DURI PERNIKAHAN

DURI PERNIKAHAN
KEKUATAN DOA


__ADS_3

Seluruh sekitar taman, Imel tak ditemukan. Asna frustasi dan hampir menyerah, tetapi feelingnya begitu kuat jika Imel masih berada di sini.


“Imel, kamu di mana?” Asna berteriak sendiri tanpa ada orang yang peduli terhadapnya.


Miris, sedih, dan sakit menjadi satu. Bahkan, melapor pada pihak keamanan taman pun belum ada tanda-tanda Imel ditemukan.


“Imel, maafin Bunda,” lirih Asna berjalan seperti orang tak waras. Ia merintih sembari menyusuri sepanjang jalan taman yang kembali pada jalan utama.


Ia juga bertanya kepada para pengunjung taman, sembari menunjukkan foto Imel dan jawabannya tidak ada yang tahu. Tak ada berhentinya Asna terisak memanggil nama Imel. Entah di mana keberadaan Imel sekarang, mengapa dia pergi tanpa berkata apa pun.


Tungkai kaki Asna lelah. Ia pun memilih duduk sejenak sembari menghubungi pihak keamanan taman karena tadi sempat meminta nomor ponsel untuk saling bertukar kabar.


Sudah hampir dua jam Asna belum menemukan Imel. Ia patut disalahkan jika benar Imel menghilang, menyesal tak memerhatikannya tadi.


“Argh, Imel kamu di mana, Nak?” kata Asna meringis sembari memegangi kepalanya yang ingin pecah.


Tak lama, ponsel yang dipegang Asna bergetar. Ia mengusap air matanya perlahan, lalu menatap layarnya barangkali dari bagian keamanan. Namun, baru saja membalikkan ponsel tertera nama Mas Arkan membuat Asna menghela pasrah.


Ia kembali membalikkan ponselnya, lalu menyadarkan tubuhnya di kursi. Ia tidak ingin mengangkat ponsel dari Arkan, sebab akan menanyakan tentang Imel.

__ADS_1


Dirinya belum siap dicecar dan dimarahi karena yang tidak bisa menjaga Imel. Arkan yang terkenal lembut, tetapi dia sangat protektif terhadap Imel.


Bahkan, Asna tak berniat mengatakan masalah ini pada Arkan. Ia tidak ingin terus ketergantungan padanya dan sebisa mungkin ia bisa menyelesaikan sendiri.


“Maafin Asna, Mas,” rintih Asna pelan.


Getarannya pun terhenti, Asna langsung merubah mode ponselnya menjadi silent. Kemudian, memasukkan ponselnya ke dalam tas dan kembali berjalan mencari sang putri.


Sedangkan Imel merintih kesakitan di bawah pohon dengan lutut yang ditekuk. Ia juga terisak terus memanggil sang bunda. Imel tidak tahu ada di mana, ia tak bisa berjalan karena lututnya terluka.


“Bun-da,” rintih Imel meringis.


Hiks! Hiks!


Ia tidak tahu jalan pulang dan keasyikan mengejar kucing, sampai lupa pada Bunda yang menunggunya tadi.


Kini, ia merenung sendiri memerhatikan sekitar tidak ada orang satu pun yang melintasi jalanan ini, bahkan sedari tadi meminta tolong rasanya tak ada orang yang mendengar.


“Bunda ... Imel di sini,” kata Imel pelan. Ia merindukan Bunda dan ingin pulang.

__ADS_1


Tangisannya semakin menjadi dan memeluk lututnya penuh ketakutan, berharap ada seseorang yang mengetahui keberadaannya.


“Jika sesuatu hal buruk terjadi, jangan lupa untuk terus berdoa, ya, Nak. In syaa Allah, Allah memberimu pertolongan.” kata kata Asna tersemat dipikiran Imel.


Kalimat penuh makna baru saja muncul dalam benak Imel. Ia teringat akan pesan Bunda yang selalu memberi kebaikan kepadanya.


Saat itu juga Imel mengadahkan tangannya ke atas, dengan kepala yang sedikit mendongak menatap pohon, begitu lebat sehingga bisa melindungi tubuhnya dari teriknya matahari.


“Ya Allah, tolong Imel, beritahu Bunda jika Imel sedang merasa kesulitan. Engkaulah Maha Pengasih juga Maha Penolong. Aamiin.” Imel langsung mengusap wajahnya semoga Allah mendengar doanya.


“Imel, Nak, Imel.”


“Bunda, Bun, Imel di sini,” balas Imel saat mendengar sayup suara sang bunda. Ia yakin jika yang memanggil tadi bundanya.


Benar apa yang bunda ajarkan, meminta sama Allah langsung diberikan, dan suara bunda pun semakin jelas dan terdengar di telinga.


"Imel, Nak." peluk Asna, begitu menyayat hati.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2