
“Ti-tidak, Dik. Mas hanya ingin mengajak Dira, pulang dan ternyata sedang berbincang sama kamu. Jadi nggak enak untuk mengganggu,” kata Arkan dengan napas yang naik turun.
Asna menghela napas. Ia rasa bukan itu masalahnya, tetapi ada sesuatu yang disembunyikan dan tidak sesuai dengan apa yang diucapkan.
“Ayo, kita pulang.” Arkan sudah menggeser langkahnya dan menggenggam lengan Dira di hadapan Asna.
“Mas, pergi dulu, Dik!”
Asna mengangguk, tidak ada yang salah dengan sikapnya. Ia pun mengizinkan Arkan untuk pergi bersama Dira. Akan tetapi sikap Arkan berubah, ketika pamit tanpa Asna mencium tangannya, atau mas Arkan mengulurkan tangannya, atau ia lupa. Ah sakit sekali!!
“Mba, pamit dulu, ya. Titip salam sama Imel, in syaa Allah nanti Dira main ke sini lagi,” ucap Dira ramah. Ia tidak ingin bermusuhan apalagi membedakan yang statusnya sama.
Namun, bergandengan di hadapan Mba Asna merupakan masalah besar untuknya. Sungguh, Dira merasa tak enak hati padanya.
Sementara Asna, merasakan tertusuk duri dalam rumah tangganya dari permintaan, atau sekedar petaka yang ia buat. Pikirannya kembali fokus, berharap semesta mau memaafkan sikapnya yang terombang ambing berubah.
'Ya rabb, tetapkan hatiku hanya ibadah. Aku tahu sulit berbagi suami, tapi aku tidak punya pilihan. Inikah semua jalan yang telah di atur.' lirih Asna membatin, seolah tak ingin melihat dibelakang tubuhnya yang sedikit lemas, kaku. Yang mungkin kala itu Dira menoleh mba Asna. Tetapi mba Asna fokus lurus tak terlihat lebih dulu, ingin bicara pada Arkan tapi ia tak sanggup.
Setelah meninggalkan rumah itu, Arkan memasuki mobilnya bersama Dira. Kemudian, melajukannya sesuai dengan tujuan utama.
“Kita akan segera pindah, Dik!” kata Arkan sedikit dingin.
__ADS_1
Dira tak menjawab. Ia fokus menatap jalan yang dipenuhi para pengendara yang melintas di hadapannya. Ia sudah tak bisa menolak karena menuruti suami merupakan bagian dari pahala. Bukankah seperti itu?
Itulah yang sedang Dira jalankan untuk bisa menjadi istri salehah. Istri yang diidamkan para suami tanpa menghilangkan jati dirinya.
Bukan untuk menjadi seperti Mba Asna juga. Dira akan tetap menjadi Dira, ia hanya berusaha memberikan yang terbaik untuk suaminya sendiri.
Masalah suka tidak suka biarkan Arkan yang menilai, yang penting niat dan hatinya tulus sesuai statusnya sekarang.
“Apa Ibu sudah tahu?” Tidak ada basa-basi dan pikiran Dira hanya tentang ibu, sebab Arkan tahu, jika ibu butuh bantuannya dan tak bisa hidup sendirian.
“Sudah. Tadi pagi Abang meminta izin pada Ibu untuk mencari tempat tinggal baru. Lagipula rumah kalian sudah tak layak.”
Arkan begitu mengerti dan paham apa yang sudah menjadi kewajibannya. Ia miris melihat kondisi rumah Dira yang rapuh juga berdebu. Belum lagi jika musim hujan, pasti banyak atap yang bocor.
Sebenarnya bisa saja hal itu dilakukan, tetapi Arkan tak ingin menambah luka, sehingga membiarkan Dira mencari kebahagiaannya.
Jahat memang dan ternyata Dira berhasil lepas, sampai dia menjadi desainer yang bekerjasama di butik Asna. Ia sangat tahu betul, pasalnya butik Asna cukup terkenal sehingga bukan sembarangan orang yang dapat bekerja di sana.
“Apa Abang akan membiarkan Ibu tinggal sendiri di rumah?” Dira kembali bertanya, barangkali Arkan cukup egois mengenai hal ini.
“Enggak, Dik. Abang akan membawa kamu juga Ibu untuk tinggal di rumah yang baru. Abang tahu kondisi Ibumu.” Arkan menoleh melirik Dira yang tampak begitu sendu.
__ADS_1
Ia masih memiliki hati dan perasaan, yang di mana dirinya pun lahir dari seorang perempuan, mana mungkin menelantarkan ibu mertuanya begitu saja.
Arkan juga tak melarang Dira untuk tetap merawat ibunya, sebab itulah bakti seorang anak terhadap sang ibu. Selagi masih sehat dan mampu, jangan menyiakan kesempatan yang ada.
"Terimakasih bang Arkan." ujar Dira membalas senyum, tapi Arkan hanya diam.
Sementara Asna membereskan mainan Imel yang masih berserakan di teras. Ia hendak membawanya masuk agar Imel tidak mencarinya.
“Loh, Bun, ko diberesin, Abi sama Bunda Dira mana?” Imel memerhatikan sekitar tidak melihat kedua orang yang dicarinya.
Asna bangkit setengah membungkuk agar sejajar dengan Imel. Kemudian tangannya di bahu agar Imel merasa tenang.
“Abi sama Bunda sudah pulang, Nak. Mereka salam sama kamu karena Abi buru-buru.”
Wajah Imel tampak kecewa, seketika menunduk dan tak ada sepatah kata yang dikeluarkan setelah Asna memberitahu.
“Hei, jangan sedih dong anak Bunda. Abi sama Bunda Dira hanya sebentar, nanti kalo sudah selesai ‘kan main ke sini lagi,” ujar Asna memberi sedikit pengertian.
"Abi jahat, semenjak ada bunda Dira, ga pamit sama Imel." cetusnya berlari pergi.
Sementara Asna terdiam pelu, ia pun mengejar putrinya yang sedang merajuk. Mungkin akan ada hal hal semacam ini atau lebih kedepannya, yang mungkin masih banyak Asna lewati dalam mempunyai madu, hanya untuk penerus kebahagian keturunan bagi suaminya.
__ADS_1
"Imel, tunggu Bunda nak!" teriak Asna, namun matanya tertuju pada sebuah pintu, kala bel berbunyi.
TBC.