Embun Dari Langit

Embun Dari Langit
asal muasal Gen Gunadya


__ADS_3

***


Dave masih saja melamun, sesekali melirik Kiara yang tengah asyik bermain dengan Daffa dikursi belakang.


" Ada apa suamiku? " Tanya Elina.


" Kiara " Kata Dave.


Elina menatap putrinya, ia tersenyum ternyata suaminya masih terkejut dengan ucapan putri kecil mereka. Elina tidak mengira jika Dave masih sekaget itu mengingat Daffa juga bisa mengucapkan kata-katanya sejak bayi.


" Mengapa kaget sayang? bukankah Kakaknya juga seperti ini? " Tanya Elina.


" Yah maksudku tidak, bagaimana ya? tetap saja aku syok, kamu paham maksudku kan? " Dave langsung mencurahkan isi hatinya.


Elina tertawa, " Mungkin Gen Gunadya juga mendominasi "


Dave langsung membayangkan saat-saat Daffa kecil dulu, banyak kenangan yang terlintas dimana Daffa terlalu pintar dan menindas daddynya. Kelebihan Daffa telah diberitahukan pada kakek dan neneknya sejak usianya menginjak 3 tahun.


" Bagus! Cucuku memang sangat membanggakan! " Kata Ayah Dave.


Flashback On


Ada kisah yang menyelimuti kecerdasan dalam keluarga Gunadya sejak zaman nenek moyang mereka dulu. Konon katanya sejak Gunadya generasi pertama memang sudah jenius. Keluarga itu secara turun temurun dikenal sebagai Ilmuan atau ahli dibidang kedokteran.


Semua yang berasal dari keturunan Gunadya mewarisi gen kecerdasan luar biasa sehingga banyak keluarga yang dengan senang hati menikahkan putra atau putri mereka dengan anggota keluarga itu. Erick Gunadya sebagai kepala keluarga telah memperkirakan sesuatu yang buruk akan terjadi pada keluarganya sehingga membuat ramuan untuk mengurangi kejeniusan keturunannya.


Ramuan itu hanya akan mengurangi kejeniusan bukan menjadi bodoh, sehingga keturunan Gunadya tetap menjadi orang pintar dizamannya. Sayangnya Evan Gunadya menemukan sebuah "kelemahan kecil"  yang tidak disengaja sang ayah mengenai ramuan tersebut. Keturunan Gunadya yang telah terkontaminasi oleh ramuan penurunan kepintaran itu akan memperoleh keturunan jenius kembali apabila menikah campuran. (Menikah campuran dizaman dahulu adalah hal yang tabu.)


Keluarga Gunadya semuanya bermata biru dan menetapkan aturan akan menikah dengan orang yang memiliki mata yang sama dengannya atau orang yang sederajat dengannya atau kaum kerabatnya. Evan menemukan kelemahan ramuan ayahnya sejak ia menikah seorang bekas budak dari peternakan yang dibelinya dalam pasar budak dimasa itu. Istri Evan berasal dari sebuah negara diasia, ia diculik dan dijual sejak kecil sehingga tidak mengingat asal negaranya.


Betapa terkejutnya Evan saat melihat putra dan putrinya memiliki antibodi terhadap ramuan milik kakeknya. Evan melaporkan hal ini pada sang ayah dan kelemahan itu tidak bisa diperbaiki hingga Erick Gunadya meninggal. Kejeniusan anak-anak Evan menarik perhatian penguasa setempat. Oleh penguasa yang terkenal kejam itu anak-anak Evan akan dijadikan dokter untuk membuat ramuan abadi untuknya.


Hal ini ditolak tegas oleh Evan dan keluarganya. Mereka tetap ingin menjadi bagian masyarakat yang damai dan menolong umat. kejeniusan mereka justru menjadi ancaman untuk penguasa setempat sehingga pada suatu hari dengan sengaja menjebak keluarga itu lalu menjatuhi hukuman mati dengan meminum racun. Semua keturunan Gunadya atau yang berhubungan dengan mereka dibunuh sehingga malam itu pembantaian terjadi dimana-mana.


Sayangnya kepala keluarga Gunadya telah memprediksi hal ini sehingga berhasil menyelamatkan beberapa keturunan mereka dengan melarikan diri dengan kapal. keturunan Gunadya yang selamat berhasil mengarungi lautan dan tiba disebuah negeri asing lalu memulai hidup yag baru.

__ADS_1


Beberapa diantara yang selamat adalah keturunan Evan. Selanjutnya mereka yang memimpin keluarga mereka dengan aturan keras untuk bertahan hidup. Mereka hanya bisa menikah dengan orang memiliki mata berwarna biru atau tidak akan memiliki keturunan jika menikah campuran ( orang yang bermata selain biru). Sehingga semua Gunadya memiliki mata berwarna biru hingga sekarang.


Zaman telah berlalu sehingga aturan keluarga Gunadya semakin longgar, Dave telah diberitahu kisah ini sejak hari  pertama pertunangannya dengan Evalia ( kembaran Elina). Dave memiliki mata berwarna coklat, dalam aturan Gunadya yang telah diberi kelonggaran bahwa Dave hanya bisa memiliki satu anak saja sebagai pewaris darahnya dan tidak akan ada keturunan selanjutnya.


Dave tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut mengingat juga kondisi Evalia yang tidak memiliki rahim, ia tidak akan memiliki anak seumur hidup selama bersama Evalia. Takdir berkata lain, Evalia meninggal akibat penyakitnya, Dave menikahi Elina dan memiliki Kiara. Elina sendiri merupakan keturunan Gunadya yang memiliki antibodi kecerdasan ( terlahir kembar, Evalia tergolong cerdas tetapi Elina Jenius). Sehingga anak-anak Elina juga terlahir jenius.


Flashbak off



Dave menghela napas namun berusaha tidak memikirkan hal yang akan terjadi nantinya. Ia ingin mengajak keluarga kecilnya melihat kota Banjarmasin. Banjarmasin terkenal sebagai kota “seribu sungai”. Julukan itu bukan asal diberikan karena beberapa ruas sungai besar mengaliri sebagian wilayah kota ini, mulai dari aliran Sungai Barito, sampai Sungai Martapura. Otomatis, hal itu jadi daya tarik wisata. Salah satu yang menjadi daya tarik utama yakni adanya Pasar Terapung.


Mengenal lebih dalam soal Banjarmasin rasanya tak afdol jika tak memulainya dari pasar unik yang satu ini. Pasar Terapung sejatinya serupa dengan pasar tradisional, namun yang menjadi tak biasa adalah seluruh pedagangnya berjualan di atas perahu yang mengapung di sungai, alhasil disebut dengan Pasar Terapung. Ada dua pasar terapung yang seringkali ramai dikunjungi, baik oleh warga lokal maupun wisatawan yang penasaran akan rupa pasar ini, yaitu di Lok Baintan dan di muara Sungai Kuin.




" Daddy bisakah kita turun dan melihat hal yang disana?" Tanya Daffa melihat aktifitas pasar terapung dengan excited.


Daffa telah bosan dengan liburan ke pantai atau ke gunung, ia sangat menikmati liburannya kali ini.


" Hati-hati kau bisa jatuh! Perhatikan langkahmu" Tegur Dave.


Karena situasi pasar dan transaksi dilakukan diatas perahu maka pengunjung pun diharuskan menaiki perahu untuk bisa berbelanja berbagai hasil perkebunan dan pertanian yang dijajakan. Aktivitas ini menarik Daffa sekeluarga, sebab bagi mereka yang terbiasa hidup di perkotaan, menjelajah sungai-sungai besar di Banjarmasin sambil melihat Pasar Terapung adalah pengalaman yang cukup unik.


Saking serunya, Daffa bahkan melupakan untuk mengabadikan momentnya dalam kamera. Saking menikmati keadaan dan ramainya pasar, Daffa melupakan kamera ponselnya. Elina hanya tersenyum sambil melirik Dave. Sang suami menjadi fotografer dadakan hari ini.


" Lapar tidak? " Tanya Dave.


Elina mengangguk, Ia memanggil Daffa untuk berpindah perahu. Banjarmasin tentu tak hanya menawarkan kepuasan hasrat wisata semata.


" Aku ingin mencicipi makanan lokal daddy" Pinta Daffa.


" Siap! Katanya ada soto banjar" Kata Dave.

__ADS_1


Sajian Soto Banjar yang menawarkan cita rasa khas rempah, dipadu dengan kuah kaldu ayam yang menggugah untuk segera dicicipi. Selain itu, sajian Lontong Orari juga tak kalah lezat untuk melengkapi wisata kulinernya.



Daffa benar-benar tidak melewatkan apapun. Elina menyuapi Kiara dengan makanannya. Khusus Kiara, Elina telah menyiapkan makanan sehingga tidak repot menyesuaikan dengan makanan yang belum tentu cocok dengan bayi seusianya.


Dave terkejut ketika mencicipi soto banjar milik Elina. " Asemnya " Keluhnya.


Elina tertawa, " Memang asam, kan tadi pakainya 4 potongan jeruk" Tawa Elina.


Daffa juga ikut terkejut meringis merasakan makanan ibunya. " Perut Mom tidak apa-apa kah memakan makanan seasam ini? kecutnya mom!"


" Tidak apa-apa sayang, enak kok!" Elina menyuapkan soto ke mulutnya.


Sedangkan ayah dan anak didepannya merasakan airliur mereka meleleh akibat membayankan makanan Elina yang super kecut.


Setelah menghabiskan soto masing-masing, Dave dan daffa lanjut dengan menikmati buah-buahan yang dibelinya dari pasar terapung tadi.


" Bagaimana liburan kali ini? " Tanya Dave.


" Seru Dad! Kita akan kemana lagi? " Daffa berkata sambil menyuapkan pisang ke mulutnya.


" Kita ke hotel dulu, Check in, kasihan adikmu jika terlalu lama diluar... dia perlu tidur siang " Jawab Elina.


Daffa menatap Kiara dengan tatapan bersalah. Ia terlalu senang sehingga melupakan adiknya masih terlalu kecil.


" I am sorry sist! " Kata Daffa memegangi tangan Kiara.


Bayi itu hanya tertawa saja seolah mengatakan jika dirinya oke-oke saja dibawa kemanapun.


Setelah selesai membayar, mereka menuju mobil mereka. Dave  telah memesan kamar hotel sebelumnya. Mereka menuju hotel itu dengan hati riang.


 


***

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2