Embun Dari Langit

Embun Dari Langit
ada sebab ada akibat


__ADS_3

***


Daffa menebak kakak Nara dari kemiripan wajah, Anak itu tidak gentar sama sekali. ia memang masih kecil tetapi untuk keselamatan dirinya kedua orangtuanya membekalinya dengan macam macam perlindungan diri darurat.


" Kau berani merusak jam tangan adikku? " Tanya kakak Nara marah.


Daffa tersenyum, bagus ia masih bisa mengukur waktu karena bodyguard pengawal nya semenit lagi sampai. Daffa bisa mengatasinya sendirian hanya saja karena bersama Budi, bocah itu jadi ingin menyelesaikan dengan cara cepat.


Kakak Nara baru akan mengeroyok secara tiba-tiba tiga mobil dan keluar sejumlah orang dengan pakaian jas serba abu-abu ( Bagi Daffa warna hitam terlalu mainstream 😁) semuanya mengarahkan senjata pada segerombolan anak SMU itu.


Para remaja tanggung tersebut ketakutan tidak menyangka jika akan berhadapan dengan orang yang disangka mafia. Kakak Nara dibekuk lebih dahulu.


" Tuan muda tidak apa-apa?" Tanya Sang kepala pengawal.


" Aku baik-baik saja, cuma tolong urus dengan bersih! hilangkan kesombongannya saja " Kata Daffa.


Bocah itu mengajak sahabat nya melanjutkan perjalanan pulang.


" Lalu kakak Nara gimana? apa dia akan mati?" Tanya Budi takut takut.


" Ah tidak, jangan sering menonton TV yang aneh-aneh... besok mungkin lebih seru beritanya " Kata Daffa tertawa.


Budi terheran heran dengan reaksi sahabatnya, rasanya Daffa selalu tenang dan misterius. Siapa Daffa sebenarnya? dan siapa orang-orang yang menolongnya tadi? Budi tidak bisa menjawabnya memilih untuk menunggu.


Kakak Nara yang bernama abdi dibawa ke kantor polisi dan ditangani oleh polisi setempat. Kapolda datang langsung meninjau kasus tersebut. Singkatnya orangtua dari Kakak Nara diundang ke kantor polisi.


Belum selesai masalah dikantor polisi, ayah Nara mendapat panggilan dari gubernur malam itu juga dan alangkah terkejutnya dirinya mendapati pencopotan dirinya dari jabatan.


" Apa salah saya pak Gubernur? saya tidak terima jika dinon jobkan tanpa alasan!" Tuntut Ayah Nara.


Gubernur menghela napas,


" Maaf pak Tulung ini bukan kehendak saya melainkan perintah dari Mendagri langsung atas instruksi presiden... mengenai salah bapak ini bukan salah bapak secara langsung tetapi putra-putra bapak telah menyinggung seseorang yang bahkan presiden saja harus turun tangan untuk menangani masalah ini " kata Gubernur.


Pria usia lebih dari setengah abad itu ngeri membayangkan jika dirinya yang telah menyinggung "orang besar" seperti yang dialami oleh Tulung (Ayah Nara)


" Menyinggung siapa?" Ayah Nara kebingungan.


Gubernur memperlihatkan sebuah foto Daffa, Ayah Nara tidak mengenali bocah itu.


" Pagi hari putra bungsu anda menyinggungnya lalu meminta putra sulung anda untuk mengeroyoknya sepulang sekolah, pengacaranya mengajukan tuntutan hukum dan menelpon presiden langsung untuk menangani semua gangguan yang menghalangi kenyamanan anak ini"


" Jadi tadi Nara dan Abdi? siapa anak ini? mengapa ia penting? apa dia cucu presiden?" Tanya Ayah Nara.


" Ini rahasia negara pak Tulung, orang seperti kita tidak akan diberitahu banyak, anak ini keberatan dengan perlakuan putra bapak dan meminta agar semua yang mengganggunya dibersihkan dan pengacara nya menganggap termasuk anda sekeluarga " Kata Pak Gubernur.


Ayah Nara bergetar saking emosi, harga dirinya terusik dengan peristiwa yang baru saja menimpanya. Ternyata bukan hanya nonjob, semua usaha Keluarga Nara juga diblokir. Ayah Nara pulang ke rumah dengan penuh amarah.


Nara dan ibunya menyambut didepan pintu rumah berharap sang ayah membawa sang kakak kembali seperti biasanya. Ini bukan kali pertama Ayah Nara menjemput putranya dipenjara, putranya ini telah beberapa kali melakukan pengeroyokan.


" Mana Abdi ayah?" Tanya ibu Nara.


Bruk! Ayah Nara dengan emosi membanting surat perintah yang dipegangnya ke meja terdekat.


Ibu Nara dan Nara terkejut.

__ADS_1


" Ada apa ayah?" Tanya istri pak Tulung.


" Baca! baca surat ini!!" Perintah pak Tulung dengan kasar.


sang istri terkejut dengan isi surat itu, banyak pertanyaan muncul dibenaknya.


" Lalu kakak?" Tanya Nara.


PLAK!


Sebuah tamparan langsung kena telak dipipi Nara. Bocah itu terpental, ia langsung menangis keras tidak menyangka akan dipukul ayahnya.


" Ayah!" Pekik ibu Nara.


" Ini semua gara gara kau terlalu memanjakan anak ini! Lihat dia menyeret kakaknya ke penjara bahkan ayahnya dipecat gara-gara anak ini! Dasar anak pembawa sial!" Maki ayah Nara dengan emosi.


Nara semakin ketakutan, bocah ini masih tidak mengerti alasan tamparan ayahnya. Ibu Nara tidak terima dengan tamparan suaminya.


" Apa salah Nara dalam hal ini? jangan melampiaskan amarah pada anak-anak, dia masih kecil" Tegur ibu Nara.


" Anak manjamu ini menyinggung orang besar, aku dinonjobkan dan kakaknya akan menginap dipenjara! tanyakan pada anak itu apa yang dilakukannya tadi pagi? siapa yang dikeroyok kakaknya? apa yang bisa kulakukan sekarang? bahkan bisnis keluarga hancur kita jatuh miskin sekarang!" Marah Ayah Nara.


Ibu Nara syok tidak menyangka, Nara bingung masih merasa tidak bersalah. Kenyataan ayah memukulnya jauh menyakiti batinnya.


" Apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Ibu Nara lirih.


" Kita harus mencari anak yang diganggu Nara dan meminta maaf siapa tahu masih ada harapan" Kata Ibu Nara.


Ayah Nara menatap sang istri setengah yakin.


Ia memilih keluar rumah dan tidak pulang malam itu. Pria itu mencari bantuan dari relasinya, siapa sangka hampir seluruh relasinya telah mengetahui perihal dirinya dicopot dari jabatannya. Penolakan demi penolakan diterimanya membuatnya semakin frustasi.


***


Keesokan paginya.


Daffa dan Budi ke sekolah seperti biasa dengan sepeda. Budi bertanya tentang pasukan jas abu-abu kemarin dan kakak Nara dibawa kemana.


" Kakak Nara dikantor polisi sekarang " Jawab Daffa.


" Pasukan jas abu-abu nya?" Tanya Budi.


Daffa tertawa, Budi telah memberikan julukan yang lucu untuk bodyguard nya.


" Mereka penjagaku, sudahlah tidak usah dipikirkan! Pe-er nya sudah belum?" tanya Daffa mengalihkan topik.


Budi mengangguk, keduanya masuk dalam kelas dan menjalankan tugas piket masing-masing. Disekolah lama Daffa tidak pernah terlibat dalam masalah kebersihan kelasnya. Sekolah Lama Daffa memiliki cleaning servis sendiri untuk menjaga kebersihan sedangkan disekolah barunya yang sekarang Daffa dan murid murid diberi tanggung jawab untuk menjaga kebersihan kelas dan lingkungan agar selalu bersih. Daffa pun kebagian jadwal piket bersih bersih.


" mana yang namanya Daffa ? disuruh ke ruangan kepala sekolah" Kata salah seorang murid dari kelas lain.


Daffa sudah dapat menebak apa yang akan terjadi melangkah dengan tenang menuju ruang kepala sekolah.


Ruang kepala sekolah hanya berjarak 50 meter saja dari kelasnya. anak itu berjalan seperti biasanya. Seperti yang sudah diduga jika semua ini masih terkait dengan peristiwa Nara kemarin. Hanya saja sedikit membuat Daffa kecewa ternyata Yang datang hanya Ibu Nara saja.


Penampilan Ibu Nara terlihat seperti ibu pejabat, pakaian, perhiasan dan parfum mahal sangat menggambarkan kelas dari ibu itu.

__ADS_1


" Apa pak kepala sekolah memanggil saya?" Tanya Daffa sopan.


Kepala sekolah sedang menilai Daffa, apa mungkin anak sekecil ini bisa membuat orang penting bisa datang ke sekolah kecil itu.


" Ibu Tulung ada keperluan denganmu, nak" Jawab Kepala sekolah.


Daffa hanya mengangguk, tidak ada kegugupan sama sekali bertemu dengan "istri pejabat". 🤭🤭(mantan pejabat)


" Ehmm, ibu ke sini mau meminta maaf atas sikap Nara yang kurang baik padamu. Dia telah mendapatkan pengajaran dari ayahnya " Kata sang nyonya besar dengan nada direndahkan namun tidak bisa menutupi kesan arogan dirinya.


" Baik, permohonan maaf sudah diterima" Jawab Daffa membuat kepala sekolah kaget, bocah didepannya tidak kalah arogan menjawab.


Ada apa ini? mengapa justru bocah sekecil Daffa bisa terlihat berwibawa bahkan dirinya merasa terintimidasi.


" Lalu bisakah nak Daffa meminta orangtua Nak Daffa untuk mengembalikan jabatan ayahnya Nara?" Tanya Ibu Nara.


Kepala sekolah lebih terkejut lagi, ini sebenarnya siapa yang meminta siapa dan meminta apa? mengapa Daffa berpengaruh pada jabatan ayah Nara.


" Orangtua saya hanya dokter tidak punya kuasa apapun, mengenai jabatan suami ibu itu bukan wewenang anak kecil seperti saya" Daffa angkat bahu.


Ibu Nara menahan emosi dan masih berusaha tersenyum.


" Tapi informasi yang ada kalau "


" Saya hanya anak kecil bukan siapa-siapa, jangan terlalu menganggap tinggi saya nyonya" Jawab Daffa langsung memotong perkataan ibu Nara.


Kepala sekolah semakin tidak mengerti, Daffa pamit baru beberapa langkah ia berbalik sambil tersenyum


" andai saja anda sekeluarga meminta maaf dengan tulus mungkin semua bisa dipertimbangkan, hemmm ada sebab ada akibat nyonya " Kata Daffa berlalu pergi.


Ibu Nara hanya bisa terdiam menatap kepergian Daffa sampai menghilang dibalik pintu.


***


Dave datang mengendap-endap masuk, Ia melihat bibi Andrea sedang menjaga Kiara yang sedang tertidur. Elina sibuk memasak didapur untuk makan siang Dave yang akan dikirimkan lewat pak Rumbun.


" Ekh ?" Elina terkejut dipeluk dari belakang.


Dave menenggelamkan wajahnya dibagi sang istri. Ia suka sekali wangi istrinya. kebetulan Sanja dan ibunya sedang keluar berbelanja bahan kebutuhan dipasar.


" Nanti dilihat orang ga enak " Kata Elina.


" Ga ada orang, aku kangen nih " Kata Dave.


Pria itu semakin mengeratkan pelukannya, Elina tidak mau mengambil resiko keselamatan hingga mematikan kompor gas.


Dave menciumi sang istri. Elina tidak menolak dan membalas sebisanya. Sebenarnya malam ini ketika Dave pulang kerja Elina akan memberi tahukan jika Puasa Dave akan berakhir tetapi Dave datang siang hari mengejutkannya.


Prang!


sebuah benda jatuh mengagetkan keduanya. Secara otomatis keduanya menengok ke arah suara. Sesosok tubuh sedang terpaku menatap mereka.


***


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2