DURI PERNIKAHAN

DURI PERNIKAHAN
AKHRINYA TAHU


__ADS_3

Arkan mengusap wajahnya kasar, lalu mencari oksigen sebanyak-banyaknya agar mampu mengucapkan kalimat yang hendak dilontarkan.


“Dira merupakan kisah masa lalu Mas, Dik!”


Deg!


Asna masih mencerna kalimat suaminya yang mengejutkan. Sedikit ambigu yang cakupannya begitu luas.


“Maksudnya, Mas?” Ia memicingkan mata meminta penjelasan kepadanya.


Arkan pun menghela napas. “Dira dan Mas pernah dekat bahkan sampai menjalin kisah asmara bersama.”


Duar!


Bagai tersambar petir. Asna yang serius memandang kini seolah dihancurkan begitu saja, oleh bom atom yang jatuh di benaknya. Bibirnya kelu dengan tubuh yang kaku tak mampu bergerak.


Otomatis mereka sudah saling mengenal dan cinta pun sudah ada dalam relung hatinya masing-masing. Lantas, bukankah itu hal yang bagus? Tidak perlu lagi ada pendekatan dan hanya saling menghilangkan kecanggungan yang ada.

__ADS_1


Sungguh, Asna sama sekali tidak tahu. Bahkan, kisah Dira yang menutup cinta pun tak mengetahui siapa yang telah membuatnya trauma.


Sesak rasanya, tetapi apalah daya semua sudah menjadi bubur, dan Asna tak salah kembali menyatukan mereka. Pasalnya, mereka pernah bersama dan tak sulit lagi untuk beradaptasi.


“Lalu apa masalahnya, Mas? Bukankah itu hal yang bagus?” Asna mengangkat suara dengan tegar agar tidak canggung, meski hatinya terpaku poranda. Tidak lagi menunjukkan air mata dan kelemahannya.


Arkan menggeleng. “Mas nggak bisa, Dik. Mas sudah terlalu banyak menyakiti Dira.”


Ia tidak ingin semakin menyakiti karena sudah mengabaikan Dira, dan terlebih tidak mencintainya. Jelas sekali, Arkan hanya mencintai Asna saat ini, dan berharap selamanya.


“Justru itu sudah saatnya kamu memperbaiki dan membahagiakannya, Mas. Kamu hadir bukan lagi untuk menggoreskan luka yang kesekian kali, tetapi membahagiakan. Ingat, Mas, membahagiakannya.” Asna menegaskan berulang kali.


Arkan hanya perlu fokus membuat keluarganya harmonis dengan kehadiran dua istri serta memberikan kewajiban yang layak padanya.


Asna ingin semuanya berjalan tanpa ada lagi beban, dan hati pun tenang bahagia. Tidak perlu memikirkan perasaan yang berkecamuk. Menurutnya cukup adukan pada Sang Maha Kuasa, InsyaaAllah akan mendapat jawaban yang tepat.


“Dik,” bantah Arkan tak setuju.

__ADS_1


Entah apa yang ada dalam pikiran Asna sampai dia tidak mengerti perasaan suaminya, bahkan lupa dengan keadaan dirinya yang justru jauh lebih sakit. Sakit fisik dan mentalnya, yang Asna rasa ia sulit disembuhkan dan berharap adanya Dira, keluarganya tidak bersedih kepanjangan.


“Sudahlah, Mas, tidak ada lagi yang perlu diperdebatkan. Semua sudah tercatat di pengadilan agama dan kamu hanya menjalankan apa yang sudah menjadi kewajiban.” Asna kembali bersua, bagai istri durhaka yang menjual suaminya.


Rasanya lelah jika harus memperdebatkan masa lalu. Menurut Asna tak masalah dan apa mungkin hal ini yang ingin Dira katakan tadi?


Mungkin Asna begitu jahat, tetapi secara tidak langsung Asna berhasil menyatukan kisah cinta mereka yang sempat berjauhan. Hanya saja posisinya berbeda.


Ia tidak tahu sejauh mana Arkan dan Dira mengenal. Namun, bukan saatnya untuk membandingkan. Ia justru bersyukur, pilihannya tepat jatuh pada Dira.


Siapa tahu kehadiran Arkan pun bisa membuat Dira kembali ceria dan merasakan cinta. Memang tak mudah, apalagi Dira sampai menutup hati karena sikap Arkan sendiri.


Sesak rasanya, tetapi apalah daya semua sudah menjadi bubur dan Asna tak salah kembali menyatukan mereka. Pasalnya, mereka pernah bersama dan tak sulit lagi untuk beradaptasi.


“Lalu apa masalahnya, Mas? Bukankah itu hal yang bagus?” Asna mengangkat suara dengan tegar. Tidak lagi menunjukkan air mata dan kelemahannya. Menatap wajah suaminya dengan senyuman palsu.


Arkan menggeleng. “Mas nggak bisa, Dik. Mas sudah terlalu banyak menyakiti Dira. Dan mas yakin, hatimu sakit melihat mas menikah lagi kan. Apa ada yang kamu sembunyikan dari mas Dik? tolong jangan siksa mas karena tidak peka, apa yang kamu rasakan."

__ADS_1


Asna terdiam, air mata mengembang telah jelas membuatnya menahan. Jika jujur pun, Asna tidak ingin kebahagiaan ini menjadi berubah derita dan kesedihan.


TBC.


__ADS_2