
lokasi nulis kali ini, Nayya sedang berada dipengadilan jadi saksi (ceritanya masih nunggu panggilan) daripada panas dingin ga karuan akhirnya nulis buat hilangin ketegangan. 😅😣 asli tegang !
Nayya tegang takut salah bicara wkwkwk. Sekian curhatnya sebelum masuk ke ruang sidang. Dede twinsnya pada Loncat sana sini bikin nayya sedikit terhibur. Semoga lancar ya sidangnya 😣 .
Semua akan indah pada waktunya.
🌹🌹🌹
***
Kantor polisi
Dave ditanyai beberapa pertanyaan, pengacara Dave telah siap mendampingi. Pria itu bersikukuh menolak semua tuduhan walaupun bukti ( yang diadakan dari pihak Tatia ) telah ada.
Paman Tatia masih membuka perdamaian. Mereka terbuka untuk negosiasi. Pada dasarnya Paman Tatia lebih memilih menyelesaikan masalah lewat jalur kekeluargaan sayangnya Dave yang menolak, ia memilih ikut prosedur polisi saja untuk membuktikan jika dirinya tidak bersalah. Elina mendukung sang suami, ia percaya penuh pada sang suami. Atas jaminan Pengacara, Dave tidak ditahan.
Para Nenek Daffa tidak terlalu menghiraukan masalah Dave,
" Masalah kecil tidak perlu diurusi " Kata Nenek Mathews.
" Betul, perempuan murahan seperti itu berapa lama akan bertahan " Jawab Nenek Sekar.
Nenek Gunadya juga sependapat. Mereka tidak ambil pusing. Mereka tetap berangkat sesuai jadwal dengan satu pesawat ke Jakarta dan akan naik pesawat masing masing ke Singapura dan Jerman. Masalah Dave hanya dianggap kerikil kecil saja.
Daffa ke sekolah keesokan harinya. Semuanya masih heboh membicarakan pesta ulang tahun Daffa. yang tidak datang menyesal apalagi melihat rata rata teman yang memakai souvernir kemarin ( Peralatan tulis menulis dan tas).
Budi paling semangat memamerkan hadiah yang didapatkannya dari pesta kemarin.
" Rugi ga Dateng pokoknya " Kata Budi.
Salah satu teman yang tidak datang adalah Nara, ia hanya bisa menelan ludah saking iri melihat barang-barang yang dimiliki temannya. Sebagai anak yang biasa dengan barang bermerek Nara tahu pasti jika Souvernir yang dibagi Daffa bukanlah barang murah. Sekarang ia tidak bisa apapun apalagi ayahnya terkena stroke hingga kehidupan semakin sulit.
Nara meninggalkan kerumunan begitu saja. Daffa pulang sekolah dengan naik sepeda. Ia heran ayahnya diantar oleh mobil polisi.
" Ada apa Daddy? " Tanya Daffa.
" Nothing Son 😊 " Jawab Dave tersenyum.
" Ganti mobil ya? " Tanya Daffa menengok mobil patroli polisi baru saja pergi dari halaman.
Dave hanya tertawa membenarkan saja. Elina menyambut dengan wajah senyum.
" Tatia bersikeras jika anak itu anakku " Kata Dave.
" Wanita gila!" Maki Bi Andrea sambil menyeruput teh.
" Tidak apa-apa Aunty ini hanya masalah waktu saja, tidak ada yang bisa membuktikan jika aku pelakunya " Kata Dave.
Dave terlihat sangat santai. lain halnya dengan Tatia, ia menempuh segala cara bahkan mengumumkan kehamilannya lewat sosial media.
__ADS_1
Pada Instagramnya ia menulis
" Sabarlah nak bunda akan berjuang demi kamu ayahmu sedang khilaf " 😢😢😢
Postingan itu mendapatkan banyak tanggapan. Seisi rumah sakit heboh. Tatia memainkan peran seolah dirinya korban. Dave tetap dengan style coolnya tidak peduli dengan Tatia.
Paman Tatia marah besar dan mencoba bicara dengan Dave. Ia memberikan surat skorsing pada Dave.
" Anda telah merusak keponakan saya! kenapa tidak ada rasa simpati anda untuk menolong kami dari malu, Tatia itu gadis baik baik. padahal seharusnya anda yang malu kenapa seolah-olah Tatia yang harus mengemis pada anda" Kata Direktur emosi.
" Gadis baik baik tidak akan hamil diluar nikah, pak! dia tidak sepolos apa yang anda kira " Kata Dave terkekeh.
" Kalau anda menolak damai maka kami akan menuntut hingga pengadilan" Ancam Direktur semakin marah.
" Lakukan saja sesuka anda " Jawab Dave acuh.
Direktur terkejut dengan sikap tenang Dave, ia mengira Dave akan bisa ditekan dengan mudah. Paman Tatia lupa jika sedang berhadapan dengan orang yang memiliki latar belakang yang tidak sederhana.
Bahkan pengacara Dave saja mampu menjamin Dave untuk bebas dari hukuman dalam waktu 24jam. Dave tidak terbukti bersalah. Namun Tatia bersikeras jika Dave yang menghamilinya, hal ini tidak bisa dipandang sepele.
Tatia mengajukan bukti demi bukti bahkan kesaksian Ibu Danum dan Sanja jika ia memang menginap dirumah Dave bulan lalu dan kandungannya berusia sesuai Dengan itu.
" Itu tidak bisa menjadi kesaksian yang memberatkan karena Sanja masih berusia dibawah umur (16 Tahun) dan Ibu Danum juga tidak bisa memastikan jika majikannya berhubungan badan dengan pelapor " Bantah Pengacara.
Malahan kesaksian Sanja memberi petunjuk jika saat ditemukan pingsan, kondisi Tatia terdapat luka lecet dan beberapa bekas luka aneh disekujur tubuhnya.
" Ibu bilang itu ****** (kissmark/bekas ciuman), tubuh nona Tatia terdapat bekas itu " Kata Sanja.
***
Semakin hari Tatia semakin berkobar semakin menggebu menuntut pertanggungjawaban jawaban Dave atas kehamilannya. Dave lagi-lagi hanya tertawa dingin tidak peduli.
Lama kelamaan Dave merasa tidak nyaman juga, semua rekan kerja dirumah sakit menjauhinya, Dave tidak masalah jika hanya dilingkungan pribadi sayangnya hal ini juga berpengaruh pada sikap profesional teman-temannya.
Tatia tanpa malu-malu lagi selalu datang ke rumah sakit menyapa Dave dengan alasan bayinya ingin melihat ayahnya. Pamannya semakin mendesak.
" Kita test DNA saja kalau begitu!" Kata Dave.
" Tapi nikahi Tatia dulu" Pinta pamannya.
" Tidak! Test DNA itu hanya untuk membuktikan jika anak itu bukan anakku. aku tidak berminat sama sekali dengan gadis kotor sepertinya " Hina Dave terang-terangan didepan Tatia.
Tatia juga menolak Test DNA sebelum Dave menikahinya, ia beralasan jika dites sekarang maka akan berpengaruh pada janinnya dan rencananya jika Dave telah menikahinya maka Tatia akan mengugurkan kandungan itu agar tidak ada bukti lagi.
Dave menolak dengan tegas. Tatia seperti orang gila terus menerus menerornya. Elina bahkan merasa tidak nyaman. Para tetangga juga mempertanyakan mengenai gadis yang sering menangis bolak balik didepan pintu pagar rumah Dave.
***
Dilain tempat.
__ADS_1
Arga mengetahui tentang kehamilan Tatia, tadinya ia sangat gembira namun begitu pengawalnya memberitahu jika Tatia malah berusaha meyakinkan jika anak Arga adalah anak Dave, Arga menjadi murka.
" Beraninya dia!" Marah Arga.
Pemuda itu memerintahkan anak buahnya untuk menculik Tatia dan menyekapnya disebuah rumah kosong dipinggir kota.
Tatia terkejut bukan main tidak menyangka jika Arga akan mengetahui mengenai kehamilannya padahal ia telah memblokir semua akses informasi agar tidak diakses pacarnya.
" Bagus Tatia, kau sukses membuatku marah besar " Kata Arga.
Tatia hanya bisa menatap pucat. Ia hanya bisa berharap jika ada yang menyadari dirinya menghilang.
Arga menugaskan seorang perawat dan dokter untuk memeriksa kesehatan pacarnya. Ia menginginkan anaknya sehat dan selamat. Namun HANYA ANAKNYA!.
Kini Arga hanya mempedulikan anaknya dalam kan dan untuk tujuan itu ia harus memastikan jika Tatia melahirkan anaknya dengan selamat. Selanjutnya entah bagaimana Tatia, Arga tidak peduli. Amarahnya masih belum bisa dipadamkan akibat perilaku Tatia.
***
Mobil paman Tatia datang lagi ke rumah Dave, kali ini paman dan bibi Tatia mengamuk sambil membawa sejumlah preman dirumah Dave gara-gara Tatia menghilang.
Kiara menangis akibat terkejut. Bi Andrea sibuk menenangkan bayi kecil itu.
" Jika anda terus mengamuk disini, Jangan salahkan saya jika akan bertindak kasar" Gertak Elina.
Dave dan Daffa sedang tidak berada dirumah, Dave menjemput anaknya disekolah. Sejak diskors Dave selalu mengantar jemput anaknya sekolah.
" Dimana Tatia?" Tanya Paman Tatia marah.
" saya tidak tahu " jawab Elina.
" Pasti Dave pelakunya, Dave! Dave! Keluar! jangan sembunyi!" Teriak Bibi Tatia.
" Diamlah, anak saya gelisah gara gara kedatangan kalian, suami saya sedang menjemput putra kami" Jawab Elina masih tenang.
Tapi Bibi Tatia masih juga berteriak, Elina tidak punya cara lain selain bergerak menekan syarat bibi Tatia agar kehilangan Suara.
" Akh.. akh.. " Bibi Tatia terkejut.
" Kau tidak akan bisa bicara nyonya, aku sudah melumpuhkan syarafmu " Kata Elina.
Beberapa preman maju hendak menggertak malah dibuat lumpuh Elina dengan batang sapu .
Preman mengeluh kesakitan. Elina terlihat menakutkan dengan ekspresinya.
" Kalian akan lumpuh total jika tidak berobat dalam 3 jam, kecuali jika aku membuka syaraf kalian lagi"
Paman Tatia seketika terkejut, sekujur tubuhnya bergetar melihat penderitaan yang dialami orang disekitarnya. Ia baru teringat jika Elina adalah bagian dari keluarga Jenius Gunadya, sedikit banyak pria ini tahu jika tidak boleh menyinggung dokter yang berada dalam lingkaran keluarga Gunadya tersebut.
Elina kini menatap semuanya dengan mata dingin tanpa ekspresi.
__ADS_1
***
Bersambung