DURI PERNIKAHAN

DURI PERNIKAHAN
MELAMAR ISTRI BARU


__ADS_3

Asna telah menyiapkan gaun untuk Imel juga setelan gamis untuk dirinya dengan warna yang senada. Tak lupa jas khusus suaminya yang dibuat balutan cinta, tanpa berkurang sedikit pun.


“Maafin Bunda, ya, tetapi Bunda sudah selesai ko. Sekarang kamu mau apa?” Asna mengalihkan pembicaraan agar Imel tak banyak bertanya.


Lagipula, usia Imel belum paham apa itu pernikahan dan belum saatnya diberitahu. Namun, Asna akan memberitahu secara perlahan dengan kalimat yang baik dan bisa diterima oleh hatinya.


“Imel sedikit kesulitan mengerjakan tugas matematika. Bunda bisa bantu?” Imel mengutarakan permasalahannya langsung.


“Boleh, Sayang. Ayo!” Asna langsung bangkit dan membantu mengerjakan tugas Imel yang belum selesai.


Setelah itu mengajak Imel mandi dan siap menyambut suaminya pulang. Tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama sehingga Asna sudah lebih dulu peka. Ia membersihkan diri, berdandan yang cantik, lalu bersih-bersih rumahnya di lantai bawah.


Tak lama, Arkan pun pulang dan melihat sang istri yang berpenampilan cantik nan ayu. Seketika rasa lelah yang mengantui pun hilang begitu saja.


“Hmm, istrinya Mas sudah wangi ternyata.” Arkan mengendus aroma tubuhnya saat mengecup pucuk hijab Asna.


“Iya dong, biar Mas nggak marah lagi,” kekeh Asna menampakkan gigi putihnya.


“Mas senang, kamu cantik sekali, tetapi Mas nggak bisa godain kamu kalo gitu.” Arkan menatap lekat wajah sang istri. Alisnya naik turun dengan tangan yang bertengger di pinggang Asna.


Siapa yang tidak makin cinta jika tubuh lelah dan kepala pening, lalu disambut senang oleh istrinya yang cantik seperti ini.


Asna yang paham ke mana arah perkataan suaminya hanya bisa tersenyum. Tangannya merangkul ke punggung kekar Arkan dan merengkuhnya erat.

__ADS_1


Beberapa menit, Asna kembali melepaskan. Ia tidak ingin Imel melihat aksi kedua orang tuanya yang tidak mengenal tempat. Mata Imel belum pantas mempertontonkan sikap bunda dan abinya.


“Godainnya nanti saja, ya, Mas. Lebih baik kamu mandi, bau asem.” Asna meledek seraya menekan hidungnya, lalu ia berjalan meninggalkan Arkan yang masih mematung.


Arkan membulatkan matanya. Padahal, tadi dia sendiri yang memeluk dan sekarang malah mengatai. Merasa tak terima, ia pun mengejar Asna hingga berujung kejar-kejaran bak pengantin baru.


Hari demi hari, Asna melalui dengan kesan yang melekat di hati. Bahkan, sebanyak mungkin memberi kenangan untuk dirinya juga Arkan.


Tidak ada yang tahu jika takdirnya akan berubah di tahun menuju delapan tahun pernikahan. Namun, rasa cinta di hati tak ada yang berubah sedikit pun. Dalam hitungan jam ke depan, Asna akan menerima anggota baru yang menjadi keluarga sekaligus istri kedua Arkan.


Siap tidak siap, Asna harus siap mengantarkan suami tercinta menuju gerbang pernikahan kedua.


“Dik, kamu benar yakin?” Pertanyaan kesekian kali yang Arkan lontarkan kepada Asna.


“Yakin, Mas. Asna ikhlas dan merestui pernikahan kedua Mas.” Mata Asna berkaca, tak bisa berbohong dengan kenyataan yang ada.


Mendekati detik-detik hari bahagia, justru semakin kerasa yang mengganjal di hati. Namun, Asna tak bisa lagi memundurkan waktu, sebab semuanya sudah di depan mata.


Cup!


Arkan mengecup kening Asna yang sudah berdandan cantik, bahkan wanita itu tak pernah berubah sama seperti waktu pertama kali bertemu. Bayangannya berputar mundur tentang tujuh tahun silam.


Hari Tiba Waktunya :

__ADS_1


Arkan berada di posisi seperti ini dengan jantung yang berdegup kencang, lalu ikrar janji yang diucapkan dengan lantang untuk setia seumur hidup. Namun, manusia hanya punya rencana dan takdir hanyalah milik Allah semata.


“Ayo, Mas, semua sudah menunggu.” Asna mengajak suaminya untuk segera berangkat.


Acara berada di kediaman mempelai wanita dan Asna akan setia menemani Arkan sampai tempat tujuan. Genggaman pun tak terlepas seolah Arkan tak ingin jauh darinya.


Beberapa menit kemudian, Asna sudah sampai dan sebelum turun ia memastikan penampilan Arkan sudah sempurna. Ia membenarkan kopiah di kepala juga sorban yang bertengger di lehernya.


“Bismillah, Mas.” Asna menguatkan sang suami dan melangkah bersama, Asna terus merangkul lengan Arkan dengan tangan kanan yang membawa mahar untuk pengantin wanita.


Banyak pasang mata yang memerhatikan kehadiran Arkan dan Asna dengan bisikan demi bisikan yang bisa didengar oleh Asna.


Ia tak peduli dan tetap memasang senyum sumringah mengantarkan Arkan ke hadapan penghulu. Bahkan, ibunya Dira pun sudah berada di sana dan tak lupa memberi salam kepadanya.


Ibu Dira tampak menangis, tetapi Asna menguatkan dan tetap tersenyum agar tidak membuat beliau terluka.


Tak lama mendapat intruksi dari penghulu dan Arkan melirik ke arah kekasihnya yang berada di hadapan. Hatinya meragu, tak tega menyakiti.


Asna yang menyadari kegugupan suaminya pun tersenyum dan mengangguk jika tidak masalah dengan dirinya. Saat itu tangannya menyentuh sudut bibir yang memperlihatkan kepada Arkan agar tetap rileks dan senyum.


“Kamu pasti bisa, Mas,” lirih Asna menyemangati, sebelum suaminya bertemu mempelai wanita.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2