
Dira nampak cemberut menyusui bayinya, dengan sebuah botol kecil berisi air teh membuat Dira, masuki ke mulut kecilnya. Tidak pernah membayangkan, menjadi madu adalah impian kecil tidak semua bahagia, di atas penderitaan orang yang kebahagiaannya kita rampas.
Jika ia mengulang kembali, rasanya sudah terlambat jika Dira meminta maaf pun, rasanya mustahil sang istri tua pun, sudah hilang tanpa jejak. Apakah ia marah atas kejadian sembilan bulan yang lalu.
Huhuhu .. tangisan Dira pecah, membasahi tangisan bayi mungilnya, yang berada dalam pelukan Dira dengan tatapan kosong.
"Bisa gak sih, jangan nangis terus. Hah?" teriak Dira, meletakkan kasar bayi itu begitu saja.
Eaaak ... Eaaaak ...
Tangisan bayi itu semakin keras, sementara Dira ia nampak jalan ke ujung sudut bulak balik dengan tertawa, dan sedih wajahnya berubah dalam itungan detik.
Treeeth.
Suara motor bebek tahun lama, membuat Dira nampak melihat jendela. Ia senyum dan kembali menggendong bayi mungil itu, kembali pada tatapan wajah manis dan penyayang ketika seseorang datang dengan ucapan yang membuat Dira nampak berlarian menggendong bayi.
Cekleg.
"Assalamualaikum dik."
__ADS_1
"Walaikumsalam bang! bang ini Inaya kamu pegang, aku mau tidur dulu!"
Arkan nampak syok, setiap hari perlakuan Dira berubah kucel, berubah tidak penyayang dan jauh dari kata istri yang normal.
"Dik, Inaya udah dikasih susu belum?"
"Udah minum tadi, iya udah bang." jawab sekenanya, sementara Dira nampak membuka kantong plastik berwarna kuning.
"Abang bawa cuma satu bungkus aja?"
"Iya dik! hari ini maafin abang, karena upah cuci motor tadi, hanya cukup untuk membeli seporsi makanan. Mungkin karena hujan, semoga besok panas dan abang bisa belikan makanan sehat dan buah lainnya ya dik."
"Aku tuh masih menyusui bang! abang ini kenapa enggak terima kerjaan jadi kolektor aja sih bang, atau CMO yang Irham pernah hubungi abang itu loh! gak apa kalau jadi karyawan, emang masalah?"
"Astagfirullah dik, teman abang itu enggak nerima abang karena ga enak, karena abang pernah jadi bos dan klien mereka. Di tambah, abang sedang hindari yang namanya bunga, abang anti dik. Maafkan abang, yang hanya bisa buka usaha cucian motor."
Arkan sendiri nampak kewalahan, ketika Inaya menangis, ia segera membuatkan susu dan memberi susu untuk anaknya itu. Sehingga nampaklah pikiran Dira membuat ia meraih ponsel suaminya diam diam.
'Tidak ada nama Asnayah! sebenarnya si istri tua itu kemana ya? kenapa tidak ada nomor mbak Asna disana,' gumam Dira, entah pada siapa ia bicara sendiri.
__ADS_1
Arkan nampak kembali, dengan telaten memberikan susu pada putrinya. Nampak sehat dan gembil, namun ia kaget ketika pelipisnya merah membiru.
"Dik, inaya kenapa ini kok biru, apa dia jatuh?"
"Enggak! mana mungkin anak kita yang aku banggakan, bisa jatuh. Abang lupa, anak itu kan kemauan abang dan keluarga. Ya pasti Dira jagalah sepenuh hati." ketusnya, sambil membuka sambal soto.
"Astagfirullah! Dik, sudah semestinya karena kamu ibunya. Oh iya, ibu abang enggak jadi datang minggu ini. Nanti kalau ibu datang, tolong tunggu abang ya dik! tunggu sebentar kalau abang akan pulang cepat, dari cucian steaman."
"Iya bang. Emang kapan ibu mau datang?"
"Nengokin sekalian inaya, Senin depan katanya dik. Ya udah, Inaya udah bobo nih. Abang lanjut mandi dulu ya, kamu makan duluan aja!"
Dira pun mengangguk, dan melahapnya makanan soto ayam dengan nasi tanpa sisa, melupakan Arkan untuk porsinya saling setengah, ia lahap sendirian.
***
Yuks Langsung Cuss, kelanjutan Season 2.
Jangan lupa jejaknya ya kak, masuk rak supaya Update ada notif.
__ADS_1