
Asna mengernyit tulisan kertas yang pernah diberikannya kepada Dira. “Kenapa dikembalikan?”
Dira menghela napas. Ia merasa bukan haknya sehingga sudah sewajibnya mengembalikan kepada sang pemilik.
“Ini hak Mba Asna dan kemarin Mas Reno nggak mau menerima karena ikhlas membantu saya, Mba.” Dira menjelaskan.
Saat itu, Asna memberikan cek berupa jumlah uang yang telah ditulis sesuai jumlah yang Reno keluarkan. Ia ingin melepaskan Dira dari hutang piutang agar kehidupan ke depannya dapat tenang dan tenteram.
“Dia juga menerima keputusan saya yang telah menolak lamarannya dan mendoakan untuk saya ke depan.”
Dira juga memberitahu betapa baiknya Reno, tetapi tidak tahu hatinya sebenarnya.
Mungkin saja pria itu kecewa. Namun, Dira tak bisa memaksakan semua yang bertolak belakang dari hatinya. Keputusannya sudah matang, sama sekali tidak berniat membuat Reno kecewa.
“Ya sudah kamu simpan uangnya untuk berobat jalan Ibu kamu, Ra.” Asna mengucapkan dengan enteng.
Tak berpikir dua kali tentang materi yang selama ini dicari. Rasanya, Asna sudah tak terlalu tergiur dengan uang dan uang yang berlimpah. Ia hanya menginginkan kebahagiaan dan keturunan yang tumbuh dalam rahimnya.
Lagipula, mengingat dirinya yang sakit, mungkin melihat orang lain bahagia menjadi obatnya. Asna begitu senang berbagi dan selalu ada doa yang disematkan untuk bisa segera hamil. Namun, sampai saat ini belum juga diberi kepercayaan.
Alhasil, kebiasaan berbagi menjadi rutinitas Asna di sisa hidupnya dan tak ada lagi harapan selain meninggalkan amal jariyah yang banyak di dunia.
__ADS_1
“Tapi, Mba-“
“Jangan menolak. Ini rezeki dan kamu berhak menerimanya. Ibumu masih butuh pengobatan dan perawatan intensif. Berikan vitamin juga amunisi terbaik untuk kesembuhan ibumu.”
Asna merupakan wanita yang tulus, tak pernah memandang kasta dan penilaiannya selalu dari hati. Sekali pun dipandang buruk, Asna sendiri berusaha berpikir positif untuk menanggapinya.
Lagi-lagi Dira dibuat spechless oleh wanita kuat seperti Mba Asna. Dia memang bidadari, beruntung seorang ibu yang melahirkan anak sepertinya.
Setelah membujuk Dira, Asna pun memilih pulang. Tugas mengurus Dira telah selesai dan kini mempersiapkan segala sesuatu untuk suaminya.
Asna sendiri sudah menghubungi vendor untuk acara nanti. Acaranya memang tidak mewah, tetapi sedikit mewujudkan pernikahan yang diimpikan Dira. Terkesan mewah meski hanya kerabat dan keluarga saja.
Mata Asna tertuju, pada sebuah tangga, menjulang pintu kamar. Rumah yang Asna lihat, kini benar benar tertegun akan menghiasi sebuah rumah dengan kedatangan keluarga baru. Asna tidak tahu, apakah akan bertahan dan ikhlas jika Asna sendiri nantinya, melihat suaminya bermanja dan senyum di rumah ini, di depannya.
Lalu entah apa yang harus ia bilang, jika Imel bertanya akan Dira. Hingga Asna pun, melaju ke ruang kerjanya saat itu juga.
“Bunda,” panggil Imel yang menghampiri bundanya di ruangan kerja.
Imel sudah tahu sekarang di mana tempat persembunyian selalu tidak ada, jika dicari dan ternyata berada di ruangan kerjanya.
Setelah membujuk Dira, Asna pun memilih pulang. Tugas mengurus Dira telah selesai dan kini mempersiapkan segala sesuatu untuk suaminya.
__ADS_1
Asna sendiri sudah menghubungi vendor untuk acara nanti. Acaranya memang tidak mewah, tetapi sedikit mewujudkan pernikahan yang diimpikan Dira.
“Bunda,” panggil Imel yang menghampiri bundanya di ruangan kerja.
Imel sudah tahu sekarang di mana tempat persembunyian, selalu tidak ada jika dicari dan ternyata berada di ruangan kerjanya.
“Kenapa, Sayang? Kamu tahu Bunda di sini?”
Asna menoleh menatap gadis kecilnya yang selalu menjadi pelipur lara hatinya.
“Iya, kemarin Abi bilang kalo Bunda nggak ada di kamar, ya ada di ruangan ini dan ternyata benar. Bunda sedang buat apa?” Imel yang bergelayut manja di pangkuan Asna melirik ke arah sekitar.
Memerhatikan beberapa baju yang bergantungan di patung. Matanya langsung terpukau dan bersinar melihatnya.
“Bajunya cantik, Bunda. Itu Bunda yang buat?” kata Imel menginterogasi sang bunda yang merengkuh tubuhnya.
“Iya, Sayang, itu baju untuk kamu, Bunda, dan Abi.” Asna belum sanggup mengatakan jika Abinya akan menikah lagi. Sungguh, berat rasanya, tetapi ia harap Imel bisa mengerti dan paham nantinya.
"Bunda, memang ada acara ya? sampai sampai bunda buat gaun kebaya seperti ini. Cantik banget Bunda." senyum Imel, yang membuat senyuman Asna membisu.
TBC.
__ADS_1