DURI PERNIKAHAN

DURI PERNIKAHAN
AWAL KESAKITAN


__ADS_3

Beberapa detik kemudian, Imel bangkit, lalu menghapus matanya yang sudah basah. Ia menoleh pada Abi yang tersenyum ke arahnya.


“Putri Abi nggak boleh menangis. Sini, Nak!” Arkan mengulurkan tangannya untuk merengkuh Imel.


Asna yang melihat pemandangan itu penuh haru. Gadis kecil yang sangat mencintai ayahnya merasa tersakiti, karena bersanding dengan wanita lain.


Bahkan, Arkan pun menangis dan pertama kalinya Asna melihat sang suami menangis di hadapan Imel. Biasanya, Arkan selalu terlihat tegar dan kuat, tetapi kali ini pria itu tampak lemah.


“Imel tetap kesayangan Abi, Bunda juga gitu. Kita tetap menjadi keluarga utuh seperti dulu.” Arkan membantu menenangkan Imel. Sejak tadi, ia tak kuasa melihat Imel yang mungkin bertanya tentang dirinya, lalu menangis.


“Imel sayang Abi sama Bunda. Abi nggak akan tinggalin Imel sama Bunda, ‘kan?” Pertanyaan Imel membuat hati Arkan tertohok.


Entah apa yang ada dalam pikirannya, sehingga usia belia itu berpikir jika akan meninggalkannya.


“No, Sayang! Abi sangat mencintaimu dan Bunda. Nggak mungkin Abi meninggalkan kalian,” kata Arkan tegas. Hatinya masih milik Asna, tak ada sedikit pun untuk meninggalkan dua wanita kesayangannya.


Imel langsung merengkuh erat seolah tak ingin kehilangan dan rasa nyamannya hanya pada Abi seorang.


Kalimat Arkan pun didengar oleh Dira. Ia sadar jika tak akan bisa mengubah cinta Arkan kembali padanya. Bahkan, Arkan pun sangat mencintai Mba Asna juga putrinya.


“Sini, Ra.”


Kehadiran Dira disadari oleh Asna. Ia mengajak Dira, untuk duduk bersamanya dan sebagai pendekatan awal dengan Imel.


“Ini Bunda mu juga, Nak,” kata Asna melirik ke arah Imel memperkenalkan Dira yang berada di hadapannya.

__ADS_1


“Assalamualaikum anak manis. Kamu terlihat sangat cantik,” sapa Dira pada Imel dan menyentuh wajahnya lembut.


Dira memang sangat menyukai anak kecil dan kini, pertama kali bertemu langsung pada putri Mba Asna sendiri. Ia dapat merasakan kesedihan anak itu.


Arkan dan Asna memandang Imel untuk menjawabnya. Ia memberi kesempatan kepada Imel untuk berinteraksi dengannya.


Asna mengangguk seolah memberi kode untuk tidak takut dan tetap bersikap ramah pada orang yang lebih tua. Ia begitu telaten memberitahu dan mengajarkan ilmu pada Imel, sehingga membiasakan diri agar putrinya menjadi anak yang sopan.


“Bu-bunda juga cantik,” tutur Imel lolos melihat Dira yang tampak cantik.


Deg!


Dira tersentuh anak itu memanggilnya dengan sebutan Bunda. Sungguh terharu dan bibirnya terasa kelu. Keluarga penuh cinta dengan hati yang luas karena didikan kedua orang tuanya.


“Selamat datang di keluarga Imel, Bunda,” ucap Imel polos.


Asna tertegun, padahal anak itu tadi menangis seolah tidak menerimanya, tetapi sekarang justru membuka pintu hatinya lebar-lebar menyambut kedatangan Dira.


Mereka pun akhirnya saling berbincang mengenal satu sama lain, dan Asna tak melarang sedikit pun sampai akhirnya acara selesai mengajak Imel untuk pulang.


“Kita pulang berdua, biarkan Abi sama Bunda Dira di sini dulu. Besok akan bertemu kita lagi.”


Imel mengangguk dan tak butuh waktu lama memberi pengertian kepada putrinya. Dia memang penurut juga tak banyak bertanya.


Lagipula rangkaian acara sudah selesai dan kedua pengantin butuh istirahat. Malam ini biarkan Arkan menginap di rumah Dira.

__ADS_1


Saat hendak melangkah, ternyata dihentikan oleh seseorang yang membuat Asna menoleh ke belakang.


“Tunggu, Dik, biar Mas ikut denganmu!”


Asna tertegun mendengar perkataan suaminya. Alisnya mengkerut heran menatap wajah sang suami yang penuh harap.


“Maaf, Mas, kamu harus menginap di sini bersama Dira. Kalian ini baru saja sah menjadi suami istri,” kata Asna mempertegas mungkin dia lupa jika sudah menikah.


“Tidak ada salahnya seorang suami memboyong istrinya ke rumah, Dik. Bukankah istri wajib ikut ke mana pun suaminya pergi?”


Ucapan Arkan membuat hati Asna tertohok. Memang tidak ada yang salah atas kalimat tersebut, tetapi malam ini kebahagiaan baru saja tercipta dan tidak mungkin Dira meninggalkan ibunya seorang diri.


“Bang Arkan!”


Deg!


Asna terhenyak mendengar nama suaminya dipanggil. Ada rasa bergejolak, tetapi Asna berusaha menahannya. Beginikah, pernikahan yang ia buat terasa sesak. Atau mungkin ini adalah awal rasa sakit, menjadi istri yang ikhlas mempunyai madu.


“Lebih baik kamu hampiri Dira, Mas, dia memanggilmu. Aku dan Imel pulang dulu.”


Asna berbalik, lalu menarik lengan Imel untuk segera pergi, sebelum Arkan kembali menahannya.


Sementara Arkan, ada rasa gelisah dan galau. Satu sisi, ia dipanggil oleh istri keduanya. Tapi tak bisa menahan Asna dan Imel yang pergi begitu saja.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2