Embun Dari Langit

Embun Dari Langit
Pertemuan tidak terduga


__ADS_3

***


Dave mendampingi Elina, ia belum mengerti mengapa istrinya menangis haru melihat gambar dan video yang diperlihatkan ibu Sekar.


" Terima kasih Nyonya, Anda telah menyelamatkan mereka " Kata Elina tidak henti-hentinya bersyukur.


Telah lama ia berencana mencari saudara-saudara sepantinya, Elina berencana akan kembali ke Indonesia bersama Dave dan kakaknya dalam rangka kerja sama dengan Ibu Sekar.


Elina tidak menyangka jika saudara-saudaranya sudah menemukan tempat dan dapat hidup dengan tenang. Sejak pemilik panti meninggal anak-anak bercerai berai hanya Nesya dan Garin yang pontang panting menghidupi sisa anak panti yang bersama mereka.


Nesya dan Garin adalah anak panti yang tidak mendapatkan orangtua asuh hingga mereka dewasa, mereka mengabdikan diri mereka untuk kelangsungan panti terlebih setelah pemilik panti meninggal. Ibu Sekar tidak sengaja menemukan mereka dan menolong dengan memberikan tempat dan donasi teratur setiap bulannya.


Dave menghapus airmata Elina, " Berbahagialah, ini hari bahagia kita! Jangan ada airmata"


Elina mengangguk. Dave memeluknya sekedar menenangkan.


" Sungguh hadiah yang paling berharga nyonya, ini adalah hadiah yang paling terbaik yag kuterima dalam hidupku" Kata Elina.


Ibu Sekar menatap haru namun tidak memperlihatkan perasaannya didepan orang. Ia telah terbiasa menahan diri agar tidak ada yang dapat mengukurnya. Sesungguhnya ibu Sekar adalah wanita yang baik dan terlalu mencintai putranya.


Ibu Sekar hidup sebagai single Mom membesarkan Sean dengan harta yang melimpah, warisan dari sang suami. Kini ia hidup sendirian tanpa sang putra membuatnya sangat dendam. Untungnya wanita itu masih menyisakan kebaikan hatinya untuk menolong Elina.


Ibu Sekar menyapa Daffa, Seketika Ibu Sekar langsung jatuh cinta pada bayi keci itu. Apalagi Daffa langsung akrab dengannya. Ibu Sekar tidak mempertanyakan status Daffa lagi, ia mengetahui jika Elina mengandung anak Nathan sejak mereka bertemu.


" Aku tahu apa yang ada dalam pikiran anda, nenek! Mari tunjukkan aku siapa pria itu?" Bisik Daffa.


Ibu Sekar menganga tidak percaya mendengar anak 9 bulan bicara seperti orang dewasa. Daffa tersenyum imut. Wanita cantik itu menatap Dave dan Elina sambil meminta jawaban lewat kode mata.


Dave dan Elina tersenyum melihat Ibu Sekar kebingungan.


" Daffa percaya padamu, Nyonya! Ia tidak sembarangan memperlihatkan kemampuannya pada orang lain " Kata Elina.


Daffa tersenyum seimut mungkin membuat Ibu Sekar semakin jatuh cinta pada bayi kecil itu.


" Kau harus sering membawanya berkunjung padaku jika di Indonesia atau aku akan menculiknya dari rumah kalian " Kata Ibu Sekar mencium pipi Daffa (Karena Lipstik mahal jadi tidak menempel dipipi Daffa).


Daffa meminta Ibu Sekar untuk menunjukkan siapa Nathan. Elina dan Dave tidak pernah bercerita mengenai status Daffa, kemungkinan bayi kecil itu mengetahui secara tidak sengaja dari orang yang membicarakannya didepanya tanpa mengetahui jika anak itu mengerti bahasa orang dewasa.


Anggun tidak dapat mendekati Elina dan Dave karena banyak tamu yang menyalami mereka, Edgard juga nampak sibuk dengan koleganya. Lain halnya dengan Nathan, ia berusaha menerobos barisan untuk melihat Elina lebih dekat.


Lelaki itu semakin yakin dengan matanya jika pengantin wanita itu Embun. EMBUNNYA!


" Sayang! kenapa ninggalin aku? Pegel nih " Kata Niki menghampiri Nathan.


Lelaki itu terkejut hampir saja ia melupakan istrinya akibat terkejut dengan Embun. Elina dan Nathan sempat saling tatap selama beberapa detik namun perhatian wanita itu teralih pada tamu lain.


Hal itu semakin membuatnya penasaran dengan Elina.


Nikita kesal, ia melihat suaminya begitu terobsesi dengan sang pengantin wanita hingga melupakannya. Ia memang mengakui pengantin wanita itu sangat cantik namun Nathan terlalu aneh hari ini.


Daffa dan Ibu Sekar semakin akrab saja walaupun baru saja berkenalan beberapa menit lalu. Anggun menghindari ibu mantan pacarnya itu ketika berpapasan namun ibu Sekar malah menghalangi.


" Daffa sayang, kau harus menghapalkan wajah wanita didepan kita ini! Dia yang membunuh anaknya nenek! ia sangat jahat " Kata Ibu Sekar. Daffa mengangguk imut (Ia hanya akan bicara jika situasi aman).

__ADS_1


Anggun diam saja, ia tahu saat ini bukan lawan dari ibu Sekar.


" Apa mau anda nyonya?" Tanya Anggun gerah dihalang-halangi.


" Tidak ada, oh ya kau berhasil melahirkan anak cacatmu itu? hehehe sekarang kau tidak mempunyai rahim dan kau lega jika suamimu mandul jadi madumu tidak akan memberinya anak tapi ada satu hal yang kau lupa " Kata Ibu Sekar mendekati Anggun dan membisikinya sesuatu.


" Anak Embun masih hidup, sehat dan tidak CACAT! Menurutmu apa yang akan dilakukan Nathan jika mengetahuinya? " Kata Ibu Sekar meninggalkan Anggun dengan wajah memucat.


Jika anak Embun masih hidup maka Nathasa akan terancam, Ia harus segera mencari cara untuk mencari informasi mengenai anak itu dan berusaha agar Nathan tidak mengetahui jika Embun sempat mengandung anaknya.


" Dari mana dia tahu? " Anggun tidak dapat menahan ketakutannya.


Wanita itu langsung meninggalkan acara begitu mendapatkan telepon dari Indonesia jika Nathasa masuk rumah sakit. Anggun buru-buru pulang untuk menemani putrinya berjuang.


***


Ibu Widya putus asa tadinya ia mengira jika ia bisa memanfaatkan kekuasaan suaminya sebagai wakil presiden untuk berbicara dengan keluarga Gunadya, sayangnya tidak ada dari keluarga itu yang bersedia untuk meluangkan waktu dengannya untuk sekedar berbasa basi.


Ia mendapatkan informasi jika Keluarga Gunadya akan bekerja sama dengan salah satu perusahan farmasi terbesar di Indonesia dan Anak tertua (Edgard) Akan menjadi kepala dirumah sakit swasta yang baru.


" Masih ada harapan untuk cucuku " Kata nenek itu berupaya menenangkan dirinya.


Ia tidak sempat bertemu dengan Elina dan Dave. Ibu Sekar membawa Daffa menuju tempat tidak jauh dari Nathan.


" Dia ayahmu " Kata Ibu Sekar.


" Hemm...aku kecewa! Kukira akan lebih tampan dari daddyku , setidaknya aku bersyukur, aku tidak mempunyai kemiripan wajah dengannya " Kata Daffa dengan percaya dirinya menepuk pipinya.


Ibu Sekar tertawa, ia masih saja tidak percaya dengan bayi ajaib didepannya ini,


" Daddy ku juga bermata coklat, huh! " Daffa merajuk.


" Ayahmu tidak mengetahui keberadaan dirimu, mungkin jika ia tahu maka ia akan merebutmu dari ibumu " Kata Ibu Sekar berbicara perlahan menyamarkan diri agar tidak terlihat sedang bicara serius dengan bayi.


" Adakah cara untuk membuatku tetap disisi ibuku? " Tanya Daffa.


" Ada nenek sayang, tenang saja! Nenek akan selalu membantumu " Jawab Ibu Sekar tersenyum.


Kakek dan Nenek Mathews datang meminta jatah menggendong cucu mereka, Ibu Sekar agak tidak rela mengakhiri percakapanya dengan bayi kecil itu.


" Dia bayi yang sangat menggemaskan " Kata Ibu Sekar.


" Yah, siapapun akan jatuh cinta padanya " Jawab Nenek Mathews (Ibu Dave) tertawa menerima Daffa dalam gendongannya.


Suasana gembira terus saja berlanjut hingga pesta selesai. Elina dan Dave mendapatkan hadiah tiket berbulan madu keliling dunia oleh kedua orangtua mereka. Elina dan Dave berencana akan membawa Daffa serta namun dihalangi oleh kakek dan neneknya. Semua berebutan untuk menjaga bayi itu termasuk ibu Sekar turut menawarkan dirinya.


Daffa meyakinkan kedua orangtuanya jika ia bisa ditinggal selama 3 minggu oleh Elina dan Dave.


" Ingat untuk bertingkah seperti bayi Daffa " Bisik Elina.


Bayi itu mengangguk, ber ugu-ugu didepan orang tuanya. Malam harinya Elina dan Dave terbang menuju perancis sebagai kota pertama mereka berbulan madu.


***

__ADS_1


Setibanya di Paris.


Keduanya menuju Hotel yang telah ditentukan.


Sepanjang perjalanan Elina terdiam, ia merindukan putranya.


" Tidak apa-apa, Daffa akan baik-baik saja " Kata Dave.


Elina mengangguk sambil tersenyum. Paris memang tidak salah dengan julukan kota romantis, suasana yang ada disemua tempat sangat mendukung, pemandangan indah dimana-mana. Dave dan Elina juga terbawa dalam suasana romantis tersebut.


Mereka menginap disebuah hotel yang menyajikan view menara eifel. Elina terpana menyaksikan keindahan paris dimalam hari.


Dave memeluknya dari belakang, mencium tengkuk istrinya sehingga Elina merasa merinding. Dave semakin erat memeluknya.


Elina berdebar, apa suaminya akan meminta haknya malam ini? Elina merasa tidak siap.


Dave begitu lembut dan pengertian memastikan sang istri nyaman dengan apa yang dilakukannya walaupun ia sendiri tidak memiliki pengalaman dengan wanita sebelumnya.


Keduanya larut dalam kecupan ringan hingga cumbuan liar, Dave membaringkan Elina dan memulai aksinya. Ditengah cumbuan panas mereka secara tiba-tiba tubuh Elina menegang, tangannya menutup wajahnya dan ia terdengar seperti tengah mengerang ketakutan.


" Elina? Elina? Hei..." Dave jadi sangat khawatir.


"KYAAAA " Teriak Elina sangat keras lalu menangis tersedu- sedu.


Dave tidak mengerti namun memeluk istrinya yang masih menangis sesenggukan.


" Maafkan aku Dave, maaf, aku takut " Kata Elina menangis dalam pelukan Dave tubuhnya gemetar hebat lalu ia terkulai pingsan.


Untung Dave seorang dokter hingga ia terbiasa tidak panik. Ia membaringkan sang istri dan memeriksanya. Ia melakukan sambungan panggilan jarak jauh dengan seorang temannya yang kebetulan juga seorang psikiater. Tingkah Elina tadi seperti menampakkan gejala trauma.


" Kita harus tahu penyebab traumanya baru bisa melakukan terapi padanya" Kata Teman Dave.


" Thanks, Bro " Jawab Dave.


Ia menunggui Elina hingga sadar, beberapa menit kemudian Elina terjaga dalam kondisi waspada. Ia langsung menyadari jika Dave tengah memperhatikannya.


" Tidak apa-apa El, Kau aman disini " Kata Dave menenangkan.


Elina tertunduk, Dave pasti kaget dengan tingkahnya tadi. Ini diluar kendalinya, rasa takut langsung membuatnya tidak bisa berpikir apapun. Namun ketika menyadari jika Dave yang sedang berada disisinya seketika rasa aman dan hangat langsung muncul dalam hatinya.


" Bisakah aku tahu apa yang terjadi El? tapi kalau belum siap juga tidak apa-apa " Suara Dave agak melunak.


Elina menatap lama mata sang suami. Berat rasanya untuk membuka suara namun suaminya berhak tahu apa yang terjadi. Masa lalu kelam dirinya.


Elina menarik napas menutup mata lalu menghembuskan perlahan sambil membuka matanya.


" Mungkin kau sudah mendapatkan informasi jika ayah Daffa adalah Nathan Wijaya (Dave mengangguk membenarkan) dulu kami sempat pacaran dan ada kesalahpahaman sehingga kami memutuskan untuk berpisah, sebagai orang yang kuanggap dekat Nathan tidak mempercayaiku, Ia menelan begitu saja perkataan jelek orang tentangku, Anggun menyukainya dan mempengaruhinya untuk semakin jauh dariku...Aku sadar saat itu tidak akan mungkin lagi kami bersama hingga mencoba mengubur perlahan kenangan kami siapa sangka malam itu ia menyeretku dari rumah membawaku ke suatu tempat dan memperlakukanku seperti wanita murahan, hik..hik ... hik.. malam itu aku terluka, betapa menakutkannya Nathan saat itu mengikatku dan..."


Dave langsung memeluk Elina, ia tidak tahan mendengar cerita istrinya. Elina tidak lagi melanjutkan. Suara tangisnya tenggelam dalam dada sang suami.


" Tidak usah dilanjutkan lagi " Kata Dave.


Ia tadinya mengira Elina ditinggalkan Nathan dalam keadaan hamil karena tidak mau bertanggung jawab, kenyataannya bahkan Nathan tidak mengetahui keberadaan Daffa hingga sekarang.

__ADS_1


***


BERSAMBUNG


__ADS_2