
***
" Mobil yang membawa Daffa terdeteksi!" Seru salah satu tim pencari.
Dave dan Edgard semakin tegang, malam datang tanpa disadari. Keduanya bahkan tidak lagi sempat untuk makan ataupun minum. Daffa masih juga belum sadarkan diri.
15 menit kemudian.
Lagi-lagi Dave dan Edgard harus menelan rasa kecewa karena mobilnya telah kosong.
Bruk !
Body mobil terlihat penyok kena tinju Dave. Amarahnya kian memuncak. Sejak tadi Anggun telah mempermainkan mereka. Ingin rasanya Dave meminjam pintu kemana saja untuk menemukan lokasi anaknya. Dalam hatinya selalu berharap semoga sang putra dilindungi Tuhan.
Elina terus-terusan menangis, Ibu Sekar dan Judith ikut menguatkannya. Orang tua Elina dan Dave telah berada di Jakarta. Ayah Dave marah besar atas keterlambatan yang terjadi dalam kasus hilangnya Daffa.
" Kerahkan semua orang kita apapun yang terjadi aku ingin cucuku berada disini dalam 24jam!" suruhnya penuh kemurkaan.
Elina terus saja terdiam, air mata yang terus saja menetes menandakan kecemasan yang tidak berkesudahan. Dave dan Edgard belum juga memberikan informasi apapun.
Elina menatap wajah sang putri, air susunya tidak keluar saking cemas dirinya sekarang. Hal yang semakin membuatnya khawatir adalah kenyataan jika GPS yang terpasang dalam tubuh anaknya tidak lagi aktif.
***
Anggun menatap Daffa dan Nathasa yang tengah terbaring, ada rasa iri yang tidak terkatakan dirasakan Anggun menatap Daffa yang begitu sehat dan normal. Dibandingkan anaknya yang harus sakit-sakitan.
" Kau selalu beruntung Embun!" kata Anggun agak kesal.
Anggun diminta untuk pindah ke kursi depan karena operasi akan segera dimulai. Dokter dan timnya terlihat tegang telah siap dengan pakaian dan maskernya.
Anggun mencium kening sang putri.
" Bersabarlah nak jika kau sehat nanti, mom akan mengajakmu keluar negeri seperti impianmu" Bisik Anggun.
Anggun meninggalkan konteiner dan berpindah ke depan. Dokter saling mengangguk memberikan kode untuk memulai operasinya.
Dua jam kemudian.
" Operasi telah selesai, apa yang akan dilakukan pada anak laki-laki itu?" Tanya Dokter lewat telepon pada Anggun yang berada di samping supir.
" Bagus! buang saja ditempat sampah, kita harus segera pergi dari sini" Kata Anggun.
Rencana selanjutnya mereka berganti mobil, Nathasa akan ke klinik rahasia untuk menjalani pemulihan. Anggun tidak melihat Daffa lagi karena terlalu sibuk dengan anaknya.
Ia melempar satu paket besar yang berisi uang pada tim dokter tersebut lalu pergi tanpa menoleh lagi.
__ADS_1
Setelah menunggu 15 Menit, Dokter itu masih juga tidak beranjak dari tempatnya berdiri.
" Terima kasih dokter !" kata seorang pria bermasker yang tengah menodongkan senjata dikepala bagian belakang dokter tersebut.
Syut!
Dokter tersebut terkulai, pria itu lalu membunuh semua tim dokter yang tersisa dan membawa tubuh Daffa yang masih terbungkus kain penuh darah. Setelah membunuh sang supir, pria itu kemudian meledakkan mobil konteiner tersebut.
Masker wajah dibuka
Pria itu
Aron!
***
Flashback on
Aron mengendap menuju sebuah mobil ambulance yang memuat dokter dan tim dokter dengan terburu-buru. Mereka akan melakukan operasi dadakan disebuah mobil konteiner. Aron adalah pembunuh bayaran, tidak sulit untuknya mendapatkan informasi dari dunia hitam mengenai tindakan operasi ilegal yang akan dilakukan.
Saking terburu-buru nya dokter tidak lagi mengetahui jika tim nya kelebihan satu orang. Mereka masuk ke konteiner, Aron dengan profesional masuk berbaur dan tidak menonjol. Begitu Anggun keluar dari mobil, pria itu leluasa menodongkan senjata yang dilengkapi peredam suara untuk mengancam dokter.
Aron menembak salah satu anggota dokter.
Dokter pucat dibalik maskernya. Tubuh Daffa dipindahkan ke kursi dan ditutupi. Operasi dilakukan dengan suasana tegang. Anggun tidak lagi memperhatikan jenazah yang menggantikan Daffa, wanita itu terlalu fokus pada anaknya.
Setelah menyelesaikan tugasnya, Aron membawa Daffa ke rumah sakit terdekat dan menelpon Dave.
Flashback end
***
" Aku telah menemukan Daffa, datang ke rumah sakit XYZ" Kata Aron.
Dave dan Edgard memutar kemudi mobil langsung menuju rumah sakit. Daffa dalam kondisi baik-baik saja hanya belum siuman dari obat bius yang disuntikkan padanya. Tidak ada luka yang menonjol pada tubuh bocah 7 tahun itu kecuali luka sayatan kecil pada bekas Alat pelacak yang terpasang ditubuhnya. Aron menghilang tepat sesaat Dave dan Edgard masuk ke ruangan rumah sakit.
Dave langsung memeriksa sendiri kondisi putranya untuk membuat dirinya yakin. Setelah itu baru mengabari istrinya.
Elina tidak mau lagi percaya begitu saja kali ini menggunakan video call untuk panggilan. Wanita itu bahagia melihat putranya dalam kondisi baik-baik saja.
" Apa yang terjadi pada Anggun?" Tanya Elina.
" Entah tapi tidak butuh waktu lama karena alat pelacak Daffa telah dipindahkan ke tubuh Nathasa" Kata Dave.
" Bagaimana bisa? Daffa baik-baik saja kan?" Elina langsung khawatir lagi.
__ADS_1
" Tenang saja, kami akan membawanya kembali subuh nanti dengan helikopter " Kata Dave.
Elina tersenyum lalu mengakhiri panggilan videonya.
Aron tidak pernah menampakkan dirinya lagi, sebagai pembunuh bayaran dirinya tahu jika bertemu dengan Dave akan membawa masalah untuk Dave dan keluarga.
***
Dilain tempat.
Anggun merawat putrinya dengan penuh kasih, harapannya besar untuk kesembuhan Nathasa. Anak perempuan itu masih "ditidurkan" mengingat operasi yang telah dilakukan padanya.
" Hasil tes akan keluar dua jam lagi sebaiknya anda beristirahat nyonya" Kata sang perawat.
Anggun tidak ingin meninggalkan putrinya barang sejenak. Ia hanya memiliki anaknya untuk terus bertahan. Tubuh kurus pucat Nathasa yang sudah tidak bangun lagi selama 3minggu ini, Anggun sangat merindukan celotehan putri kecilnya.
" Mama janji kita akan kemanapun yang kau mau" Kata Anggun.
Anak buah boss besar semuanya telah pergi. Anggun tidak mengetahui jika boss besar telah mati terbunuh.
Anggun tertidur disisi Nathasa hingga dibangun kan oleh perawat. Hasil tes Nathasa menunjukkan adanya komplikasi pada organ yang baru dipasang pada tubuh anak kecil itu.
" Bagaimana mungkin pendonornya sedarah dengan anakku" Bantah Anggun pada dokter.
" Tapi tubuh pasien menolak hasil transparasi tersebut, organ hati ini malah menjadi parasit dalam tubuh anak anda" Jawab Dokter.
Anggun syok, ia tidak ingin kehilangan anaknya. Semuanya telah ia lakukan. Amarah muncul dari dalam dirinya.
" Lakukan sesuatu dokter!"
Dokter menghembuskan napas, ia tidak boleh memberikan harapan kosong pada keluarga pasien. Natasha diambang Kematian. Tinggal menunggu waktu.
" Kalau organ baru? aku akan mencarinya! Tunggu sebentar dokter!" Anggun pergi dengan kalutnya.
Sepanjang jalan dirumah sakit, ia bicara seperti orang stress berat. Ia naik taxi yang berhenti didepannya.
Ada sebuah tempat yang dipikirkannya, tempat yang dipikirkannya bisa menolong anaknya. Rumah Silvia dan Stephan!
" Kemarin Edward bisa menolong! pasti salah satu adiknya bisa!" Kata Anggun.
Taxi menuju kediaman keluarga Stephan. Anggun membulatkan tekadnya.
***
BERSAMBUNG
__ADS_1