Embun Dari Langit

Embun Dari Langit
Nasib Anggun


__ADS_3

***


Elina tiba diapartemen pada sore harinya, penerbangan dari Banjarmasin hanya memakan waktu sejam lebih namun untuk sampai ke apartemen mereka membutuhkan waktu 3 jam lebih.


" Macet " Keluh Daffa.


" Sabar boy, jam segini memang macet sekarang jam pulang kerja " Sahut Edgard sebagai sopir hari ini.


Paman Daffa satu ini khusus meluangkan waktu untuk menjemput adik dan keponakan di Bandara.


Daffa nampaknya telah terbiasa di Banjarmasin, baru sebentar ia sudah merindukan sepedanya dan lingkungannya.


" Besok sidang dijadwalkan jam 09.00 WIB " kata Edgard tanpa diminta.


Elina hanya mengangguk. Ia juga telah memberitahukan rencana Daffa untuk menjenguk ayahnya dipenjara.


Edgard keberatan namun tidak menghalangi. Mereka telah sampai diapartemen, Edgard mendapat panggilan darurat dari rumah sakit hingga langsung kembali ke rumah sakit.


Apartemen tampak bersih dan rapi karena ada ART yang selalu membersihkannya setiap hari. Daffa langsung istirahat dikamarnya. Elina menelpon sang suami. Dave meminta video call.


" Kangen kalian " Kata Dave manja.


Elina tertawa, Mereka melanjutkan lewat video call. Bi Andrea mengurus Kiara dikamarnya. Elina memasak untuk makan malam.


" Ingin menyusul kalian ke sana, tidak enak rasanya sendirian " Kata Dave muram.


" Tidak apa-apa suamiku, hanya 3 hari semoga semua baik-baik saja kami akan kembali " bujuk Elina.


Keduanya mengobrol hingga Elina selesai memasak. Dave menemani keluarga kecilnya makan malam lewat telepon.


" Daddy makan yukk" Ajak Daffa.


Dave tersenyum mengiyakan.


" Cepetan bobo ya, esok bangunnya pagi " Kata Dave.


Daffa mengangguk sambil menghabiskan makan malamnya.


Daffa merindukan suasana rumahnya di Banjarmasin, anak itu tampak kesepian saat melihat pemandangan luar lewat kaca apartemen.


Malam itu ia meminta ibunya agar tidur disampingnya. Kiara telah tidur duluan. Bayi kecil itu memang masih banyak tidur dan bangun saat lapar saja.


" Mom, apa mom tidak apa apa jika Daffa bertemu pria itu?" Tanya Daffa.


Elina menatap anak lelakinya. Bola mata Daffa persis mata Nathan. Nampak mata itu tengah menatapnya serius.


" Tidak apa-apa, tidak ada yang akan berubah" Kata Elina.


Daffa tersenyum sambil memegang tangan ibunya. Elina tersenyum berbaring disamping kedua anaknya. Setelah Daffa tertidur, sang ibu bangun dan memerah ASI nya. Besok Kiara akan tinggal diapartemen bersama pengasuhnya, Elina dan Daffa akan ke pengadilan dan menjenguk Nathan.


Dave menelponnya, keduanya berbincang ringan lewat video call.


" Rindukan aku dalam tidurmu ❤️❤️❤️" Pinta Dave.


Elina tersenyum mengangguk, membentuk pose seperti melempar ciuman pada sang suami dan suaminya menangkap lemparan ciuman itu dan menaruhnya dalam hati.


***


Pukul 09.15 WIB


Sidang telah dimulai. Anggun terlihat semakin kurus, ia banyak mengalami pahitnya hidup dipenjara karena Anggun selalu melawan siapapun yang menindasnya tanpa peduli dengan ketidakmampuan dirinya melawan.


Sidang dimulai ketika hakim berada di ruang sidang. Pembacaan putusan dibacakan oleh hakim setelah menimbang berdasarkan bukti yang ada.


" Terdakwa Anggun Wijaya di vonis hukuman mati"


Tok! Tok! Tok!

__ADS_1


Palu sidang diketuk 3 kali.


Anggun diam tanpa ekspresi. Dirinya tahu jika kesalahan yang dilakukannya sangat berat. Silvia dan Ibu Widya sangat bersyukur dengan hukuman itu. Mereka puas,


Elina hanya bisa menatap kosong, bagaimanapun ia pernah menjadi bagian dari keluarga Bumiwardoyo terlepas dia bahagia ataupun menderita. Berita itu diberitakan oleh media nasional mengingat Anggun telab jahat terlibat dalam pembunuhan banyak anak kecil.


Daffa tidak mengikuti sidang secara langsung, ia menunggu ibunya dimobil. Hari ini mereka berencana akan mengunjungi Nathan dirutan. siapa sangka Ibu Widya juga memiliki niat yang sama.


Mobil keduanya bertemu didepan pintu rutan. Elina dan Daffa menatap ibu Widya lalu masuk ke dalam. Ibu Widya agak segan menegur keduanya, wanita ini malu mengingat sikapnya dulu pada Elina.


Mereka menemui Nathan diruangan kunjungan. Tampak seorang pria dengan wajah agak kurus, kulitnya pucat dan agak berjenggot.


" Ibu "


Nathan terkejut melihat ibunya datang bersama Elina dan Daffa. Dalam hatinya bertanya -tanya namun tidak menemukan Jawaban apapun.


" Daffa ingin melihat ayahnya " Kata Elina Dingin.


Nathan merasa tercekik karena saking harunya. Putranya mau menemuinya namun ia segan memeluk takut ditolak.


Suasana sunyi Beberapa saat. Tidak ada yang membuka pembicaraan.


" Kalian kenapa bisa bersama datang?" Tanya Nathan akhirnya.


" Oh, tadi kebetulan kami dari sidang Anggun, iblis itu dihukum mati juga akhirnya! itu sepadan dengan perbuatannya " Cerita Ibu Widya dengan geram


" Bagaimanapun ini salah kalian juga, jangan menimpakan semua padanya, coba seandainya jika nenek tidak memaksa anak nenek untuk menikah tapi aku bersyukur sich mom tidak menikah dengan ayah kalau tidak mana mungkin aku bisa mendapatkan Daddy sebaik daddyku" Kata Daffa tanpa takut perkataan nya menyinggung orang didepannya.


Nathan dan ibunya saling pandang, ada sedikit rasa malu karena perkataan anak kecil didepan mereka. Andaikan Nathan memperjuangkan Embun saat itu, andaikan ibu Widya tidak keras kepala menginginkan Anggun menjadi menantunya. Toh sekarang sudah terlanjur, tinggal memperbaiki masa depan saja.


" Maukah kau memanggilku ayah?" Tanya Nathan.


Suasana langsung sepi kembali,


" Itu sulit tapi Saya akan mencobanya, terus terang anda asing bagi saya... mungkin nanti " kata Daffa ceplas ceplos.


" Maafkan ibu Embun, ibu terlalu buta oleh keadaan" Kata Ibu Widya.


Elina tersenyum tipis,


" Semua sudah berlalu, saya Elina Gunadya bukan Embun Bumiwardoyo. Kita sudah punya kehidupan masing-masing" Jawab Elina Tegas.


Daffa menyenggol ibunya, ia memberikan kode jam.


" Kami pamit dulu, Adik Daffa sedang menunggu " Kata Elina berdiri.


" Tunggu!" Panggil Nathan.


Elina dan Daffa berbalik.


" Bisakah Daffa menjenguk ku lagi?" Tanya Nathan memelas.


" Terserah padanya, mungkin tidak dalam waktu dekat karena kami sudah pindah ke Banjarmasin " Kata Elina.


Nathan tersenyum paksa, ia harus bersabar menjalani masa hukumannya.


" Dia wanita yang baik, andaikan ibu tahu ibu tidak akan memisahkan kalian " Sesal Ibu Widya.


Nathan Diam saja tidak berkomentar.


***


Anggun dipindahkan menjadi satu rutan dengan ibunya, pertemuan keduanya menjadi hari biru. Ibu dan anak itu saling menangisi nasib mereka. Anggun menyalahkan dirinya tidak pernah melihat anaknya hingga saat terakhir. Kepala Lapas memberikan kebijakan untuk Anggun berkumpul dengan ibunya sebelum eksekusi matinya.


" Ini semua gara-gara mereka!" Anggun gusar.


Dirinya merasa diperlakukan tidak adil oleh semua orang, sayangnya untuk membalas Anggun tidak lagi mempunyai daya. Wanita itu tidak mempunyai apapun sekarang dan telah berada dipenjara dalam beberapa waktu yang lama.

__ADS_1


Secara tiba-tiba ia teringat Judith, ia meminta tolong sipir untuk menghubungi temannya itu.


Ada sedikit perbedaan perlakuan yang diterima Anggun, sebagai Napi yang divonis mati ia mendapatkan beberapa kelonggaran dalam batas tertentu misalnya menghubungi seseorang.


" Dia akan datang besok" Kata Sipir datang memberitahu.


Anggun tersenyum mengangguk.


" Siapa Judith?" Tanya Ibu Ningsih.


" Temanku, dia banyak membantuku termasuk menjaga Nathasa selama aku bekerja" Kata Anggun menceritakan secara singkat tentang Judith.


***


Keesokan harinya.


Anggun tidak sabar menunggu dipenjara, Ia merasa bahagia saat mendengar namanya dipanggil lewat pengeras suara. Teman yang diharapkannya akan datang.


" Anda?" Anggun terkejut melihat ibu Sekar yang sedang menunggunya.


" Kaget? Untuk apa kau mencari menantuku?" Tanya wanita itu Angkuh.


" Untuk apa anda ke sini?" Tanya Anggun.


" Untung Dean yang mengangkat telepon dan segera memberitahuku, aku tidak akan mengizinkan menantuku masih berhubungan denganmu, yah sekalian melihat seberapa betah kau disini " Kata Ibu Sekar mengedarkan pandangannya ke seluruh arah dengan tatapan geli.


Kemudian meninggalkan Anggun begitu saja.


" Bukan aku yang membunuh Sean!!" Jerit Anggun.


Ibu Sekar berbalik, suasana ruang kunjungan langsung senyap. Wanita itu menghela napas sambil tersenyum sinis.


" Aku tahu tapi kalau kau mati saat itu mungkin kau akan mendapatkan sedikit simpati dariku " Ibu Sekar berlalu pergi.


Airmata Anggun langsung runtuh, tidak ada lagi yang bisa diharapkan. Judith sebenarnya ingin datang namun dihalangi mertuanya.


" Jangan bodoh! kau lupa disaat anaknya sekarat bahkan ia tidak memikirkan kau akan kehilangan anakmu dan menculiknya" Marah Ibu Sekar.


Judith terdiam, ia tidak bisa membantah dirinya hampir kehilangan Dean karena Anggun.


***


Malam harinya.


Elina mengabarkan jika ia terpaksa menunda kepulangannya karena Daffa dan Kiara serentak demam.


" Rawat mereka dulu, jangan dipaksakan " Kata Dave.


Elina hanya mengangguk. Dave terus memantau kondisi buah hatinya lewat video call. Elina dan Bi Andrea bergantian berjaga. Dave tidak tidur, ia ikut mengawasi lewat video call. Pria itu meminta istrinya untuk tidak mematikan ponselnya.


Dave sibuk memperhatikan kondisi anaknya lewat panggilan telepon.


Secara samar ia mendengar suara teriakan Sanja dibawah.


KYA!!


BRUK!


Dave segera berdiri.


" Ada apa suamiku?" Tanya Elina ikut memperhatikan suaminya.


' Kucek dulu dibawah, Sanja terus berteriak panik, sebentar ya" Kata Dave.


***


BERSAMBUNG

__ADS_1


maaf ya baru up..🙏🙏


__ADS_2