
***
Hari berlalu semenjak kelahiran bayi Lelaki Embun, Bayi kecil itu dinamai Daffa Gunadya sesuai dengan nama keluarga kandung Embun.
Sejak Lahir Daffa sudah dekat dengan Dave, nama ini bukan kebetulan karena Dave meminta izin untuk memberikan nama pada bayi kecil itu, tadinya bayi itu akan diberi nama Erick atau Erland ( Pokoknya keturuan Gunadya menyukai awalan huruf E) namun sikecil yang pintar selalu menangis keras jika dipanggil dengan nama itu.
Bayi lelaki itu baru akan tersenyum jika dipanggil Daffa sehingga kedua orangtua dan paman sang bayi mengalah dalam pemberian nama.
" Kelihatannya ia akan secerdas mamanya " Kata Edgard.
Tidak main-main mereka melakukan tes untuk bayi kecil itu. Hasilnya memang IQ bayi itu memang diatas rata-rata bayi seusianya. Cara mengetes tentu saja hanya mereka yang tahu.
Dua minggu dalam inkubator, berat Daffa sudah mencapai normal.
Dave juga selalu menyempatkan waktu untuk membawa anak itu berjemur, layaknya bapak dan anak keduanya tampak sangat dekat dan saling membutuhkan satu sama lain.
Dave tidak akan segan menjaga anak itu walaupun ia sedang bekerja. Kondisi Embun juga semakin membaik sayangnya gadis itu masih saja betah untuk terus tidur.
***
Dikediaman Gunadya.
Kedua orangtua kandung Embun dan kakaknya berkumpul untuk sarapan pagi.
" Bagaimana apa sudah ada hasil tentang penyelidikan Elina? " Tanya Ibu Embun atau Elina.
Edgard menggelengkan kepalanya sambil meminum tehnya.
" Belum Bu, detekti yang kusewa masih memerlukan waktu beberapa hari lagi, kita tunggu saja kabar darinya" Jawab Edgard.
" Ayah penasaran seperti apa kehidupan Elina selama ini, oh ya apa donor sudah ketemu? " Tanya Ayah Edgard.
" Sudah ayah, jadwal operasi Elina akan dilaksanakan minggu depan, Ia akan mendapatkan mata dan ginjal barunya, Aku juga telah menghubungi dokter bedah plastik terkenal di Korea semua bekas luka yang ada ditubuh Elina akan hilang" Jawab Edgard.
" Ibu tidak sabar menunggu ia siuman, sudah hampir 6 bulan ia koma " Kata Ibu Edgard sedih.
" Kita hanya bisa sabar, Elina pasti akan siuman" Jawab Edgard menguatkan ibunya.
Keluarga Gunadya terkenal turun temurun sebagai generasi dokter, Kakek Elina merupakan seorang dokter spesialis jantung dan neneknya terkenal sebagai bedah plastik. Ayah Elina sendiri menuruni bakat sang kakek menjadi dokter spesialis jantung dan Ibu Elina adalah dokter spesialis syaraf.
Edgard memilih jalurnya sendiri sebagai spesialis kandungan, ia menekuni hal tersebut karena saudara kembar Elina (Evalina) menderita penyakit pada kandungannya. Memang jalan dari Tuhan, Embun sendiri sempat kuliah dijurusan Farmasi. Memang bukan kuliah kedokteran namun ketertarikan Embun pada dunia medis memang sudah terlihat sejak ia kecil.
Ibu Ningsih yang susah mempunyai anak bisa mengandung Anggun karena secara tidak sengaja selalu diurut diarea syaraf tertentu oleh tangan kecilnya Embun. Gadis itu selalu merasa dalam kepalanya seperti ada dua kepala yang berpikir dan membantunya dalam masalah.
Pikiran Embun yang lain itulah yang selalu memberikan instruksi pada Embun untuk melakukan sesuatu. Sayang sekali Ibu Ningsih selalu menjauhi Embun sehingga tidak ada lagi "terapi" lanjutan dari tangan kecil Embun.
__ADS_1
***
" Hai Daffa... hari ini kau akan pulang ke rumah kakek dan nenekmu ! " Sapa Dave.
Daffa tidak menyahut karena sedang terlelap tidur. Dave memberi kecupan pelan pada dahi bayi mungil itu.
" Dokter Dave ? Oh iya baby Daffa akan pulang yaah... " Kata Perawat yang bertugas mengawasi bayi.
Dave tersenyum mengangguk, " sayang ibunya belum juga bangun"
Sang perawat akan mengganti baju Daffa namun dilarang Dave karena ia ingin melakukannya sendiri. Perawat itu memaklumi jika dokter muda didepannya ini memang sangat menyayangi bayi lelaki ini.
" Eh sudah bangun? Maaf ya daddy ( Dave menyebut dirinya daddy didepan Daffa) mengganggumu ya? Bobonya saat dimobil saja ya, kita akan pamitan pada ibumu, Sebentar...ugh bobotmu semakin bertambah saja Nak" Kata Dave terus bicara.
Daffa terbangun namun tidak menangis, menjelang usianya 3 bulan Daffa sudah memahami banyak hal.
" Ayo kita Foto dulu yuuk... kalau kau dirumah kakek dan nenek jangan lupa rindukan daddy ya? Karena Daddy akan sangat merindukanmu "
Dengan mata masih setengah mengantuk ia meladeni kemauan "daddy"nya untuk berfoto selfie.
" Ayo kita pamitan pada ibumu yuk " Kata Dave menggendong Daffa ke ruangan Embun
Derap langkah Dave terdengar hingga sosoknya tidak kelihatan lagi.
" Astaga betapa protektifnya Dave pada Daffa...bagaimana kita bisa mengasuh cucu kita ? Dave sudah seperti ayah baginya" Keluh Ayah Elina.
Ibu Elina tersenyum, " Alangkah baiknya jika Dave bisa menikah dengan Elina, mereka akan menjadi keluarga bahagia, menggantikan Evalina yang telah pergi "
" Jangan membuat keputusan dulu, kita bahkan belum tahu kehidupan Elina sebelum ini" Kata Ayah Elina.
Sepasang orangtua itu menghela napas.
Mereka ke ruangan Embun dirawat.
Terdengar Daff sedang menangis kencang melihat ibunya yang tidak kunjung bangun. Dave kewalahan menenangkannya.
Bayi lelaki itu tidak mau diambil dari ibunya terus saja meronta ingin didekat ibunya.
" Sabar ya Nak! Ibumu belum siuman " Bujuk Dave.
Biasanya bujukan Dave berhasil namun kali ini tidak. Daffa terus saja merengek tidak ingin jauh dari ibunya.
" Ada apa? Daffa sakit? " Tanya Edgard.
__ADS_1
" Tidak ...cuma entah mengapa hari ini ia rewel tidak ingin pisah dari ibunya, apa dia tahu ya kalau ia akan dibawa pulang " Kata Dave berkeringat karena kewalahan menghadapi tangis Daffa yang tidak biasa.
" Coba letakkan disamping ibunya siapa tahu akan tenang kembali " Pinta Ibu Elina.
Dave patuh dan menaruh Daffa disamping Embun.
AJAIB!
Daffa langsung diam, ia sibuk menggapai ibunya.
Semuanya menatap haru melihatnya. Setelah bayi itu tenang maka Dave bermaksud menggendong bayi itu kembali.
Hwaaaa.....aaaaa....aaaaa
Tangis Daffa kembali terdengar, Dave menatap bingung.
" Ayolah kau tidak akan bisa menunggui ibumu disini, Daddy janji jika ia sembuh maka kalian akan berkumpul kembali " Kata Dave.
Tangisan Daffa tidak juga berhenti membuat Dave semaki cemas. Ia mendekatkan bayi itu pada Embun lagi.
DAN!
Keajaiban terjadi!
Embun membuka matanya langsung memeluk Daffa yang berada didekatnya.
" Astaga! "
Semua menjerit terkejut melihat Embun telah sadar kembali. Ia tidak peduli dengan sekelilingnya, kedua matanya menatap takjub pada bayi disampingnya.
" Bayiku " Ucapnya dengan suara agak serak.
Ibu Elina segera memeriksanya, Edgard memanggil tim dokter yang mengawasi Embun. Mereka melakukan pengecekan secara menyeluruh pada tubuh gadis itu.
Gadis muda itu tidak lagi membiarkan siapapun mengambil anaknya dari sisinya. Dave menelan ludah karena tidak berdaya.
Daffa terlihat bahagia disamping ibunya.
" Kakak?"
Mata Embun terbelalak mengenali sosok didepannya.
" Kau mengenaliku? " Tanya Edgard menganga.
***
BERSAMBUNG
__ADS_1