DURI PERNIKAHAN

DURI PERNIKAHAN
INGATAN TAKDIR


__ADS_3

SEBULAN LALU :


Saat ini, Asna memang sedang berbincang dengan Dira. Tapi Asna ingat, sebelum ia mendapat tawaran konyol sebagai istri kedua, Dira hanya bisa menatap Asna yang saat itu membuatkan sesuatu.


Beda hal, kenyataannya Asna juga ingat sebelum ia menjadikan Dira sebagai madunya, itu semua karena ingatan sebulan lalu.


Flashback :


Asna yang berlari masuk agar Arkan tak mengejarnya. Air mata sudah bercucuran tak peduli dengan karyawan yang menatapnya. Ia segera mengunci pintu ruangannya, lalu meremas sesak, kuat di balik pintu.


“Semakin kau usik, semakin sakit hatiku, Mas,” lirih Asna dengan bibir yang bergetar.


Langkahnya berjalan menuju jendela, mengintip mobil Arkan yang sudah menghilang. Ada rasa bersalah karena sikapnya yang sedikit kasar.


Suara pintu terketuk, Asna segera menghapus air matanya dan memastikan jika tetap aman dipandang. Ia pun membuka pintu dan terlihat wanita muda yang anggun serta menampakkan wajahnya sedikit resah.


“Mba Asna, are you oke?” tanya Dira kala melihat atasannya yang tak biasa. Pintu ruangan terkunci dan tak berkata sedikit pun di hadapannya.


Asna pun merekahkan bibirnya lebar. “Saya baik-baik saja, Dira. Apa ada yang harus saya kerjakan?”


Terlihat wanita itu membawa beberapa berkas, sepertinya memang ada hal penting yang harus dibicarakan. Saat itu, Asna mempersilakan asistennya untuk duduk.


“Tapi, Mba Asna benar baik-baik saja, ‘kan? Tadi kata anak-anak Mba menangis,” ujar Dira kembali memastikan.


Ia memang tidak ingin ikut campur dalam hal pribadinya, tetapi melihat atasan sekaligus kerabat dekatnya, bersedih seolah hatinya ikut terenyuh.


“Saya, nggak apa ko. Sekarang apa masalahnya?” Asna mengalihkan pertanyaan tidak ingin terus didesak yang membuat hatinya semakin berontak.


“Baiklah, Mba, saya hanya ingin memberikan hasil laporan desain kemarin. Menurut saya, lebih elegan gambar yang C, tidak terlalu mencolok dan anak muda pasti sangat menyukai. Jangan lupa warnanya berikan yang terbaru agar lebih fresh,” jelas Dira memberitahu dengan membuat pola dan catatan di samping gambar tersebut.

__ADS_1


“Hmm, jadi kamu lebih suka gambar yang C?”


Dira pun mengangguk antusias bersamaan dengan senyum Asna yang melengkung.


“Kalo gitu berikan saya rating warna yang menurutmu paling fresh.” Asna memberikan peluang pada Dira untuk mengekspresikan semua idenya.


Memang hampir setiap hari selalu bertukar pikiran, sehingga tahu betul sikap Dira yang tak kalah antusias. Dia berkontribusi begitu adil demi butiknya.


Setelah berbicara panjang lebar, kali ini tatapan Asna begitu serius. Ia sudah menemukan kandidat yang tepat untuk menjadi madunya.


“Apa masih ada yang kurang, Mba?” Dira kembali bertanya sebelum dirinya ke ruangan.


“Saat ini cukup. Nanti jam makan siang kita lanjutkan ngobrolnya di kafe depan butik, ya, ada beberapa hal yang ingin saya bicarakan,” tutur Asna tegar.


Dira hampir terhenyak. Namun, ia segera menyadari dan pamit dari ruangan atasannya itu. Sedikit sesak naik turun memikirkan ucapan Mba Asna tadi. Entah apa kesalahannya sampai hendak berbicara di luar.


Dirinya pun tak ingin pusing. Sebelum ketahuan kehadirannya yang masih berdiri di depan pintu, ia segera melangkah menuju ruangannya.


Semua tampak stabil dan aman membuat Asna harus memberikan reward pada dirinya sendiri. Wanita biasa yang hanya bermodalkan nekat berhasil menjalankan dua usahanya sekaligus. Kerja keras yang dijalani memberikan hasil terbaik untuk keluarganya.


Pasalnya, Asna tidak hanya memiliki butik, tetapi ada toko roti yang cukup digemari oleh para anak muda. Ia merupakan wanita mandiri sejak sekolah dulu sehingga dirinya berhasil menjadi wanita karir seperti yang diimpikan orang tuanya. Wanita itu begitu disiplin dan profesional.


Kini, sudah memasuki jam makan siang, dirinya bersiap untuk menemui Dira. Laptop sudah dimatikan, lalu membereskan beberapa tumpukan kertas yang berantakan.


Tak lama, ponsel yang terletak di atas meja menimbulkan suara nyaring di telinga. Tatapannya langsung beralih memandang layar ponsel yang menyala. Namun, justru Asna mengabaikan setelah mengetahui nama yang tertera di layarnya. Berselang beberapa detik terdapat pesan masuk dari nama yang sama.


[Dik, please, angkat telepon Mas!]


Asna menghela napas malas. Ia tidak ingin kembali bertengkar jika membahas perkara yang tadi pagi. Namun, kesopanannya masih sadar sehingga membalas pesan sang suami.

__ADS_1


Berselang beberapa detik, ponsel Asna kembali berdering. Asna langsung mengangkat dan mendengarkan suara lembut Arkan di sana.


Rasanya ingin menangis karena kedurhakaannya terhadap suami, tetapi tidak dengan Arkan yang justru tetap memberi ketenangan dan kenyamanan pada Asna.


[“Dik, maafkan Mas. Mas sudah membuat kamu marah. Sekarang Mas ke butikmu untuk makan siang, ya?”]


Batin Asna menjerit. Pasti Arkan ingin membujuk dirinya agar mau ke rumah sakit. Sungguh, apa dirinya harus melakukan itu?


“Maaf, Mas, Asna nggak bisa karena sudah janji sama para karyawan untuk makan siang bersama.” Asna menggigit bibir bawahnya ragu. Semoga suaminya percaya dan tak ada lagi drama yang mengharuskan dirinya naik darah.


[“Baiklah kalo gitu, Dik. Jaga kesehatan, ya, jangan terlalu memforsir pekerjaan, nanti pulangnya Mas jemput.”]


Asna pun mengiyakan. Baru kali ini dirinya berbohong pada suami, ia memejamkan mata dan menyekanya untuk membersihkan air yang sudah membasah di pipi.


“Mba Asna.”


Asna menoleh kala melihat wanita itu sudah berada diambang pintu. Ia sedikit tertegun, berharap tidak mendengar pecakapannya tadi.


“Ah, iya, Ra?” Asna seolah lupa jika membuat janji dengannya saat jam makan siang.


Dira melangkah maju, lalu mengingatkan jika masih ada hal penting yang akan dibicarakan. Seketika, Asna memegang pelipisnya, lalu bangkit memasukkan ponselnya ke dalam saku.


“Saya ingat, ayo!”


Dira semakin bingung dengan sikap atasannya yang aneh, tetapi ia tidak ingin kepo dengan urusannya. Mungkin saja Mba Asna sedang banyak pikiran sehingga membuatnya tak fokus.


Sesampainya di kafe, Asna dan Dira duduk berhadapan. Jantungnya bersahutan seolah sedang bertatapan bersama pria asing.


“Nggak usah tegang, Dira. Kita pesan makan dulu saja, biar rileks.” Asna memanggil salah satu waiters, lalu memesan beberapa menu untuknya dan Dira.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2