DURI PERNIKAHAN

DURI PERNIKAHAN
KERJASAMA


__ADS_3

Tidak ada yang menyangka, pagi ini mas Arkan ternyata pergi ke kantor dengan sebuah taksi, terlebih Dira yang ia dengar ke rumah sakit.


'Jadi Dira sakit, jika aku kunjungi rumahnya. Apakah pantas?'


Asna setidaknya berharap mas Arkan dapat memaafkannya. Apa lagi minggu depan ia akan kembali ke penang. Bukan tanpa alasan Asna akan kembali pergi. Hingga luang waktunya pagi ini, ia di sibukkan dengan bahan kue karena ada klien yang memesan.


"Pagi bu, lusa ada pesanan kantor. Kue khusus untuk di kirim pukul sembilan pagi."


"Berapa pcs Nis?"


"Seratus lima puluh roti, dan kue blackforest dengan buah strawberry bu. Permintaan klien, tapi di stok gudang.."


"Baik! tolong catat ya Nis, saya sudah siapkan juga sebentar lagi abang online akan mengirimkan beberapa bahan. Jika kurang, saya akan pesankan lagi."


"Baik bu."


Tanpa Asna buka, klien itu di antar kemana. Mengingat pikiran Asna kali ini benar benar bercabang, ia tidak ingin terlalu memikirkan masalah tadi pagi, meski ingin sekali hati Asna diam dan menangis, tapi karena banyak pekerjaan ia harus membantu karyawannya.


Saat Asna di dapur, ia segera meletakkan pondan, dan beberapa coklat hitam. Tidak lupa untuk hiasan, ia segera mencuci bersih dan letakkan di sebuah kulkas beku.


"Kue nya saya yang buat ya Nis! hari ini saya akan membantu kalian semua, terimakasih dan saya minta maaf jika kalian lembur akhir akhir ini. Nis, usahakan juga untuk pemesanan lima hari sebelumnya, agar jaga jaga tidak kerepotan."


"Gak apa apa bu! kami juga senang, jika benar benar sibuk dan kedai rame." serentak beberapa karyawan.


"Terimakasih." senyum Asna, seolah kesibukannya di kedai benar benar berkah.


Dibantu salah satu chef! Asna menghias dan meletakkan beberapa coklat menjadi beku, mencetak dan kembali meminta salah satu chef meneruskannya.


"Ikhsan, tolong selesaikan dan jangan lupa letakkan di tempat beku ya! saya harus bersiap ke butik, jika ada sesuatu tolong hubungi saya! Nis, saya percayakan semuanya pada kamu ya Nis, dibantu Ikhsan untuk pesanan semuanya di cek lagi, terjamin higienis!"


"Baik bu."


Asna segera merapat ke sebuah mesjid sebelum ia mampir ke butik. Beberapa kesibukan berkahnya, membuat ia lupa akan tugasnya sebagai istri. Asna sadar, kemandiriannya bisa menjadi boomerang dimana seorang istri bisa menghasilkan pundi, lebih dari pasangannya. Tapi Asna benar benar ketakutan, ketika mas Arkan suaminya tidak lagi berbicara padanya, dan mendiamkannya lebih dari tiga hari.

__ADS_1


'Ya Rabb! ampuni Asna, selama ini jika tugas Asna sebagai istri masih lalai, berikan yang terbaik dari apa yang Asna anggap baik. Sesungguhnya aku berserah diri dari segala hal apapun, sembuhkan penyakit hati dan penyakit yang engkau berikan, karena semuanya Asna yakin ini semua adalah ujian.'


Asna bersujud sedikit lama, entah kenapa setelah rasa ia selesai melakukan itu, dirinya jauh sedikit lebih tenang. Lalu berjalan menuju butik, dimana beberapa laporan ada dua puluh orang karyawan freelance, terhambat dan mogok karena mesin jahit yang sedikit tua dan macet.


Sampailah beberapa puluh menit saja, Asna sampai nampak mendengar keluhan dan kebisingan.


"Siang bu! mesin di gudang ada lima belas macet. Tidak bisa beroperasi."


Deg.


"Kenapa bisa, sering dibersihkan. Bukannya itu juga baru ya?"


Begitulah usaha, ketika di kejar deadline selalu ada saja hambatan. Membuat Asna mengecek ke gudang, dan melihat lihat apa yang salah.


"Berapa pcs lagi kemeja pesanan batik aice?"


"Baru terselesaiakan 350 kemeja bu. Sementara Lusa pagi sudah harus packing dan pickup. Tapi .. maafkan kami bu."


"Bukan salah kalian, sebentar saya hubungi rekan saya dulu ya. Semoga saja dia bisa bantu."


Tuuth.


"Huh."


Nampak berkali kali tidak tersambung, Asna pun meminta karyawan lainnya untuk memanggil tukang ahli service jahit, karena ia segera pergi sebentar.


"Kay! tolong handle, dan jika sudah selesai kalian cek, lalu minta kasir membayar ya! nanti kirim bukti ke saya seperti biasa. Dan yang lain, kembali bekerja yang bisa dikerjakan, sementara packing yang 350 kemeja, selagi mesin di sana mogok. Sisanya tolong handle kerjakan secara bergantian."


"Baik bu."


Asna memutar parkir mobil, ia menuju teman kerjanya seorang penjahit, tidak ada salahnya jika ia juga membagi orderan pada temannya.


"Assalamualaikum, Danang nya ada?"

__ADS_1


"Kebetulan lagi ngantor bu, boleh telepon saja orangnya bu. Bibi tidak tahu den Danang, kapan pulangnya."


"Apa nomornya yang ini, benar tidak ya? maaf ya bi, saya merepotkan."


Tak lama sang bibi di rumah itu memberikan nomor berbeda, pantas saja Asna hubungi sulit. Hingga Asna pamit, ia menghubungi rekan lamanya yang tidak lagi beroperasi jahitan karena ia fokus di bisnis lain.


Dan saat Asna, ingin pamit ke mobilnya, kebetulan sekali Danang tiba.


"A-Asna .."


"Ah! alhamdulillah, Danang syukurlah aku bertemu kamu disini."


"Mendesak sekali, mari duduk dulu di teras. Bi siapkan minum ya!"


"Kabar kamu gimana, usaha lancar?"


"Alhamdulillah, justru itu setiap usaha selalu ada trouble bukankah ujian juga. Tapi ...kali ini mesih jahit saya macet, juga beberapa karyawan freelance."


"Minum Asna! ayo ceritakan pelan pelan."


Asna pun meminta bantuan pada temannya Danang! ia juga tahu jika Danang saat ini sedang koleps. Maka ia bekerja di bank, membuat dirinya sudah tak lagi punya karyawan. Tapi melihat Asna sedikit kepusingan akan deadline pesanan, maka dari itu Danang senyum membantu.


"Serius, alhamdulillah. Semoga allah memberkahi kamu Danang. Karena telah memudahkan urusan oranglain."


"Aduh ga usah ga enakan gitu, selagi bisa bantu aku pasti bantu."


"Deal! gimana kalau kita kerjasama. Aku kan pakai mesin jahit, dibelakang butik kan. Gimana kalau kamu hubungi karyawan lama, sebagai freelance. Tanpa tahu aku bosnya, aku berikan 30% dari kerjasama ini. Itu sudah dipotong upah karyawan."


"Deal." senyum Danang.


Masalah pun selesai, Asna juga tak lupa mengabarkan karyawannya di butik. Dan Danang ikut dari motor mengikuti, membuka ruko miliknya yang telah lama tidak buka. Asna begitu bersyukur, ternyata usahanya kini tidak jadi mengecewakan klien. Entah apa jadinya, jika pesanan berantakan karena Asna tidak ingin karyawannya kehilangan pekerjaan, dan rating kedai dan butiknya di nilai jelek.


TBC.

__ADS_1


Tunggu Up Selanjutnya ya All.


__ADS_2