
Sudah minggu ke dua Asna masih tidak sadarkan diri. Tidak luput Arkan menuntun harapan, jika Asna siuman. Ia ingin berjanji akan menjaga Asna sampai sembuh dari sakitnya. Hal itu juga ia sudah memutuskan pada Dira, meski Dira kala itu kelu tidak membalas sepatah katapun.
Saat ini pun Dira rasanya lemas untuk menuntut! bahkan rasa mual dan muntah muntahnya membuat Dira menyempitkan, jika dirinya butuh bang Arkan ia sembunyikan.
'Jika takdir istri kedua, sebagai madu adalah mengalah. Dira ikhlas mbak! Dira ingin mbak Asna sembuh, tidak ada harapan bagi Dira, melihat bang Arkan tersenyum lagi. Dira yakin, kebahagiaan bang Arkan adalah mbak Asna.' batin Dira sesekali menoleh ke ranjang rumah sakit, yang saat itu Arkan disampingnya sedang membaca lantunan ayat suci, bersama Imel.
"Ndok, jika tidak kuat. Sebaiknya pulang saja!" ujar ibu Hanna.
"Ga bu, Dira masih ingin disini."
"Tidak baik kamu memaksa ndok! kasian bayi kamu di dalam perut juga harus di pikirkan. Apa sebaiknya ibu bilang Arkan?"
"Jangan bu! Dira ga mau ganggu, bang Arkan!"
Dira saat itu terlihat pucat, Arkan yang selesai pun menutup ayat suci! menciumi dan meletakkan di samping bantal. Tasbih tak hentinya ia sematkan, setelah itu Imel pun sama ia menatap Abie nya dengan wajah sedih.
"Abie, bunda kapan siuman ya?"
"Sabar sayang! bunda pasti siuman kok. Hanya saja bunda saat ini sedang lelah, bunda ga boleh capek. Jadi pencipta minta bunda tidur sejenak, kita berdoa. Abie yakin, bunda sebentar lagi siuman."
Imel yang memeluk bunda Asna, tiba saja di terdengar suara Dira di sebelah, membuat Imel ketakutan saat ia berdiri. Arkan menoleh hampiri Dira kala itu, terlihat juga ibu mertuanya menyangga Dira.
"Ya allah ndok! bangun Dira, ibu ga mau kamu kenapa kenapa."
"Bu, Dira kenapa ..?"
__ADS_1
"Abie Imel panggil suster ya." reflek anak cantik itu, yang tidak ingin semua bundanya sakit.
"Iya sayang. Makasih."
"Ibu udah minta Dira pulang, dari kemarin dia muntah ga mau makan. Ibu mau bilang sama kamu, tapi Dira melarang. Jadi ibu bingung Arkan."
"Astagfirullahaladzim! biar Arkan gendong bu! Maafin Arkan ya bu, kalau ada apa apa. Arkan minta tolong ibu jangan sungkan, meski Dira melarang!"
Ibu Hanna mengangguk, ia sudah sedih melihat putri satu satunya bernasib seperti ini. Sehingga kala itu Arkan menggendong dan membawa ke ruang igd, kala suster membawa ranjang. Terlihat Dira masuk ke dalam, tak lupa Arkan menciumi jemari Dira sebelum pintu igd tertutup.
"Dik! kamu dan Asna sama rata, mas tidak membedakan. Abang masih belajar menjadi suami yang adil, abang mencintai kamu dan anak kita dik!" lirihnya.
Dira sendiri yang masih setengah sadar menahan sakit, ia senyum ketika mulut Arkan mengucapkan hal yang membuat Dira terbalas. Menetes air matanya membuat Dira mengucapkan syukur. Tapi ia ingat mbak Asna, mungkin rasa sakitnya lebih parah dari yang Dira alami.
Sementara Imel memeluk Abienya, hal itu membuat Arkan duduk, tak lama ibu Yola dan ibu Nira datang bersamaan.
"Gimana Arkan, bagaimana Dira sekarang?" tanya Nira.
"Masih di cek di dalam sama dokter bu. Ibu Arkan boleh minta tolong! Ibu bisa jagain Asna dulu, sebab Arkan menunggu Dira disini sampai dokter datang."
"Iy nak. Kita doakan Dira baik baik saja."
"Terutama calon bayinya! Jeng Hanna, harusnya sering di cek dong Dira, kamu juga Arkan perhatiin Dira, jangan Asna terus." cetus Yola, membuat Arkan menghela nafas.
Memang saat itu Nira dan Yola tak sengaja datang bersamaan, bertemu di parkiran.
__ADS_1
Imel saat itu menghampiri nenek Nira, Arkan sendiri kebingungan tak bisa membantah. Jujur saja ini hal yang membuat Arkan penat melihat dua ibu mertuanya, dan ibunya yang selalu bicara blak blak an membuat Arkan tidak enak hati.
"Maafin Arkan ya bu! Arkan akan lebih berhati hati lagi, dan peka saat ini." ucapnya.
"Imel, kita ke bunda Ya! nanti kalau bunda Dira udah siuman, di pindahkan kita jenguk."
"Iy nek. Abie .. Imel ikut nenek ya!"
"Iya sayang. Makasih bu. Imel maafin Abie ya. Kalau Imel capek, Imel di rumah pulang ya."
"Kamu ga usah khawatir Arkan, ibu akan jaga Imel dan anak ibu dengan baik." cetus Nira, membuat tatapan kesal pada Yola, besannya itu.
Sementara ibu Hanna sendiri terlihat diam saja, ia tidak bisa berfikir banyak selain keselamatan putrinya Dira baik baik saja.
Arkan sendiri melihat ibu mertuanya dan Imel beranjak, sementara ibunya menghubungi seseorang.
"Bu! Arkan minta tolong! Jaga hati bu Nira dan Imel bu."
"Heuumph! Ya udah kamu fokus aja sama Dira! kan si Nira mertuamu itu tadi yang bilang, bisa jaga Imel dan putrinya yang penyakitan itu." ketusnya, membuat Arkan dan bu Hanna mengelus sabar.
"I-ibu .." sentak Arkan, saat ibunya berbicara seperti itu.
Tak lama dokter keluar, membuat tatapan Arkan mendekat tak jadi menegur ibunya sendiri.
TBC.
__ADS_1