
Matahari mulai memunculkan wajahnya, Asna sudah menyelesaikan hidangan untuk suami dan anaknya. Sehabis Subuh, selalu bergelut di dapur, lalu menyiapkan pakaian sekolah Imel juga pakaian kerja Arkan yang akan beranjak ngantor.
Meski Asna pun terbilang sibuk, tetapi tak pernah lupa akan kewajibannya sebagai seorang ibu dan istri.
“Wah, nasi goreng, Imel suka Bunda,” celoteh Imel riang. Bocah enam tahun itu sudah berpakaian rapi dengan seragam sekolahnya.
“Alhamdulillah, Bunda senang kalo gitu. Ya sudah segera di makan biar nggak terlambat.” Senyum Asna merekah mengusap lembut rambut sang putri penuh cinta.
Tak lama, terlihat suaminya yang ikut menyusul. Asna langsung memberikan sarapannya di hadapan Arkan.
“Kamu mau ke butik atau toko, biar Mas antar sekalian, ya, setelah antar sekolah Imel nanti,” kata Arkan sebelum menyuapkan nasinya ke dalam mulut.
Asna terdiam sejenak, lalu mengangguk patuh. Tidak ada salahnya ikut bersama sang suami, mungkin dia ingin menyetujui permintaan semalam. Lagipula, Asna bukan istri yang pembangkang.
__ADS_1
Ia selalu menurut dan begitu menghormati suaminya. Asna berusaha menjadi yang terbaik untuk keluarganya.
Setelah mengantarkan Imel, Arkan melajukan mobilnya menuju butik karena sebelumnya Asna mengatakan ingin ke butik yang kebetulan Arkan melewatinya.
“Dik, nanti jam makan siang Mas jemput, ya?” Arkan menoleh ke arah Asna yang diam.
Asna sedikit terhenyak. “Untuk apa, Mas, bukankah aku sudah bawakan bekal seperti biasa?”
“Iya, Dik, tetapi Mas mau ajak kamu ke rumah sakit. Mas mau konsultasi agar kamu bisa cepat hamil,” kata Arkan tanpa persetujuan darinya. Ia sengaja agar Asna tidak melanjutkan rencana perjodohan itu.
“Tidak ada salahnya kita berusaha lagi, Dik,” cecar Arkan dengan tangan kiri yang menggenggam tangannya.
Ia dapat melihat raut wajah Asna yang kecewa dan tak terima dengan tawarannya. Namun, Arkan tak pantang menyerah. Ia yakin akan ada hasil di setiap usahanya.
__ADS_1
“Iya, tetapi mau sampai kapan, Mas? Usiaku sudah semakin tua dan wanita akan semakin berkurang memiliki tingkat kesuburan dalam rahimnya.” Asna pun menoleh menumpahkan emosinya pada Arkan.
Hatinya kembali menyeruak sesak, meninggalkan luka yang terlalu dalam. Usia itu rahasia, tetapi tidak menutup kemungkinan jika dirinya pendek umur. Begitu pun dengan Arkan, jangan sampai dia terlalu terlena dan membuang waktu yang ada.
“Tak ada yang mustahil, Dik. In syaa Allah, Allah akan membantu kita dan di sini akan segera hadir malaikat yang kita rindukan.” Arkan sudah menuntun tangannya berada di atas perut Asna dan mengusapnya pelan.
Ucapan Arkan memang selalu menenangkan, bahkan Asna terkagum dengan sosoknya yang penyabar juga penuh cinta.
Asna terisak. “Aku nggak mau membuang waktu, Mas. Lebih baik kamu terima permintaanku!” Tangannya melepaskan tangan Arkan kasar, lalu segera turun karena sudah berada di depan butik.
"Mas antar ya dik?"
"Ga usah mas, aku turun duluan ya. Nanti mas telat! Assalamualaikum." senyum Asna dengan wajah ayu bercahaya, pergi.
__ADS_1
Entah perasaan apa, istri yang bagai bidadarinya itu memintanya menikah lagi. Seketika pikiran itu membuat pikiran Arkan, semakin diambang kebingungan dan ketakutan.
TBC.