
***
Nathasa kesal sekali, anak perempuan ini langsung pulang menuju kantor ayahnya. Sebenarnya ia juga tidak ingin ke sini karena pasti akan menemui ibu tirinya juga. Nikita tetap mendampingi Nathan sebagai asisten pribadinya baik dikantor pemerintahan maupun dikantor start up miliknya.
Sosok Nathan dan Nikita sering dikatakan sebagai pasangan serasi. Bahkan publik sering melupakan jika Nathan memiliki seorang istri lagi karena sering kali tampil bersama Nikita dan tidak pernah bersama Anggun. Tidak ada yang menyinggung hal itu karena sudah di back up oleh pendukung politik Nathan sejak awal Nathan terjun dalam dunia politik. Bahkan ibu-ibu mengidolakan Nikita karena wanita itu dianggap dapat menjaga suaminya dari mata wanita lain. (Itulah Dunia ! )
" Daddy mana? " Tanya Nathasa pada Nikita yang sedang menyuapi Arka ( Usia 2 tahun) , ia diadopsi Nathan dan Nikita agar Nikita tidak terlalu sedih karena tidak bisa memiliki seorang anak.
" Didalam sedang rapat" Jawab Nikita acuh.
Wanita itu tahu kelakuan Nathasa hingga tidak lagi peduli dengan anak itu.
" Aku mau ketemu Daddy! " Kata Nathasa.
" Kembali saja satu jam lagi " Kata Nikita.
" Heh! Berani kau ! " Nathasa menunjuk Nikita didepan orang.
Nikita menepis tangan bocah perempuan itu. Ia tidak perlu repot menjaga image didepan pegawai-pegawainya. Mereka telah mengetahui perangai manja putri sang gubernur. Mereka tidak bisa melawan karena takut dimutasi.
" Siapa yang takut padamu, anak kecil? Jangan buat ulah disini atau aku akan membuat ayahmu tidak akan menemuimu selamanya, Momymu tidak mendidikmu dengan baik hingga tingkahmu semakin kasar dari hari ke hari " Kata Nikita tidak kalah galak.
Nathasa tetaplah anak kecil, ia merasa gentar diancam. Ibu tirinya tidak kalah galak darinya. Anak itu mengirim pesan pada ayahnya dan setelah mendapatkan balasan ia langsung kembali ke rumahnya. Diam-diam ia melirik Arka, Bocah lelaki itu mendapatkan perhatian penuh dari ayahnya sedang dirinya tidak.
Ayahnya sama sekali tidak mau menginjakkan kakinya dirumah ibunya. Apapun yang terjadi Nathasa hanya bisa menyalahkan sang ibu tiri yang telah merebut ayahnya dari ibunya ditambah dengan keberadaan Arka yang lebih mendapat sorotan sebagai anak gubenur. Inilah yang membuat Nathasa selalu marah dan menghukum siapaun tanpa ampun.
Nathan keluar tidak lama setelah putrinya kembali, Niki telah menyudahi kegiatannya menyuapi Arka.
" Tadi seperti mendengar suara Shasa ( Nathasa ) " Kata Nathan.
" Yah, seperti biasanya putrimu mengamuk mungkin ada lagi yang harus dipecat seperti biasa, jangan terlalu memanjakan seperti itu" Kata Nikita dengan nada datar.
" Dia masih anak-anak" Jawab Nathan.
Niki tidak lagi menjawab, Nathan dan Anggun sama-sama terlalu memanjakan putri mereka walaupun terkadang berlebihan.
***
Nathan segera menelpon putrinya, Nathasa dengan nada manja meminta agar dipindahkan ke kelas khusus agar bisa menyaingi Daffa musuh barunya. Nathan terkekeh, itu tidak mungkin pria muda ini memasukkan sang putri berdasarkan koneksinya tidak melalui tes karena Nathasa sendiri tidak memiliki kualifikasi masuk dalam sekolah elit tersebut karena dari degi kecerdasan dan bakat sama sekali tidak memenuhi syarat.
" Nanti Daddy telpon direkturnya ya, putri daddy tenang saja " Kata Nathan.
Nathasa terdengar senang mendengar janji ayahnya.
" Makasih daddy, Kau adalah pahlawanku" Kata Nathasa dengan nada imut.
__ADS_1
Nathan tersenyum, sekertarisnya datang membawakan amplop yang berlabel rahasia negara. Dalam amplop itu ada surat yang meminta penempatan untuk mengawal orang-orang yang dijaga negara dengan rahasia.
" Elina Gunadya dan Daffa Mathews " Kata Nathan membaca datanya.
Alangkah terkejutnya ia melihat foto-foto orang yang harus dijaga khusus itu. Wajah Elina sangat mirip dengan Embun dan Daffa tercatat sebagai anak Elina.
" Astaga mereka tercatat sebagai aset NASA " Kata Nathan terkejut.
Dalam dokumen tersebut Nathan diminta secara rahasia menyiapkan segala sesuatu yang membuat keamanan keduanya terjamin bahkan ada tanda tangan presiden dan kepala BIN dalam surat itu.
" Jadwalkan pertemuanku dengan Nyonya Elina dan Daffa " Pinta Nathan gugup.
" Sayangnya belum bisa, pak! Mereka berada dalam protokol keselamatan NASA sampai segalanya dikonfirmasi aman maka keduanya baru bisa ditemui" Jawab sang asisten membuat Nathan frustasi.
Pria itu ingin bertemu dengan Elina yang mirip dengan Embun. Pertengkaran dengan kakaknya terakhir kali membuatnya mendapatkan informasi jika Embu melahirkan seorang anak lelaki.
" Apakah Dia anakku? " Tanya Nathan menatap Foto Daffa
Wajah Daffa sebagian besar mewarisi wajah Embun hanya warna matanya coklat. Dilihat dari tanggal pernikahan Elina dan Dave semakin meyakinkan dirinya jika ia harus menemui Elina dan memastikan Elina adalah Embun dan Daffa adalah putranya.
Putra yang lahir tanpa sepengetahuannya. Nathan menatap foto itu dengan kasih sayang. Jika diperhatikan dengan seksama Daffa masih terlihat kemiripan dengan Nathasa putrinya.
Matanya melihat nama sekolah yang sama dengan putrinya. Ia tersenyum mendapatkan ide untuk bertemu dengan Daffa secara alami tanpa harus melanggar protokol.
" Tempatkan orang secara khusus sesuai dengan permintaan pak presiden " Kata Nathan memberikan disposisi surat pada sang asisten.
Asisten itu mengangguk lalu pergi.
Keesokan harinya Nathan tidak sabar langsung menuju sekolah tanpa mengabari putrinya. Tujuannya untuk menemui Daffa. Bocah lelaki itu duduk santai sambil menelpon seseorang dalam bahasa asing yang tidak satupun yang paham maknanya.
Nathasa bahagia mengira ayahnya datang memberi kejutan, sayangnya ia harus terkejut melihat ayahnya malah menghampiri Daffa, bocah lelaki yang kemarin mengatakannya kampungan. Tidak pernah ada yang membuatnya sehina itu. Kehebohan terjadi satu sekolah akibat kunjungan Gubernur tanpa pemberitahuan. Kepala sekolah dengan wajah panik datang bersama staff guru.
" Bisa bapak duduk disini? " Tanya Nathan.
Daffa melihat sekilas langsung mengenali siapa yang datang menyapanya. Bocah itu mengangguk membiarkan Nathan disampingnya. Ia menutup pembicaraan dengan seseorang ditelepon tadi.
" Apa yang sedang kau bicarakan, Nak? " Tanya Nathan.
Terus terang ia gugup sekali berhadapan dengan putra yang baru ia ketahui ini. Pria itu langsung meyakini jika anak lelaki itu benar-benar anak kandungnya.
" Anda tidak akan mengerti walaupun saya menjelaskan panjang lebar " Jawab Daffa tegas.
Nathan tidak tersinggung dengan jawaban itu, berhadapan dengan anak secerdas Daffa sama sulitnya dengan menghadapi atasan-atasannya. Nathasa datang dan mengadukan perihal Daffa kemarin berserta bumbu-bumbunya dengan harapan agar Nathan menghukum Daffa.
__ADS_1
Daffa tertawa sinis melihat tingkah bocah perempuan didepannya.
" Hukum dia Daddy! " Tunjuk Nathasa.
Nathan terlihat bimbang, ia melihat Daffa melihatnya tanpa takut sama sekali.
" Daddy mendengarkanku kan? Cepat hukum dia " Pinta Nathasa.
" Shasa sayang mana mungkin kita langsung menghukum orang hanya karena mengatai kampungan " Kata Nathan mencoba membujuk putrinya.
" Saya memang mengatai putri anda kampungan, mungkin ia perlu piknik sesekali keluar negeri! sepertinya seumur hidupnya bahkan tidak pernah naik pesawat" Kata Daffa menohok Nathasa.
Dengan segera air mata Nathasa mengalir. Benar tebakan Daffa, Ia bahkan tidak pernah naik pesawat karena dokter melarangnya. Berulang kali ia ingin mencoba burung besi sayangnya dokter tidak bertanggungjawab atas keselamatannya selama berada diudara.
" Segitu saja menangis! Betapa pedasnya mulutnya semena-mena pada orang lain! sudah kubilang cari orang selevel denganmu jangan aku! Dan anda bisa menghukumku karena membuat putri anda menangis " Tantang Daffa menatap Nathan langsung ke matanya.
Nathan terpana tidak tahu harus berbuat apa, Daffa datang mendekat dan membisikkan ditelinganya
" Kau sedang memastikan aku putra Embun Bumiwardoyo kan? YA! Itu Aku dan aku juga tahu mengetahui kau orang yang menyakiti Mommyku ! " Bisik Daffa meninggalkan Nathan dengan wajah terkejutnya.
" Se-sebentar " Nathan menjadi gugup.
Daffa berbalik memangku dada, ia terlihat lebih berkharisma dibanding Nathan yang notabene seorang Gubernur.
" Urusi putrimu yang manja itu, sifatnya jelek sekali! " Tegur Daffa lalu berbalik pergi.
Nathan tidak berdaya, Nathasa semakin merengek meminta ayahnya menghukum Daffa.
" DIAM Shasa! jangan buat ulah! Bikin malu saja" Bentak Nathan didepan umum.
Nathasa malu sekali, berbalik pulang ( Ngambek tidak mau sekolah). Nathan tidak peduli, ia harus mendapatkan jawaban dari Daffa hari ini juga. Kepala sekolah malah menambah kekesalannya karena mengajaknya ke ruangannya dengan alasan menyambut Gubernur.
" Ah tidak usah repot pak kepala sekolah, ini hanya kunjungan orangtua murid biasa " Kata Nathan berbasa basi.
Daffa masuk ke kelas, dalam ruangan ia menjadi bahan pembicaraan karena tidak gugup sama sekali bicara dengan gubernur, malahan terlihat adalah Daffa mengintimidasi gubernur.
" Anak itu berani sekali" Bisik teman-teman lain.
" Maklum didikan luar negeri! " Desis yang lain.
Daffa memilih cuek saja. Ia memilih untuk tidak mempedulikan teman-temannya. Lagipula ia hanya sebentar dikelas satu karena direktur akan memindahkannya ke kelas 4 bulan depan. Daffa mengikuti akselerasi pendidikan seperti Embun. Target bocah ini adalah seperti ibunya atau melampaui ibunya.
***
BERSAMBUNG
__ADS_1