DURI PERNIKAHAN

DURI PERNIKAHAN
SARAN DOKTER


__ADS_3

Arkan menahan lengan Asna saat hendak pergi dari hadapannya, lalu merengkuh erat tubuh wanita yang begitu dicintainya.


“Dik, Mas nggak mau kehilanganmu,” lirih Arkan sepenuh hati.


Asna menghela napas panjang, lalu kembali melepaskan dekapannya.


“Mas ... aku akan tetap ada untukmu. Bahkan selalu ada dan menjadi istrimu, walau kamu akan menikah lagi.”


Suara berat Asna yang tertahan, tidak terpikir hidupnya akan serumit ini. Apalagi dirinya sendiri yang meminta sepenuh hati kepada suaminya.


Perlakuan Arkan juga tak berubah sedikit pun. Meskipun tidak ada kehadiran sosok bayi, tetapi selalu bersikap layaknya pengantin baru. Entah terbuat dari apa hati Arkan sesungguhnya.


“Mas tetap menolak, Dik, dan Mas mau kita usaha cara lain, asalkan tidak menikah lagi. Lagipula sudah ada Imel, kenapa tidak fokus saja dengannya. Bukankan dia juga sudah menjadi anak kita?” cecar Arkan menelisik hati istrinya.


"Tapi Imel, bukan darah daging mas. Tentu saja, hal seperti ini membuat aku sakit. Tidak sempurna menjadi istrimu mas."


Bagaimanapun caranya, ia tidak ingin mendua. Berpoligami memang diperbolehkan, hanya saja berat bagi Arkan menjalani.


Asna terdiam sejenak. Imel memang sudah menjadi anaknya walau sekedar anak angkat, tetapi semua dilakukan untuk memancing dirinya agar bisa cepat mengandung, tetapi sampai saat ini tidak berpengaruh apa pun bagi dirinya dan ia juga sangat mencintai anak itu. Pada dasarnya Imel tetap akan selalu disayang, tapi niatan nya benar benar tidak mendapat restu, kala Asna tak kunjung hamil.


Namun, tetap saja ia ingin merasakan sebagai wanita yang dapat melahirkan dan menyusui langsung dari tubuhnya sendiri. Keinginan dan harapannya begitu besar untuk menjadi wanita sempurna.


“Apa perlu kita mengadopsi salah satu bayi yang baru lahir, Dik?” tawar Arkan. Pasalnya banyak bayi yang masih membutuhkan orang tua angkatnya seperti Imel.


Hati Asna semakin meringis. Apa dirinya terlalu egois? Bahkan, Arkan terus membujuk agar pernikahannya itu tidak terjadi.


Bibirnya kelu semakin tak bisa berbicara. Semua rasanya tidak mudah untuk mengatakan iya dan tidak.

__ADS_1


“Dik, jawab pertanyaan Mas?” Arkan menggerakkan kedua bahu Asna dengan sedikit cengkeraman.


“Mas, kenapa Mas selalu memikirkan perasaanku? Padahal Mas juga menginginkan seorang anak, ‘kan? Mas egois hanya karena alasan cinta,” tutur Asna yang emosinya semakin meletup di ubun-ubun.


“Aku tahu doa Mas di setiap malam yang selalu meminta untuk dihadirkan seorang anak. Mas juga membutuhkan penerus untuk ke depannya, bukan?”


Suara Asna semakin meninggi, bukan maksud membantah, tetapi sudah seharusnya Arkan sadar jika dia pun butuh penerus untuk hidupnya. Tidak mungkin selalu mengandalkan dirinya sendiri sampai tua nanti.


Hampir setiap malam, Asna menangis dalam diam memerhatikan sosok suaminya yang terus berdoa dan meminta dengan doa yang sama. Jujur, hati Asna sedih melihat kesabaran dan ketabahan Arkan selama ini.


Namun, Asna juga tak bisa berdiam diri terus. Selagi masih memiliki umur dan Arkan yang tampak gagah, tidak ada salahnya untuk menanam benihnya pada wanita lain.


“Ingat, Mas. Mas juga perlu bahagia dengan kehidupan Mas yang sesungguhnya.” Suara Asna melemah, menatap wajah Arkan terisak membuat hatinya semakin rapuh.


“Aku memberi jalan halal daripada Mas harus jajan di luar, karena tidak mendapat kepuasan dariku.”


Sudah cukup perdebatan malam ini yang mengguncang hati. Ia tahu jika perkataannya tadi mungkin menyakitkan, tetapi dirinya hanya mengucapkan kejujuran yang ada.


Hatinya merintih di balik pintu kamar mandi dengan emosi yang bergulung dalam hati, tetapi Asna menguatkan dirinya sendiri. Ia membasuh wudhu untuk meredam emosinya, lalu memilih memejamkan matanya secepat mungkin.


Sedangkan Arkan masih berdiam diri seolah sedang mimpi dengan apa yang terjadi. Ia ingin menyadarkan mimpinya yang amat menyakitkan. Kenapa bisa istrinya berfikir bukan bukan, dan meminta di luar pikirannya.


Arkan pun melangkah masuk ke dalam dan terlihat wanitanya sudah terbaring dengan mata sembab yang tertinggal di kantung matanya.


Sungguh, hati Arkan sedih melihat Asna seperti ini. Kakinya berjalan maju, memberi kecupan dan membenarkan selimut untuk menutupi tubuhnya.


“Mas sangat mencintaimu, Dik!” lirih Arkan menahan air matanya.

__ADS_1


Malam yang menyakitkan dengan mengeluarkan segala emosi sudah berganti, membuat hati Asna seolah lupa pada apa yang sudah terjadi.


Terdengar suara shalawat yang membuat telinganya terusik, Asna mengerjap dan menoleh ke arah sang suami yang masih terlelap pulas. Ia pikir suaminya marah dan memilih tidur di kamar lain, tetapi ternyata tidak.


Kakinya pun mulai beringsut pelan, Asna berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, lalu berwudhu dan melakukan salat sunah dua rakaat sebelum Subuh tiba.


Tangannya memohon meminta lembutkan hati suaminya, untuk mempertimbangkan permintaan yang diajukan semalam. Tidak ada yang bisa meluluhkan hati suaminya kecuali Sang Pemilik Hati.


Walau semalam ada badai yang menyerang bukan berarti tugas Asna lalai dalam melayani suami. Kini, tubuhnya sudah berdiri di samping Arkan memandang wajahnya yang tampak lelah.


“Mas, bangun nggeh. Cup!” Bibir Asna sudah mendarat di pipi suaminya.


Seperti biasa, Asna selalu membangunkan suami di kala menjelang Subuh. Kewajiban dalam menjalani rumah tangga tak pernah terlewat selama tujuh tahun berjalan.


Ia begitu memaklumi Arkan jika tak bisa bangun di sepertiga malam, tetapi tidak akan membiarkan suaminya tetap terlelap, di waktu fajar. Waktu terbaik untuk mengawali hidup yang sebenarnya.


Arkan pun menggeliat, merentangkan kedua tangannya ke atas, lalu membuka matanya perlahan. Seketika bibirnya merekah melihat sosok wanita ayu di hadapannya.


Wajahnya yang saling berhadapan membuat Arkan mudah membalas kecupannya.


Cup!


Ia sedikit menahan kecupannya di kening Asna, lalu tangannya sudah melingkar erat di pinggang sang istri.


“Sebentar lagi Subuh, Mas,” lirih Asna. Sudah menjadi kebiasaan akan mendapat sikap manja suaminya setiap pagi.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2