
Dira saat itu merasa harinya begitu bahagia, di bimbing Bang Arkan, pria yang begitu ia cintai dulu, janjinya tak pernah ia lupakan sehingga berusaha untuk melupakan, namun semata doanya seperti terasa mimpi yang menjadi kenyataan! tidak ada yang menyangka jika Dira pernah berdoa di sepertiga malam, berdoa agar dirinya dipertemukan lagi, meski saat ini dia bukan istri pertama.
Mba Asna, entah apa yang ada dipikirannya. Sedang apa dia? apa ia juga merasakan apa yang Dira rasakan! belum lagi, saat ini dirinya bersama mas Arkan! Apa mba Asna merasa kesepian, atau hatinya berkecamuk disaat dirinya bersama suaminya. Ah! tapi Dira rasa, dirinya sama halnya mempunyai kedudukan yang sama.
"Pagi Bang. Apa masih ada yang diperlukan lagi?"
"Sudah semua dik! Abang harus pulang dulu ke rumah Asna. Sebelum berangkat bekerja?"
Deuugh!
Dira lagi lagi merasa cemburu, siapa yang salah memang sudah semestinya bukan. Mba Asna juga istrinya, Bang Arkan tidak salah jika harus mampir dulu ke rumah istri pertamanya. Hanya saja, Dira merasa aneh ketika bang Arkan berada dekat dengannya akan tetapi memikirkan mba Asna lagi lagi.
'Astagfirullah. Ya rabb! Jadikan aku wanita yang ikhlas seperti mba Asna. Aku tidak boleh cemburu, atau saja aku yang belum terbiasa.'
"Dik."
"Ah iya bang. Kalau begitu Dira antar sampai depan ya bang."
Arkan pun tak lupa, pamit pada ibu Hanna, mertuanya itu. Setelah itu Dira menampaki senyumnya sampai Bang Arkan pergi tak terlihat, Dira bingung masa cuti seperti ini untuk apa ia di rumah. Sudah tiga hari bang Arkan menemaninya, dan menuntunnya menjadi istri yang jauh lebih baik.
"Bu, Dira mau siap siap dulu. Dira mau berangkat bekerja."
"Loh nak! apa tidak aneh, jika kamu masih bekerja di tempat Asna. Apa sebaiknya kamu tidak resign saja. Mencari kesibukan lainnya."
__ADS_1
"Iy bu. Sebenarnya Dira juga ingin bicarain semua ini sama mbak Asna."
"Ya udah! luaskan hatimu nak. Ibu selaku mendoakan kebahagian kamu selamanya."
"Iy bu, makasih." kecup Dira pada sang ibu.
Sementara di berbeda tempat! Asna yang telah membawa Imel ke rumah ibunya. Ia meminta maaf, karena deadline pekerjaannya harus ia selesaikan. Karena rencananya Asna harus pergi ke penang, hanya saja Asna sedang memutar cara bagaimana seluruh keluarga tidak curiga. Satu satunya jalan Asna menemui ibu mertuanya yakni bu Yola.
"Kamu yakin enggak temui suamimu dulu, nak?"
"Udah bu, biar Asna nanti lewat telepon. Asna ga mau menganggu mas Arkan. Lagi pula Asna hanya seharian saja, Asna pamit ya bu!"
"Imel juga pamit ya nek."
"Iy sayang, cucu nenek. Asna hati hati ya! jaga diri kamu baik baik, ada apa apa kabari ibu."
Atas dasar apa anaknya itu mempunyai keluasan hati membagi suami, sebab sebagai ibu saja ia tak sanggup. Maka selanjutnya adalah Asna memutar arah ke rumah mertuanya. Setelah kantor dan roti ia sudah percayakan pada karyawan kepercayaannya, Asna tiba di rumah bu Yola sekedar menitipkan Imel hingga esok pagi.
"Assalamualaikum bu."
"Eh kamu datang! aduh iya ibu lupa tadi pas angkat telepon kamu, ibu lagi arisan. Sms kamu baru mau ibu baca nih."
"Sesaat terdiam, Eh tunggu! Asna, kamu mau pergi ke sana. Apa semua tahu?"
__ADS_1
"Rahasia Asna kan cuma ibu, Asna hanya ga mau Imel kesepian. Dan kalau Imel di rumah ibu Nira, Asna takut mas Arkan makin tahu saat Mas Arkan ke rumah ibu. Sebab Asna .."
"Gini aja ya! dia itu kan bukan cucu ibu, dan kamu juga harus pikir kalau Arkan harus punya keturunan dari darah dagingnya. Jadi kamu atur dan bawa Imel aja ya. Ibu pasti akan bela kamu kalau Arkan putra ibu marah sama kamu." cetus bu Yola.
Deuugh!
Asna berkali kali istighfar dalam hati, semestinya bu Yola mendukung mau menolongnya. Tapi kali ini, Asna merasa tidak jadi menitipkan Imel pada mertuanya itu.
"Kalau begitu Asna pamit bu. Assalamualaikum. Maaf kedatangan Asna ganggu ibu."
"Walaikumsalam, ya betul itu." balas Yola dengan menutup pintu kencang.
Sesampai di dalam mobil, Asna terlihat senyum meski mata dan hidungnya merah.
"Bunda, nenek sakiti bunda ya?"
"Enggak sayang. Bunda hanya terharu, tapi sepertinya Imel ikut bunda ya! Bunda ada bibi dokter yang bisa buat Luka Imel cepat sembuh."
"Asiik bunda! Yeey Imel ikut bunda. Tapi tadi kenapa bunda nangis bun?"
"Bunda ga nangis nak! bunda hanya terharu sama nenek, karena dokternya rekomendasi dari nenek Yola, buat luka Imel itu cepet sembuh. Sayang sekali nenek sama Imel." senyum penuh luka, sementara Imel senyum mengangguk seolah percaya.
Asna terpaksa berbohong! ia juga sudah mendapat jadwal yang sulit setelah sekian lama, maka Asna mengucapkan bismillah dan meminta maaf pada mas Arkan atas kelancangannya yang pergi izin lewat surat dan pesan saja.
__ADS_1
'Maafin aku mas. Ini yang terbaik, atau Asna hanya menghindar dari mas Arkan.' batin Asna, menuju bandara.
TBC.