
Asna saat itu melihat Arkan bermain bersama Imel, tak lupa ia menemani Asna, yang kala itu duduk di meja kerjanya.
"Dik, kamu baru sembuh loh. Apa ga sebaiknya, di tunda dulu?"
"Maaf mas! Asna ga mau, pengobatan berlanjut ini harus sampai membuat mas Arkan kepusingan. Lagi pula, Asna hanya memantau dari zoom aja."
Arkan memberikan sebuah obat dan minum, mengusap pundak istrinya sambil menatap penuh dalam, menemani istrinya dalam beberapa jam.
"Dik, udah adzan isya. Kita shalat jamaah bareng ya?"
"Iya mas."
Tok. Tok.
Ketukan pintu di terdengar, membuat Arkan ingin tahu siapa tamu yang datang semalam ini. Bahkan Asna mendorong kursi rodanya, karena ia tidak bisa berjalan, mengurangi rasa sakit pasca operasi.
"Bunda, Abie. Bunda Dira datang, sama nenek." senyumnya.
Membuat hati Asna ikut tersenyum, sementara Arkan menoleh kaku pada Asna. Asna pun mengangguk senyum, bahkan tidak ada yang bisa Asna lakukan. Lagi pula, Dira sangat penting bagi Arkan suaminya. Setidaknya ia berkunjung, bisa bersama suaminya dan melayani dengan baik, sempurna tidak seperti Asna.
"Dira, masuk ke dalam. Kenapa di pintu?"
"Mbak. Maafin Dira, Dira hanya enggak bisa tidur, dan mungkin aja setelah ketemu Bang Arkan. Dira bisa pulang, tidur dengan nyaman."
"Gak apa Dira, mbak seneng. Sekalian nginep ya disini! kebetulan mbak juga tadinya nginep di rumah ibu, tapi karena mas Arkan datang dan kerjaan di toko padat, mbak pulang."
"Ibu Nira ada disini, kebetulan ibu Hanna juga antar Dira, mbak."
"Ibu ada urusan sebentar Dir, ajak ibu kamu nginep aja disini."
"Ga usah Asna, ibu juga ga bisa lama. Cuma antar Dira aja sebentar, bentar lagi juga pulang." ucap ibu Hanna, memegang kepala Asna yang begitu ia sanjung karena kebesaran hatinya, tak lupa mendoakan kesembuhan bagi Asna.
"Jangan gitu bu, nginap aja semalam disini." pinta Asna, mencium tangan ibu Hanna.
Berbagai cerita, membuat mereka berkumpul. Namun ibu Hanna meminta pulang dengan taksi, tapi Arkan mengantarnya sebentar, karena kebetulan rumah Asna dan Dira hanya berbeda blok.
Tidak seperti biasanya, Dira datang ke rumah Asna. Padahal, bang Arkan hanya beberapa jam saja menemui Asna. Berniat menginap, tapi Dira sendiri sudah datang tak ingin jauh sedetikpun dengan Arkan.
__ADS_1
"Wajar, karena kamu masih membutuhkan mas Arkan. Mungkin anak ini, ingin dekat dengan Abie nya." senyum Asna, ingin menangis rasanya ia memeluk perut wanita sepupunya, yang telah ada sang jabang bayi.
"Maafin Dira ya mbak!"
"Kamu ga perlu minta maaf Dira, semua sudah keputusannya." ucap Asna, membuat hati Dira merasa bersalah, meski begitu memang Dira sendiri tidak sanggup, jika bang Arkan menginap di tempat istri pertamanya itu.
Hingga kembalinya Arkan, mereka jamaah shalat bersama. Sementara Asna sendiri, hanya bisa duduk disebelah Dira, yang mana Asna tidak sanggup berdiri, sampai selesai.
Tak lupa setelah shalat jamaah selesai, Asna mencium tangan Arkan, begitupun Arkan mencium kening Asna, selanjutnya sama dengan Dira. Mereka sama sama berdoa dan membuat hati Asna sangat terpukul, tidak bisa menjadi istri yang sempurna bagi suaminya.
Berharap keajaiban akan datang suatu hari nanti, dibalik senyumnya Asna, ia mendoakan keselamatan kehamilan Dira juga agar diberi kelancaran.
Arkan pun mengajak Dira ke kamar tamu, setelah mengantar Asna. Sementara Asna, pergi ke kamar putrinya.
Lama Asna mengajak anaknya itu berbicara, Asna pun kembali ke kamar Imel. Yang dimana Imel sudah cantik, berganti piyama. Memeluknya, membuat pikiran Asna tersenyum.
"Bunda mau tidur sama Imel?"
"Enggak sih, tapi kan anak bunda udah besar."
Bahkan kali ini, Asna sendiri yang telah bersiap untuk tidur, ia memandang wajah putrinya dan memeluk erat, ia meminta maaf jika suatu hari Asna tidak bisa membimbing putrinya sampa dewasa, bahkan ia meminta Asiyah menjaga toko kue dan butiknya, sebagai asisten perwakilan Asna yang tak bisa ke toko, semata meminta bantuan agar kelak Imel besar, ia bisa menggantikan dan melanjutkan perjuangan bisnis bundanya.
Asiyah sendiri sudah berhenti dari juru rawat! terkait di perusahaan penang, berganti Pt. Dengan tanpa alasan lain, Asna yang tahu dari ibunya, ia meminta Asiyah tinggal di ibu kota bersama sang ibu, menemani dan membantu usaha Asna di sini. Sebab Asna sendiri tidak bisa beraktifitas terlalu capek.
Asna yang kala itu ingin ke kamarnya, setelah melihat Imel tertidur pulas, ia melewati ruangan kamar tamu. Sempat terdiam ketika ia berdiri di depan pintu.
'Maafkan Abang dik! abang memintamu yang sedang hamil, abang janji tidak akan menyakiti kamu.'
'Enggak bang! sudah kewajiban Dira melayani abang. Dira sudah lebih baik dari sebelumnya, jika Dira masih bisa melayani abang. Kenapa Dira harus menolak, jangan jadikan Dira istri yang membuat dosa, karena tidak mengerti keinginan suami Dira sendiri.'
Terdengar *******, kecupan dan membuat hati Asna yang berdiri terdiam memegang hatinya terasa sesak. Berkali kali ia mengucap istighfar, agar tidak cemburu berlebih.
Begitu tidak sempurnanya diri Asna, sehingga Asna kembali lurus berjalan ke ruang kerjanya. Dimana ia menulis sebuah buku, yang mungkin bisa membuat semua yang ia tinggalkan, bernafas lega ketika posisinya sudah digantikan, dan mungkin ketika Asna pergi, harapan Asna adalah mereka yang di tinggalkan tidak berlarut dalam kesedihan.
Asna kali ini menyalakan lampu kerjanya, menulis sesuatu yang membuat diri Asna mungkin, akan lepas rasa kesedihan. Sebuah ujian sakitnya, harus Asna lepaskan demi ridho nya. Sesungguhnya semua yang ada pada milik Asna, akan kembali padanya. Jadi sekalipun Arkan tidak ia siapkan istri baru untuk penerus, jika memang cara Tuhan akan membawanya kembali, Asna tidak bisa berbuat apa apa lagi.
Tulisan itu membuat hati Asna, mengutarakan mutiara.
__ADS_1
Dairy Asna.
Tulisan ini aku persembahkan, kepada setiap kepingan hati yang selalu di selimuti rasa cinta dan kasih sayang. Dalam naungan keluarga idaman ...
Ku persembahkan kepada semua istri, agar kalian mengerti. Peran yang harus di ambil, dalam mengambil keluarga bahagia.
"Mas Arkan. Aku berterimakasih atas semua rasa sayang dan cinta selama ini, kebahagiaan Ku terletak pada kebahagian Mu dan semoga mas Arkan adil, serta tidak pernah melupakan dan membedakan Imel dengan anak anak kita, yang kini di dalam kandungan Dira."
Satu hal, Asna begitu beruntung dan bahagia mendapati suami seperti mas Arkan. Karena itu, Asna amat mencintai mas Arkan, karena allah swt, atas ridho nya. Dan semoga Allah mengampuni dosa Asna, sebagai istri yang lalai.
Asna sendiri kembali melakukan shalat sunah, dengan wudhu di wastafel ia mencoba berusaha sendiri. Lalu memakai mukena, menghadap kiblat. Hingga dalam beberapa puluh menit, Asna merasakan sakit yang tidak tertahan. Keningnya sudah berkeringat dan pucat, menyandar ke meja kerja hingga lampunya terbalik.
Praang.
Lampu terjatuh, membuat Asna mengucapkan asma tuhan, berkali kali.
"Ya allah, dik. Kamu kenapa?" teriak Arkan, yang kala itu mencari Asna di kamarnya tak ada, terdengar suara benda terjatuh. Dan mendapati Asna sudah tergeletak begitu saja di lantai, terlebih kursi roda Asna terbalik.
( End ... )
Berlanjut Season 2!
Hello all, kisah Asna sepertinya akan Author lanjut, dan terimakasih sudah membaca kisah cerita Asna ini, author masih tahap belajar dan minta maaf jika masih banyak kekurangan dalam cerita ini.
Kenapa author pindahkan, kelanjutan Asna yang mungkin sedih, tapi lebih sedih disini bikin down, karena kisah Asna real realita, dibikin drastis berimbas turun lencana, yang membuat Author down. Mohon dukungan dengan like, jejak komentarnya ya! sebagai bentuk ucapan terimakasih Author dan penyemangat tulisan kisah Asna.
Tenang kisah Asna di sebelah, akan tayang tanggal 6, empat hari lagi. Tidak ada kata pengulangan.
Yang pastinya akan crazy up! setelah lolos kontrak.
Di sana juga, akan hadir Asiyah, Irham dan kisah Dira dan Asna yang berkelanjutan.
Thanks All _ Happy Reading.
Spill Kisah Asna Di Sebelah.
__ADS_1