
Melihat Imel yang tak sadarkan diri membuat Asna terisak. Entah sebenarnya apa yang terjadi padanya dan kini Asna hanya bisa menunggu di luar ruangan.
Ceklek!
Mendengar pintu terbuka, Asna langsung bangkit dan mendekati sang dokter. Ia mengusap air matanya, lalu bertanya keadaan Imel.
“Bagaimana keadaan putri saya, Dok?” Napasnya menderu seolah habis berlari berkilo-kilo meter. Asna seolah merasa bersalah kala dirinya telah lalai menjaga buah hatinya, meskipun Imel bukan anak kandung, tetap saja kasih sayangnya tak pernah terukur sedikitpun, Asna begitu mencintainya.
“Alhamdulillah tidak perlu khawatir, Bu, luka putri ibu tidak terlalu parah dan untungnya langsung dibawa cepat kemari karena darah yang dikeluarkan cukup banyak.” ujar Suster.
Penjelasan dokter cukup membuat hati Asna runtuh. Entah bagaimana bisa terjadi, memang masih beruntung Asna dapat menemukan Imel tepat waktu. Jika sedikit terlambat entah apa yang akan terjadi pada Imel.
Melihat lukanya memang cukup mengerikan karena lututnya banyak mengeluarkan darah. Namun, sekarang tak perlu memikirkan itu, ia ingin melihat keadaan putrinya di dalam.
“Dok, apa boleh saya menjenguk putri saya?” tanya Asna pada sang dokter.
“Silakan, Bu, untuk resep obat lukanya nanti biar perawat yang mengantarkan,” jelas dokter memberitahu.
Asna pun mengangguk, lalu masuk ke dalam melihat putrinya yang terbaring di atas brankar. Hatinya pedih yang tak bisa menjaga Imel dengan baik dan akhirnya membuat Imel terluka.
__ADS_1
“Bunda, kenapa menangis?” rintih Imel melihat bundanya yang datang dengan tangis.
Wanita itu merekahkan bibirnya, duduk di samping, lalu mengambil lengan Imel dan memberinya usapan lembut.
“Maafin Bunda, ya, Nak, Bunda lalai jagain kamu,” ujar Asna sembari mengecup punggung tangan Imel. Tak lagi-lagi abai dalam mengawasi Imel. Bahkan Asna berjanji, ketika sedang bersama buah hatinya, ia akan mensilent dan mengabaikan setiap panggilan dari siapapun.
Imel menggeleng. Bukan salah bundanya dan memang karena dirinya yang tak mengingat jalan sampai jauh dari Bunda. Padahal bunda sudah mengingatkan, tetapi Imel justru melupakan.
“Imel yang meminta maaf karena sudah membuat Bunda khawatir. Bunda jangan menangis lagi, ya!” Tangan Imel terulur mengusap air mata yang turun dari pelupuk matanya.
Hati Asna semakin meringis mendengar perkataan Imel yang cukup dewasa. Entah mengapa dia tiba-tiba memiliki pemikiran yang jarang sekali seusianya mengatakan itu.
Asna menoleh, lalu menerima lembaran kertas kecil tersebut. Namun, mengingat lutut Imel yang diperban, banyak kekhawatiran dalam benaknya.
“Oh iya, Sus, apa nanti ada obat luarnya juga? Terus apa perlu mengontrol lukanya lagi?” tanya Asna agar tak salah paham.
“Iya, Bu, dokter memberi salep untuk dioleskan di lukanya. Jangan lupa ibu untuk sering mencuci lukanya dan dikompres perlahan, ya, Bu. Ibu juga tidak perlu kontrol lagi karena lukanya tidak terlalu parah,” jelas sang perawat dengan ramah.
“Ah, baiklah, terima kasih, Sus kalo begitu,” balas Asna penuh terima kasih.
__ADS_1
Usai kepergian perawat, Asna pun membantu Imel untuk bangkit dari terbaringnya. Sungguh, miris melihat Imel yang sepertinya kesakitan.
“Kamu bisa jalan? Kalo dirasa sakit, Bunda minta kursi roda untuk mengantarkan kamu sampai ke parkiran, Nak.” Asna memerhatikan Imel yang berusaha untuk berdiri.
Namun, belum juga menapak ke lantai Imel sudah meringis dan kakinya begitu kaku dibawa melangkah.
Asna pun tak akan memaksa dan ia meminta Imel untuk duduk di tepi ranjang, Imel patuh dan menunggu Bundanya sebentar. Sedangkan Asna segera keluar meminjam kursi roda kepada salah satu perawat.
Tak lama, Asna kembali bersama kursi rodanya. Ia mendekat ke arah Imel, membantu untuk duduk dan Asna siap mendorongnya.
Tidak ada pembicaraan, Asna belum ingin menginterogasi Imel yang dirasa waktunya belum tepat. Biarkan Imel beristirahat dan tidak tertekan karena pertanyaannya nanti.
Di saat Asna menangis karena Imel terluka, berbeda di tempat lain dengan Arkan yang menangis karena dosa. Ia sudah membuat luka baru di hatinya Dira.
Bahkan, sudah beberapa menit terduduk di depan kamarnya, Dira belum juga membukakan pintu. Ia mengaku salah karena sudah egois terhadapnya.
Tak lama seseorang datang, membuat mata Arkan mengusap air mata yang mengembang.
TBC.
__ADS_1