
Dira semakin terisak. Apa yang ibu katakan memang benar, jawaban kemarin tak sesuai dengan keadaannya sekarang. Ia memilih karena Allah Swt dan nyatanya mengharapkan atas rasa kemanusiaan.
“Di mana Bang Arkan sekarang, Bu?” tanya Dira mendongak dengan air mata yang membanjiri.
“Suamimu sedang menenangkan hati di masjid.”
Nyes!
Dira menunduk seolah sadar apa yang sudah dilakukan. Berdosa sekali dirinya telah menjadi istri yang durhaka.
“Merenunglah! Ibu yakin kamu bisa melapangkan hatimu seluas samudera. Belajar untuk menerima.”
Wanita itu mengecup punggung tangannya penuh takzim. Dira tak bisa lagi berkata, sekarang perasaannya benar berkecamuk dan rasanya, memang tidak ada yang perlu diharapkan selain memohon dan meminta.
Di saat dua insan yang saling bergelut akan batinnya masing-masing. Kini, Asna justru menikmati perannya menjadi seorang ibu yang selalu ada untuk Imel, memberi perhatian lebih dengan kasih sayang seutuhnya. Kesibukannya sekaligus mempunyai toko, disibukan dengan perhatian pada Imel yang begitu Asna sayangi penuh.
“Bunda, jangan tinggalin Imel,” kata Imel meminta.
__ADS_1
Asna mengangguk. “Bunda di sini temani kamu, Nak, tetapi Bunda siapkan makan dulu buat kamu, ya. ‘Kan kamu harus minum obat.”
Di kala seperti ini memang Imel butuh sekali perhatian, niatnya ingin menghibur justru menjadi luka. Namanya musibah memang tidak ada yang tahu dan kapan saja bisa datang.
Setelah mendapat persetujuan dari gadis kecilnya, Asna beranjak menuju dapur. Ia sudah membeli beberapa menu makanan juga camilan untuknya tadi. Sengaja membeli makanan jadi, sebab pasti Imel tak akan ingin ditinggal.
Lagipula, niatnya hendak mengajak makan di luar karena Asna tak memasak dan bahannya pun kebetulan kosong.
Asna begitu teliti, ia menyediakan banyak vitamin juga sayur untuk Imel. Di usianya yang masih dalam proses pertumbuhan, Asna selalu mengutamakan makanan yang bergizi dan sehat.
“Loh, kamu mau ke mana?” Asna tertegun melihat Imel yang hendak berdiri.
Ia meraba kakinya untuk melangkah, lalu berjalan perlahan tanpa meminta bantuan bundanya. Ia juga tidak ingin selalu merepotkan. Imel harus terbiasa karena lukanya tidak terlalu parah sehingga tidak perlu dikhawatirkan.
Asna pun tak menahan. Ia memantau dari kejauhan memerhatikan Imel yang berjalan tertatih-tatih dengan pelan.
Lima menit berlalu, Imel sudah kembali, lalu duduk di tepi ranjang di samping sang bunda. Bibirnya merekah memberi senyuman terbaik jika dirinya baik-baik saja.
__ADS_1
“Bunda nggak perlu sedih, ‘kan Imel baik-baik saja. Lain kali Imel akan lebih hati-hati lagi,” kata Imel memberitahu.
Sejak tadi, Imel belum menceritakan kejadiannya seperti apa. Ia tidak ingin melihat bundanya yang sedih.
“Gimana Bunda nggak sedih, kaki kamu penuh luka seperti itu. Bahkan, jalannya sedikit sulit.” Asna menuturkan perasaannya. Ia memang tak bisa menutupi kesedihannya, apalagi sejak tadi penuh sendu memerhatikan Imel.
Imel pun mengambil lengan bundanya dan dikecup perlahan. “Maafin Imel, ya, Bunda, kalo tadi Imel nggak mengejar kelinci di taman, Imel nggak mungkin terluka.”
Iya, Imel keasyikan mengejar kelinci sehingga lupa jalan di mana bundanya berada, dan mengakibatkan kakinya terbentur karena terpeleset sehingga jatuh di atas bebatuan yang agak tajam.
“Iya, nggak apa, Sayang. Sudah, sekarang makan dulu. Setelah itu, minum obat dan kamu bisa istirahat,” ujar Asna menjelaskan. Tidak ada yang salah, namanya juga anak kecil apalagi di usia Imel, sangat senang bermain.
Imel pun mengangguk dan siap mendapat suapan dari bundanya, sebab yang luka di kaki sehingga tidak mengganggu nafsu makan yang ada.
“Bun, apa Abi tahu kalo kaki Imel luka?” Kepala Imel mendongak, menatap manik mata sang bunda yang hitam pekat.
Sementara Asna, sedikit bingung apa yang ia harus ia jawab pertanyaan putrinya itu. Karena memang Asna mengabaikan panggilan mas Arkan.
__ADS_1
TBC