
Arkan menoleh, dan kembali dikejutkan dengan Irham yang menepuk bahu nya. Sekilas pundak wajah istrinya Asna, meski dari belakang saja, entah kenapa ia memikirkan Asna terus, apakah ia begitu merindukan, sehingga di penang saja ketika ingin merubah proyek rumah sakit menjadi lebih kokoh dan bagus, lagi lagi teringat Asna yang terasa dekat dan berjalan dekat dengannya.
"Bro, ayo. Udah ditunggu!"
"Iya, ayo kita cepat. Usahakan sore ini kita pulang juga ke jakarta ya."
"Semoga bro."
Sehingga Arkan dan Irham berlalu, membuat kerja sama mereka berlanjut, Arkan juga beruntung memiliki sahabat, sekaligus rekan klien seperti Irham. Saling menguntungkan, bertukar job.
Hingga tak begitu lama, kala Arkan sudah masuk, menuju lift. Irham meminta Arkan lebih dulu, sebab ia ada yang ketinggalan selepas dari toilet. Membuat Anggukan Arkan mengerti pergi lebih dulu.
Akan tetapi, sampai di persimpangan toilet. Irham tertabrak suster cantik, mengenakan hijab yang elegant.
"Astagfirullah, aduh mbak suster. Maaf ya!" tegas Irham.
"Gpp, saya permisi kalau begitu."
Asiyah, saat itu menunduk segera bergegas menemui mbak Asna. Namun nyatanya, sampai di ruangan dokter Gendis, ia mendapati kabar jika Asna sudah ada di rumahnya, dan berniat esok pagi pulang ke ibu kota. Asiyah lega, dan semoga hasil pemeriksaan tidak seserius yang ada di pikirkan nya, nyatanya setiap pasien ke rumah sakit penang, rata rata gejala sakit dan tidak terasa sakit sudah di ambang stadium lanjut atau akhir, hal itu tak ingin Asiyah terjadi pada Asna tentunya
"Bunda, Imel buat sandwich sama bibi Asiyah! bunda mau gak?"
"Serius, enak gak nak?"
__ADS_1
"Ih bunda, kok remehkan Imel. Imel kan jagonya, chef Imel gitu loh."
"Ahaa, iya benar. Chef Imel paling the best."
Asna, benar benar menampaki senyuman. Sejak kemo tadi, tubuhnya merasa mual dan pening. Mata Asna bahkan berkunang, membuat dirinya tidak tahan.
"Bunda kenapa?"
"Bunda ke kamar mandi dulu ya nak. Imel tunggu bunda disini, jangan keluar rumah ya nak."
"Iy bunda."
Asna, berada di kamar mandi. Ia memuntahkan banyak cairan, membuat Asna lemas, bahkan memikirkan bagaimana jika ia tiada, apakah kasih sayang Imel akan tercukupi sama sepertinya. Apalagi jika mas Arkan mempunyai keturunan dari Dira. Entah apa yang ada dipikiran Asna saat ini, ia begitu detail merencanakan kemungkinan yang terburuk, belum lagi Asna tidak sanggup jika harus meminum obat obatan ini, diam diam.
Sesegera mungkin, Asna menuangkan semua obat ke dalam botol vitamin, agar mas Arkan atau Imel menemukan di laci tempat kerjanya, berfikir itu adalah vitamin yang biasa Asna minum sehari harinya.
Ting nong!
Bel, membuat Asna secepat mungkin keluar dari kamar kecil, tapi karena letih Asna terlambat, karena Imel sudah membuka pintu, lupa akan amanat bunda Asna, untuk tidak membuka tamu seorang diri.
"Imel, siapa nak? apa bibi Asiyah pulang cepat?"
"Bukan bunda, tadi Om .. Ham, apa ya. Imel lupa, dia kasih dompet bibi Asiyah, nemuin karena bingung, jadi alamatnya dekat rumah sakit, dia anterin kesini."
__ADS_1
"Oh, lain kali jangan buka sembarangan ya nak. Kita di kota sebrang, ga boleh sendirian tanpa pengawasan."
"Iy bunda, maafin Imel ya Bun."
Sementara Asna, ia tidak sempat melihat tamu yang membawa dompet sepupunya itu, dia pasti orang baik. Padahal jika beberapa menit saja, pria itu adalah Irham yang mengembalikan dompet Asiyah ketika tertabrak, dan selama ini Irham juga tidak pernah tahu, jika Asna dan Arkan punya anak angkat, sehingga ketika Imel buka pintu. Irham berfikir dia adalah anak dari suster cantik tadi.
Arkan yang menuju bandara, di kejutkan dengan pesan Dira. Dira sakit, sehingga niatnya untuk pulang malam ini ke rumah Asna, ia tunda. Berkali kali menghubungi Asna, tapi nomornya tidak aktif.
"Asna, sebenarnya kamu kemana sih. Kenapa nomor kamu tidak aktif."
Arkan menghubungi bibi di rumah, hingga nomor ibu Yola, ibu Arkan sendiri. Jawabannya adalah tidak ada Asna, dan satu terakhir adalah, Arkan berniat ke rumah mertuanya, sebelum pulang ke rumah Dira. Ia berharap Asna dan Imel berada di sana.
Tlith!
Sebuah pesan, membuat Asna tertuju pada ponselnya. Satu persatu, ia menatap pesan Arkan yang membuat Asna terdiam pasi, bibirnya bergetar entah bahagia, atau sedih bercampur cemburu.
'Dik, tolong balas pesan abang dik. Malam ini setelah pulang kerja, abang akan ke rumah Dira, Dira sakit. Abang harap, kamu tunggu abang dik!' pesan itu entah mengapa, membuat getir di ranum Asna, ia hela nafas, ketika dirinya juga sakit parah.
'Aku meridhoi mu mas. Kamu berhak pulang kemanapun, karena Dira sama seperti aku, berhak atas diri mas Arkan.' batin Asna, ia berusaha ikhlas, setidaknya ia ikhlas karena cintanya pada Allah swt, sehingga Asna menerima ujian yang mungkin tidak sanggup semua wanita rasakan.
"Bunda gak apa apa, Bunda pucet loh?" tanya Imel, kala Asna ingin memuntahkan sesuatu.
Bundaaa ... tangis Imel pecah, ia segera mungkin menghubungi suster Asiyah, karena di dekat telepon ada buku kecil, yang mungkin disana ada nomor bibi Asiyah. Imel yang cerdas pun, mengambil ponsel bundanya mencocokan nama bibi Asiyah.
__ADS_1
Bundaa .. tangis Imel, anak itu tegar ketika Asna pingsan.
TBC.