Embun Dari Langit

Embun Dari Langit
Karma dimulai


__ADS_3

***


Hidup itu seperti roda yang berputar, kadang diatas kadang dibawah.


Anonim


***


" Aku tidak mau tinggal disini!! aku mau kamarku!" Jerit Nathasa menolak masuk ke rumah kontrakan yang baru saja disewa oleh Anggun.


Semua aset dan properti Bumiwardoyo telah disita termasuk rumah besar tempat Anggun tinggal. Disana kini digantikan oleh anak-anak panti asuhan yang dijaga oleh Nesya dan Garin. Seluruh pelayan disana tidak dipecat melainkan diperbantukan untuk mengurus rumah itu.


Apa yang dilakukan oleh Embun telah membuat keluarga Bumiwardoyo habis tidak tersisa. Pak Wijaya yang telah pensiun sejak awal kini hanya mengandalkan Raka saja untuk hidup. Dalam hati kecilnya ingin melihat istri pertamanya namun ia tidak bisa apa-apa karena sekarang hanya anak lelakinya untuk bertahan hidup dan Raka memberi syarat agar sang ayah tetap bersama ibunya.


Nathasa mengamuk menolak pindah ke rumah yang lebih kecil. Anggun dan ibunya terpaksa menggotong anak itu keluar rumah.


Anggun praktis tidak memiliki pekerjaan lagi. Ia tidak memiliki keterampilan apapun. semua teman yang dihubungi nya menolaknya dengan alasan masing-masing.


Hanya Judith yang menerimanya dengan tangan terbuka. Ia menawari Anggun pekerjaan ditempatnya.


" Gajinya kecil tapi tipnya besar, tergantung kamunya sich kalau mau nanti kubilang bosku" Kata Judith.


" Tidak masalah kapan aku bisa bertemu?" Tanya Anggun gembira.


Judith dan Anggun membuat janji bertemu disebuah club' malam. Ternyata pekerjaan yang ditawarkan Judith menjadi pelayan Club. Anggun menelan ludah melihat pakaian yang harus dikenakannya hanya sopan diatasnya tetapi bagian bawahnya rok yang jika membungkuk sedikit saja memperlihatkan aset kewanitaannya.


" Aku tidak punya pilihan saat ini!" Kata Anggun dalam hati.


Judith diam-diam menatapnya licik namun dengan cepat merubah ekpresinya. Dulu Anggun pernah menindasnya kini saatnya untuk membalas semua perlakuan wanita itu. Lamunan Judith melayang pada saat ia sedang kesulitan mencari uang untuk pengobatan ibunya, ia meminta tolong pada Anggun tetapi malah dimanfaatkan Sean.


Sean mengambil kegadisan Judith dan memberikan sejumlah uang untuk pengobatan ibunya. Anggun tidak menerima hal itu mengambil uang dari Judith dan meminta Judith untuk tidak menemui dirinya ataupun Sean. Namun pacar Anggun sangat licik, pria itu memberikan copyan video panasnya dengan Judith untuk mengancamnya hingga Judith menjadi pemuas nafsu Sean selama beberapa minggu hingga Sean bosan sendiri.


Judith sendiri gagal menyelamatkan ibunya karena pengobatan yang dilakukan terlambat. Gadis itu menaruh dendam pada Anggun karena mengambil uang darinya dan membuatnya dimanfaatkan Sean sebagai mainan padahal Judith baru saja naik kelas 1 SMA.


" Sekarang kau akan merasakan apa yang kurasakan bahkan lebih" Kata Judith.


Prose hukum Anggun ditangguhkan karena alasan anak. Statusnya masih tahanan kota dan wajib lapor .


Anggun kini resmi bekerja diclub malam tersebut. Untungnya wanita itu telah terbiasa dengan hingar bingar musik club' malam. Untuk menghindari pertanyaan, Anggun mengatakan jika ia diterima bekerja disebuah waralaba biru kuning merah dan mendapatkan shift ke tiga (pukul 22.00-08.00) .


" Kenapa harus jam seperti itu nak" kata Ibu Ningsih nyaris menangis mendengar putrinya akan bekerja demi keluarganya.


Anggun tersenyum menyembunyikan perasaan hatinya, kini ia harus kuat demi ibunya dan Nathasa. Malam ini ia akan mulai bekerja. Sengaja seragam kerjanya dipakai diruang ganti diclub agar ibunya tidak curiga.


Judith telah menunggunya didepan ruang ganti.


" Semoga betah ya!" katanya memberi semangat.

__ADS_1


Anggun hanya mengangguk, tugasnya memang mudah hanya mengantarkan minuman saja tetapi tangan-tangan nakal pria hidung belang tidak henti-hentinya menjamah area sensitifnya membuatnya tidak nyaman.


" Orang baru ya?" Tanya seorang pria gendut berwajah bopeng.


" Iya" Jawab Anggun.


Ia permisi pamit namun tangannya ditahan oleh pria itu, ia mengeluarkan yang seratus ribuan dan meminta Anggun untuk menuangkan minumannya. Anggun menatap yang itu dan menimbang apakah akan melakukan permintaan pria tadi atau tidak.


Akhirnya ia menuruti saja, dulu selembar seratus ribuan tidak berharga untuknya sekarang uang itu terasa sangat berarti. Anggun menuangkan minuman itu dan mengambil tips itu.


" Tunggu temani aku disini kau bisa mendapatkan lebih dari ini" kata Pria tadi memegang tangan Anggun kembali.


Wanita itu menyadari akan terjadi sesuatu jika ia masih terus berada didekat pria mabuk ini. Anggun menolak halus hingga pria itu marah.


" Jangan menolakku! banyak perempuan sepertimu pura-pura tidak mau padahal butuh " Kata lelaki itu.


" Kalau begitu cari saja mereka tuan, saya bukan wanita yang anda maksud" Jawab Anggun emosi.


Pria itu marah langsung menerjang Anggun, rekan dari pria itu hanya tertawa melihat adegan itu. Anggun dipaksa dibanting ke meja Bar kecil didekatnya, didesak punggungnya hingga wajahnya tertempel dimeja. Anggun memberontak namun sia-sia tubuhnya tidak mampu melawan kekuatan pria itu walaupun sedang mabuk.


" Apa yang anda lakukan tuan?" Tanya Anggun merasakan rok mininya terangkat. Celana dalamnya diturunkan. Ia merasakan sesuatu benda tumpul melesat masuk secara paksa dari arah belakangnya.


" Akh! " Anggun menjerit kecil.


Judith muncul tadinya hendak masuk namun urung karena melihat Anggun tengah diperkosa pria mabuk. Dengan penuh senyuman ia meninggalkan tempat itu diam-diam tanpa sepengetahuan Anggun.


Pria itu melepaskan semuanya dalam tubuh Anggun lalu memeriksa sesuatu.


" Sempit huh? Boleh kucoba?" tanya rekan pria itu tertarik.


" Coba saja, hahaha " Kata pria itu melanjutkan mabuk-mabukan.


Anggun kembali merasakan sesuatu masuk kedalam area kewanitaannya, kakinya dibuka lebih lebar, tubuhnya dibalik wajahnya menghadap lampu. Pria yang kedua tadi membuka kemeja yang dikenakan Anggun untuk menikmati sepasang gunungan didepannya. Ia menghisap dengan rakusnya seolah tengah kehausan.


" Benar! Sempit ! Enak! Tenang saja nona, aku akan membayarmu mahal, kau tidak akan rugi!" kata pria itu terus menggenjot tubuh Anggun.


Meja itu bergoyang mengikuti gerakan pinggul pria kedua itu. Ia jauh lebih buas daripada yang pertama, seluruh tubuh Anggun memar. Airmata wanita itu mengalir, ia merasa terhina namun tidak berdaya. Dihari pertama bekerja telah menjadi bulan-bulanan dua orang pria yang tengah mabuk.


***


Subuhnya Anggun kembali kerumah langsung mandi, lama sekali dikamar mandi menyembunyikan tangisnya agar tidak didengar oleh ibu dan anaknya.


" Jam berapa kembali?" Tanya Ibu Ningsih.


" Jam 6 Mom, aku lelah sekali ingin tidur" kata Anggun.


" Makanlah dulu " Kata sang ibu.

__ADS_1


Anggun mengangguk, makan secepatnya lalu masuk ke kamar kembali mengurung diri dikamar. Ibu Ningsih menatap iba putrinya bekerja begitu keras padahal selama ini ia hidup penuh kemanjaan.


***


Ibu Ningsih menelpon Nathan dan berbicara empat mata.


" Aku tidak bisa lama jadi langsung saja" Kata ibu Ningsih.


Nathan mengangguk, ibu Ningsih menuntut nafkah bulanan yang sudah lama tidak diberikan Nathan. Ia membutuhkan uang untuk cucunya. Nathan langsung menyanggupi tanpa protes, Ibu Ningsih meminta Nathan untuk menolong Anggun.


" Menolong apa?" tanya Nathan


" Gantikan Anggun, jadilah kambing hitam! Bilang semua atas rencanamu, kau yang memaksa anakku untuk membuang Embun" kata Ibu Ningsih.


Bruk !


Nathan menggebrak meja terkejut. Ini permintaan gila, kelak ia akan lebih hancur lagi. Apalagi Nikita telah pergi membawa Arka ke rumah orangtuanya dan menuntut cerai.


" TIDAK! INI GILA!"


" Lakukan demi Shasa, ia sudah cukup menderita tinggal dikontrakkan kecil apa jadinya anak itu jika kehilangan ibunya juga?" tanya Ibu Ningsih mencoba membujuk.


Ibu Ningsih meninggalkan tempat itu, ia tidak punya banyak waktu. Wanita itu memikirkan cucunya sendirian dirumah sementara Anggun sedang keluar rumah.


Nathan terdiam. Entah apa yang dipikirkannya.


***


Sudah seminggu Anggun bekerja, ia telah sepenuhnya terbiasa dengan keadaannya. Wanita itu berusaha menghindari kejadian yang sama akan terulang tanpa sepersetujuannya.


Nathan memutuskan untuk menanggung semuanya demi sang putri. Anggun dijatuhi hukuman tetapi tidak sempat dipenjara. Ibu Widya menjerit murka dipengadilan mengetahui keputusan putranya.


Pihak ibu Sekar sangat kesal karena Anggun masih saja licin untuk ditangkap.


" Jika ia tidak bisa dipenjara, ia harus merasakan jika penjara itu lebih enak daripada diluar" Kata wanita itu marah.


***


BERSAMBUNG


akhirnya Up juga 😅😅 , situasi dan kondisi memungkinkan.


terimakasih atas jejak yang ditinggalkan, untuk author yang belum sempat Naya kunjungi akan tetap Nayya kunjungi saat Naya lowong 🙏 mohon maaf tidak bisa sekalian.


terimakasih untuk pembaca sekalian


motivasi utama nayya

__ADS_1


salam hangat


Naya


__ADS_2