DURI PERNIKAHAN

DURI PERNIKAHAN
SUAMI MUNAFIK


__ADS_3

Dari sudut manapun, Dira menatap cermin setelah membuka mukenanya. Terlebih Imel yang saat ini, dari belakang mencium tangannya, layaknya sang ibu membuat Dira tersentuh. Mbak Asna benar benar menjadi panutan dirinya sebagai seorang istri, dan ibu untuk anak anaknya kelak. Entah Dira tidak tahu, apakah ia bisa mendidik anaknya nanti sama seperti mbak Asna.


Imel sendiri tumbuh menjadi anak yang ceria, bahkan solehah nya yang di usia tujuh tahun, sudah fasih dalam melantunkan ayat suci. Bahkan selain materi yang cukup, mbak Asna tidak lupa membekali agama untuk Imel. Dira tak lupa berdoa di sepertiga malam, meminta allah swt memberikan yang terbaik. Dira pernah sesekali dan sering membuat bang Arkan lupa pulang ke rumah mbak Asna, seolah merebut cintanya yang begitu dalam pada Bang Arkan. Selalu ada terus menerus di dekatnya. Namun kejadian ini, membuat Dira tertampar jika cintanya yang berlebih akan membuat pencipta murka menyentilnya.


"Imel kalau sudah letih, langsung tidur ya!"


"Iya bunda. Tapi bunda Dira janjikan, besok kita jenguk bunda Asna di rumah sakit. Imel mau jenguk bunda, dan ngaji di samping bunda .. biar bunda cepat sembuh."


"Iya sayang." peluk Dira.


"Masyallah, kamu anak baik Imel sayang. Kamu begitu sholehah, terus kamu doakan bunda cepat sadar ya! biasanya, anak baik seperti Imel, sholehah seperti Imel cepat sampai dikabulkan." ujar bu Hanna.


"Iya Nek. Bunda Dira, Imel ke kamar duluan." di anggukan Dira kala itu.


Bahkan kala ini, setelah Imel keluar dari musholla dalam rumahnya yang sederhana itu. Dira menatap ibunya dan memeluk dipangkuan sang bunda.

__ADS_1


"Bu! Dira rasanya ga sanggup, bagaimana sosok mbak Asna dan ibunya yang begitu baik pada Dira. Bahkan Dira sempat jahat, ternyata saat mengantar bang Arkan ke kantor, Dira sempat lihat mobil mbak Asna, Dira ga tahu kalau mbak Asna juga membuat kemeja untuk bang Arkan. Padahal jelas saat itu Dira sempat melihat mbak Asna, pergi menjatuhkan paper bag. Dira sendiri sempat lihat itu adalah kemeja batik, tapi Dira letakkan lagi dan berlalu menuju rumah sakit. Dira sudah menjadi duri dalam pernikahan mbak Asna bu." isak Dira menyesali.


"Kamu bukan pelako-r sayang! sosok kamu dan Asna sama sama setara. Hanya saja, sudah garis tuhan. Karena Asna yang memilih kamu, itu karena petunjuknya. Jangan menyalahkan diri Nak! berdoalah meminta ampunan, letakkan diri kamu ikhlas sebagai seorang istri. Bukan merendah hanya karena kamu seorang istri kedua. Kamu mengabaikan tugasmu, besok buatkan sarapan untuk Arkan! ikhlaskan diri kamu, jika ibu berada di posisi kamu dan Asna. Bahkan ibu mana yang tidak sedih, para ibu yang melahirkan kalian tidak siap menerima semua ini."


"Tapi Dira berdosa bu! harusnya Dira tidak pernah menerima pernikahan ini. Ini sama saja, Dira bahagia di atas penderitaan mbak Asna. Bahkan Dira rasanya tidak sanggup, jika tahu sebelumnya mbak Asna sakit. Seolah orang pasti mengatakan, jika Dira pasti bahagia jika istri pertamanya sakit keras. Terlebih kemarin lalu di rumah sakit, ada bang Irham, yang tak lain partner kerja bang Arkan." jelas Dira, membuat hati ibu mana yang merasa ikut sakit batinnya.


"Jangan sedih nak! berwudhu lagi, dan shalat sunnah. Minta keikhlasan agar diri kamu lebih lapang menerima semua ini, yang kita anggap terbaik belum tentu yang terbaik. Jangan banyak sedih! kasian jabang bayi di dalam perutmu. Ingat minum susu dan buah sehabis ini ya!" pinta sang ibu, membuat Dira menurut.


Sementara Arkan, ia datang ke toko kue Asna dan butik. Ia meminta seluruh staff menghandle dan meminta mereka mengirimkan ke surel istrinya.


"Baiklah! tentukan saja semuanya, tetap berjalan seperti biasa saya dan istri saya akan handle design ini besok. Kalian tetap semangat bekerja, bantu doakan bu Asna kembali siuman!"


"Maksudnya bapak dan istri bapak? gimana ya ..pak?" tanya Reta, staff karyawan butik yang Asna percayakan, seolah bingung.


Deg!

__ADS_1


Arkan hampir lupa, seketika ia ingat Dira yang saat ini istri keduanya, yang bekerja di butik Asna bagian design. Tidak mungkin juga Arkan katakan jika Dira akan membantu, kembali bergabung menghandle kerjaan Asna dan katakan dia istrinya juga di saat kondisi saat ini, jika jujur sekarang.


'Ya rabb! bahkan seperti ini rasanya mempunyai dua istri. Maafkan saya sebagai suami yang masih lalai, dan tidak adil akan segala hal.' batin Arkan sebagai suami begitu munafik.


"Maksud saya! Dira biasa membantu Asna kan. Tolong kirim email surel Dira pada saya ya Reta!" titah Arkan, seolah agar karyawan tidak perlu tahu saat ini, padahal ia bisa saja menghubungi langsung Dira, dari ponselnya.


"Baik pak."


Arkan pun kembali menuju rumah sakit, ia sedikit membeli buah dan membawakan pakaian baru untuk Asna di rumah sakit. Arkan begitu telaten, menjaga Asna meski Asna saat ini terbaring masih koma.


"Dik, cepatlah siuman. Maafkan abang dik!" lirihnya setelah masuk ke dalam mobil. Lalu sesekali menatap ponselnya, melihat nama Dira.


TBC.


Semoga Review Cepat!

__ADS_1


Happy Reading All.


__ADS_2