DURI PERNIKAHAN

DURI PERNIKAHAN
BERNIAT JUJUR


__ADS_3

“Bunda kopinya ditunggu Abi.”


Belum juga Dira menjawab, tetapi Imel sudah berteriak sehingga mau tidak mau Asna mengantarkan kopi tersebut.


“Bagaimana jika aku nanti egois, Mba,” lirih Dira dalam hati.


“Justru aku akan menyakiti hatimu nantinya.” kembali Dira, yang kala melangkah setelah mas Arkan tiba, seolah menghampiri istri tercintanya, yakni mbak Asna, bukan aku.


Ah, Dira rasanya terjebak dalam cinta masa lalunya, sehingga entah bagaimana kehidupan selanjutnya. Namun, ia tetap meyakinkan diri dan berjalan di atas pertolongan Allah untuk mendapat keadilan yang diridhoi.


Setelah melihat Asna pergi, Dira pun berjalan di belakangnya. Sebelumnya ia membawa piring yang berisi pisang goreng yang sempat Dira beli di jalan tadi.


Duduk di antara mereka, Dira terlihat sebagai penghancur keharmonisan mereka. Pasangan yang jelas mendapat predikat best couple, harus tertindas karena perihal tak mendapat momongan.


Sehingga wanita setulus Mba Asna mengizinkan wanita lain masuk ke dalam rumah tangganya. Sungguh, membuat dirinya tak pantas. Jauh berbeda dengan Mba Asna yang terbilang sempurna.


“Ayo, Ra, diminum tehnya.” Asna membuyarkan lamunan, Dira yang diam sedari tadi.

__ADS_1


Sang empu pun terkesiap dan mengangguk tersenyum, seolah terlihat baik-baik saja. Ia tidak ingin Mba Asna curiga karena sikapnya.


“Imel, kita main yuk,” ajak Dira pada gadis kecil yang duduk di samping abinya itu.


“Ayo, Bunda.” Dengan senang hati dan semangat Imel mengiyakan jawabannya.


Lagipula sudah lama Imel tak ada teman untuk bermain, sedangkan Bunda selalu sibuk bekerja, tetapi bukan berarti Imel membandingkan. Ia mengerti keadaan Bunda dan beliau selalu berusaha menemani Imel di tengah kesibukannya.


Sedangkan Dira penuh sumringah menarik lengan Imel untuk bermain. Ia yakin dua pasangan itu ingin saling berbincang dan butuh waktu berdua. Dira sengaja memberi ruang untuknya.


Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya dan saling bercakap. Bahkan, Mba Asna berhak tahu tentang siapa sebenarnya Dira. Agar dirinya menjadi madu, tidak disalah artikan.


“Dik.” Suara bass yang beberapa detik lalu terdiam, kini menggema di telinga Asna.


Sejak awal tak bercakap seolah tak mampu karena sudah menyakiti dua wanita sekaligus.


“Maafkan Mas, kamu marah sama Mas?” Kepalanya mendongak menatap sang istri solehah.

__ADS_1


“Tidak ada alasan untuk aku marah sama Mas Arkan. Lagipula kenapa harus Mas meminta maaf, bahkan hubungan kita baik-baik saja,” kata Asna tak mengerti dengan Arkan.


Pria yang tegas dan ceria kini berubah menjadi diam seribu bahasa. Entah apa yang membuatnya diam seperti itu, apa karena dirinya yang tak setuju terhadap Dira? atau takut, kala istrinya lebih dulu tahu, dari masa lalunya, atau mertuanya kelak. Jika Dira, adalah mantan kekasih Arkan, sejak masih belia berstatus university.


Asna tidak tahu, sebab Arkan yang merasakan sendiri dan biarkan itu menjadi urusan Arkan dengan Dira dan Asna tidak perlu mengetahui sebagaimana rumah tangga orang lain ada hal privasi yang harus dijaga.


“Kedatangan Mas ke sini ingin mencari rumah untuk Dira agar Mas bisa dekat dengan kalian,” ujar Arkan jujur.


Mengingat dirinya yang harus adil sehingga mempermudah berpindah rumah jika berdekatan. Selain itu, ia juga tak ingin berjauhan dari Imel. Gadis kecilnya yang selalu dirindukan.


Asna tak memberi komentar. Itu sudah menjadi hak Dira dan kewajiban Arkan untuk memberi kehidupan yang layak sebagai suami. Sudah seharusnya Arkan bersikap begitu dan bisa saja jauh lebih dari apa yang Asna bayangkan. Tapi bibirnya kelu, bagaimana bisa jika mas Arkan mencari rumah disekitar komplek, apa tidak akan jadi masalah dengan para tetangga nanti.


'Astagfirullah,' batin Asna, kembali berfikir positif.


“Aku nggak melarang, Mas,” tutur Asna singkat, sesaat ia diam memberi jawaban dengan senyuman terindahnya. Beginikah rasanya, berbagi suami.


“Ada sesuatu yang ingin Mas bicarakan, Dik, tetapi nggak di sini.”

__ADS_1


Asna tertegun dan sangat sulit untuk menelan saliva yang tersangkut di tenggorokannya. Menatap mimik wajah Arkan yang tampaknya ada hal serius, lalu melirik ke arah Dira yang asyik bermain bersama Imel di ruang depan. Apakah mas Arkan ingin mengatakan hal yang amat serius. Diam seribu bahasa Asna, kala menatap suaminya.


TBC.


__ADS_2