
“Maaf, Bu, tetapi Dira nggak masuk hari ini.”
Asna terpaku. Seketika hatinya merasa tak enak mendengar Dira yang tidak masuk. Apa berhubungan dengan pembicaraan yang kemarin? Tetapi mengapa dia tidak memberinya kabar? batin Asna tak karuan.
“Dari mana kamu tahu Dira nggak masuk?”
Asna sudah merubah wajahnya menjadi sedikit lebih tegas.
“Tadi dia kemari dan menitipkan amplop ini untuk Ibu!” Sang karyawan memberikan amplop putih itu kepada atasannya.
Asna semakin tak mengerti. Ia pun mengambil surat itu dan pamit meninggalkan tempat. Hatinya menderu tak karuan, banyak pikiran negatif yang melalang buana dalam otaknya.
“Surat apa ini sebenarnya?” lirih Asna membulak balikkan kertas putih yang berada di tangannya.
__ADS_1
Penuh harap Asna, ia harap bukan surat penolakan permintaannya kemarin.
TBC.