Embun Dari Langit

Embun Dari Langit
Dilema


__ADS_3

***


Arga tidak mengerti dengan kedua orangtuanya, padahal dulunya kedua orangtuanya sangat mendukung malah terus mendesak Arga untuk segera memperistri Tatia. Mamanya selalu menanyakan kapan menikah sejak tahun pertama Arga pacaran dengan Tatia.


Pertemuan dengan keluarga Tatia malah menjadi pertemuan yang penuh dengan ketegangan, mama Tatia dengan gamblang hanya akan menerima anak itu tanpa ibunya. Arga mengajak kedua orangtuanya pulang. kedua pihak telah menemui jalan buntu.


Sekarang semua berbanding terbalik, kedua orangtua Arga bersikukuh menolak walaupun sekarang Tatia sedang mengandung anak Arga.


" Itu anak Arga, pikirkan nasibnya nanti jika Arga tidak menikahi Tatia " Kata Arga.


" Jika kau yakin itu cucu mama maka mama akan mengambilnya dari tangan wanita itu, cucu mama tidak boleh diasuh wanita seperti dia! " Kata Mama.


" Status anakku nanti bagaimana? "


" Kamu akan mama nikahkan dengan gadis lain dan kalian bisa mengasuh anak itu bersama! Asal bukan Tatia, mama akan setuju bahkan jika perlu kamu akan mama nikahkan anak pembantu asal dia bisa menyayangi cucu mama" Seru mama Arga semakin emosi.


" Sudah Ma, jangan terlalu emosi! Pikirkan darah tinggimu nanti kambuh" Tegur Ayah Arga.


Arga diam, dalam kepalanya memikirkan ncara agar dia bisa menikahi Tatia secepatnya. Usia kandungannya sudah memasuki bulan ke 4, Arga mencemaskan anaknya. Ia juga sangat mencintai kekasihnya itu.


Ia mengunjungi Tatia, gadis itu nampak sangat bosan dengan keadaannya sekarang ini. Tatia terus membayangkan bagaimana cara agar ia bisa lepas dari kungkungan Arga.


" Sudah minum vitaminnya? " Tanya Arga lembut.


" Sudah! " Jawab Tatia cepat.


Gadis itu terlihat tidak suka dengan kedatangan Arga namun membiarkan saja pemuda itu membelai perutnya yang mulai sedikit membuncit.


" Kapan kau akan melepaskanku? Please aku sudah sangat bosan disini" Pinta Tatia.


" Tidak! Aku tidak ingin sesuatu terjadi pada anakku " Arga menolak keras.


Tatia merengut duduk diranjang. Hormon kehamilan membuatnya cepat marah. Arga sudah mengenal sifat Tatia yang satu ini, jika sudah marah tidak ada yang bisa menghentikan kegilaannya. Arga memilih meninggalkan sang kekasih dalam kamar sendirian.


Tatia terdiam, ia membayangkan Dave dalam pikirannya. Gadis itu ingin sekali Dave mendatanginya. Sejak kecil Tatia sudah menjadi anak yatim piatu. Gadis itu hidup bersama kedua paman bibinya. Memang keduanya menyayangi Tatia selayaknya anak sendiri karena mereka sendiri tidak memiliki anak dalam pernikahan mereka. Sayangnya pekerjaan Paman Tatia sebagai dokter dan Bibi Tatia sebagai aparatur sipil Negara membuatnya keduanya sibuk dalam bekerja.


Tatia melimpah secara materi sayangnya anak itu mendambakan kasih sayang dan perhatian selayaknya anak seusianya. Karena itu gadis itu mendambakan sosok pria dewasa dan penyayang, hal itu didapatinya dari sosok Dave, walaupun terlihat cool namun sosok Dave adalah sosok penyayang istri dan keluarganya. Tatia sangat iri dengan Elina mengapa wanita itu bisa menjadi cintanya Dave.


Rasa iri itu menjadi rasa ingin memiliki, Gadis itu tahu jika hal yang diinginkannya salah namun ia tidak peduli, asalkan dirinya bahagia tidak ada yang bisa menghalanginya walaupun harus menjadi orang ketiga sekalipun. Tatia sering kali mengkhayalkan dirinya sedang mengandung anak Dave dan sering mengajak bicara calon bayinya dengan memperkenalkan Dave sebagai sosok ayah bayinya.


( Untuk hal ini Penulis saja sampe geleng-geleng kepala, kok bisa ada wanita seperti ini! Semoga kita dijauhkan dari perbuatan yang demikian dan tidak mendapat gangguan dari wanita yang memiliki sifat yang sedemikian rupa )


 

__ADS_1


***


Paman Tatia merasa sangat malu sekali karena telah menuduh Dave dan memberikan sanksi atas dasar perassaan pribadinya. Apalagi selama ini Dave menolak tuduhannya.


Dave masih dalam masa skors sehingga paman Tatia tidak bisa menemuinya diruangan kerja. Untuk datang ke rumah, Paman Tata masih agak segan mengingat kejadian dengan Elina tempo hari.


Dilain tempat


Dirumah kediaman Elina, Setelah mengantarkan Daffa sekolah Dave kembali ke rumah. Ia menemui sang istri yang sedang bermain dengan putri kecil mereka.


" Bagaimana dengan penelitiannya? " Tanya Dave datang langsung mencomot buah apel yang telah dipotong-potong.


" Masih menunggu hasil pembahasan dari para profesor " Jawab Elina.


" Oh ya kepala pengawal baru saja memberitahu jika eksekusi Anggun telah dilaksanakan semalam, ia akan dimakamkan disamping Nathasa sesuai dengan permintaan terakhirnya. Sore ini ia akan dimakamkan" Kata Dave.


Elina terdiam, ada rasa sedih dalam relung hatinya tetapi bukankah ini setimpal dengan perbuatan Anggun dimasa lalu. Wanita itu seperti melihat kenangan masa lalunya seperti film yang diputar kembali.


" Kau tidak apa-apa? " Tanya Dave mendekat.


" Tidak, hanya terkenang masa lalu saja " Jawab Elina cepat sambil tersenyum manis.


Hari ini Dave berencana akan mengajak Elina dan keluarga kecilnya jalan-jalan keliling Banjarmasin melihat tempat yang indah. Elina menyetujui dan mempersiapkan keperluan mereka selama liburan.


" Bersiap sayang kita akan menginap selama beberapa hari diluar " Kata Dave sambil menidurkan Kiara dikeretanya.


Kiara tertidur dengan pulas, Usia putri kecil Dave telah memasuki 5 bulan. Sudah banyak hal yang bisa dilakukannya. Dave sebenarnya deg-degan karena dulu pernah dikejutkan dengan kenyataan Daffa bisa berbicara pada usianya yang belum menginjak satu tahun ( Kira-kira 9 bulan) , mengingat gen Elina juga mengalir dalam darah putrinya hingga tidak menutup kemungkinan putrinya akan secerdas mamanya.


" Jangan cepat besar nak, daddy masih ingin menimangmu" Kata Dave mencium pipi Kiara.



Dave iseng mencoba mengganti baju Kiara, anak itu terlihat terganggu dengan kelakuan sang Daddy.



" Owh so Cuteee " Kata Dave tersenyum puas.


Lain halnya dengan snag putri menatap daddynya dengan ekpresi protes seolah tidak menyukai apa yang dilakukan daddynya.


" Putri daddy tidak suka ya? Baiklah kita ganti yang lain saja..." Dave melihat Kiara semakin melotot padanya seolah berkata aku tidak ingin memakai pakaian ini.


Dave mengganti baju Kiara kembali dengan baju lain berwarna pink putih.

__ADS_1



Kali ini Kiara terlihat nyaman dengan pakaiannya.


" Masih kecil sudah pintar memilih warna untuk dirinya, aduh putri Daddy ini " Kata Dave masih saja mengajak buah hatinya bicara.


Interaksi keduanya dijeda dengan bunyi bel pintu.


" Biar aku saja " Seru Dave agar Sanja tetap membantu Elina didapur.


Sanja mengangguk berbalik ke dapur. Dave bersama Kiara membukakan pintu.


" Bisakah saya masuk? " Tanya Paman Tatia.


Dave mengangguk memberi izin. Paman Tatia terdiam agak lama, pria paruh baya itu terlihat kikuk dan malu akibat perbuatannya tempo hari.


" Saya datang ke sini untuk meminta maaf selama ini telah salah menuduh dokter padahal kenyataannya tidak demikian " Pinta Paman Tatia.


Dave hanya tersenyum lega artinya semua masalah telah berakhir.


" Saya juga mencabut skors dokter, besok jika dokter berkenan dokter bisa masuk kembali " Kata Paman Tatia.


" Wah kalau itu saya belum bisa pak! malahan saya berharap jika skors itu diperpanjang"


" Hah? Kenapa? Dokter masih tidak puas? Jika begitu saya akan meminta maaf pada dokter didepan umum karena telah mempermalukan dokter " Kata Paman Tatia.


" Bukan itu pak! Jangan salah sangka! Kalau soal Tatia itu saya sudah melupakannya, masalahnya saya dan keluarga merencanakan liburan selama semingguan ini jadi jika diperkenankan kalau boleh skors itu diperpanjang" Kata Dave cepat-cepat menjelaskan.


Paman Tatia terlihat lega, " kalau begitu saya akan memberikan cuti untuk dokter tapi bukan memperpanjang skors"


Dave mengangguk tersenyum. Kiara malah cuek saja sambil menatap orang dewasa didepannya berganti-ganti. Paman Tatia akhirnya pamit meninggalkan rumah Dave. Elina datang menengok sambil membawa tas dan kereta bayi persiapan untuk Kiara lalu Tas untuk Daffa serta beberapa perbekalan penting yang tidak boleh dilupakan.


" Tinggal menjemput Daffa saja sayang, kita tunggu kakak Daffa ya nak" Kata Elina sambil mengajak Kiara bicara.


" Yess" Desis Kiara terdengar agak cadel.


Dave melongo tidak percaya mendengarnya.


" Kau mendengar itu istriku? " Tanya Dave dengan mata membesar tidak percaya.


Elina malah menatap sang suami dengan tatapan heran. Mengapa suaminya bisa seterkejut itu?


***

__ADS_1


BERSAMBUNG


Maaf banget cerita ini terlalu lama di Up, banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan sambil menjaga kondisi kehamilan. Naya berharap para pembaca sekalian tidak bosan memberikan komentar, saran dan like. hal itu membuat naya selalu rindu berinteraksi seperti biasa dengan pembaca sekalian.


__ADS_2