
***
Sepanjang perjalanan pikiran sang Gubernur terus saja tertuju pada perkataan bocah lelaki 6 tahun. Tidak ada yang menyangka akan secepat ini Nathan memperoleh jawabannya.
" Aturkan jadwalku bertemu dengan Nyonya Embun dan anaknya. Pakai alasan apapun! " Kata Nathan pada asistennya.
Sang asisten mengangguk, Nathan melupakan putrinya yang sedang merajuk kembali ke rumah. Ia mengadukan pada ibu dan neneknya jika ia dibentak ayahnya didepan umum gara-gara anak lelaki yang mengatainya kampungan.
" Aku ingin naik pesawat! " Seru Nathasa.
" Sayang, dokter tidak mengizinkanmu! itu membahayakan kesehatanmu" Tolak Anggun.
Nathasa tidak peduli merajuk hingga malam hari. Ia merasa terhina karena tidak bisa naik pesawat.
" Siapa anak yang mengejek cucuku? " Tanya Ibu Ningsih sang nenek.
Ia segera mencari informasi dan mendapatkan data mengenai Daffa.
" Siapapun yang membuat cucuku menangis harus menanggung akibatnya tidak peduli itu anak kecil sekalipun " Kata Ibu Ningsih dengan marah sambil menatap foto Daffa.
Nenek itu merencanakan akan melabrak Daffa setelah pulang sekolah, sayangnya Daffa tidak muncul hari itu. Intelegen mendeteksi adanya aktifitas mencurigakan sehingga mengirim sinyal pada Dave untuk melarang Daffa ke sekolah.
Soal keamanan anaknya, Dave tidak pernah main-main. Ketika mendapatkan peringatan seperti itu dari BIN maka ia segera melarang putranya kemana-mana tanpa harus memberitahunya. Ia mengajak Elina dan Daffa pergi berjalan-jalan ke dunia fantasi.
" Ini Hari sekolah Daddy! " Protes Daffa.
" Yah, minggu depan Daddy akan sangat sibuk mumpung lowong bisa tidak kita jalan-jalan hari ini? Please? " Pinta Dave.
Daffa menghela napas menatap pintu masuk dunia fantasi sambil menelan ludah.
" Daddy ini untuk anak-anak " Kata Daffa.
" Kau juga masih anak-anak mylittle boy " Jawab Elina sambil tersenyum.
Daffa tersenyum kecut, ini salah satu kemiripan Nathan yang ada padanya. Keduanya sama-sama takut pada ketinggian. Daffa diajak ke semua wahana oleh Dave. Sementara Elina hanya ikut dibeberapa wahana saja karena sedang mengandung.
Ibu Sekar juga ada ditempat itu, ia mendengar jika Daffa hari itu ke taman hiburan dari asistennya.
" Nenek! "
Daffa langsung melompat ke arah neneknya.
" Nenek dengar kau disini langsung menyusul, sebenarnya mau ke sekolah menjemputmu tetapi kau izin" Kata Ibu Sekar gembira memeluk bocah lelaki itu.
" Aku diliburkan sama Daddy " Jawab Daffa cuek.
Dave tertawa kikuk, Mereka mencari tempat untuk makan dan mengobrol. Ibu Sekar berencana menjemput Daffa untuk tinggal dengannya paling tidak seminggu.dengannya. Daffa langsung berseru gembira.
Dave dan Elina mengizinkan, keduanya mempercayai pengawasan Daffa pada Ibu Sekar. Wanita paruh baya itu mengetahui jika Daffa dijaga penuh dari jangkauan orang luar, ia berencana mengajak Daffa menghabiskan waktu bersamanya.
Almarhum Sean akan berulangtahun dua hari lagi, Ibu Sekar ingin Daffa menemaninya karena pada saat-saat seperti itu adalah saat kesepian untuknya. Kehadiran Daffa membuatnya terhibur.
***
Setelah seminggu liburan dadakan, Daffa masuk seperti biasa ke sekolah. Teman-teman dalam kelas Daffa rata-rata anak cerdas semuanya serius belajar, tidak seperti Daffa yang ogah-ogahan belajar. Pelajaran yang diberikan sebenarnya juga berbeda dengan kelas reguler yang kebanyakan baru belajar membaca dan menghitung. Murid kelas khusus semuanya fasih minimal dua bahasa ( Inggris dan mandarin) .
__ADS_1
Guru yang mengajar kelas itu juga kualifikasi setara dengan pengajar universitas / dosen.
Natasha tidak memenuhi kualifikasi untuk masuk ke kelas khusus, berada dikelas reguler pun ia kesulitan menyesuaikan diri karena ia tergolong anak dengan kecerdasan standar.
Sekolah elit itu tidak hanya berisi anak orang cerdas saja, karena sekolah swasta memerlukan biaya besar maka direktur membuka peluang untuk anak dengan kecerdasan standar (penulis tidak ingin menulisnya bodoh, karena tidak ada yang bodoh didunia ini) yang berada dari keluarga kaya termasuk anak pejabat untuk masuk ke sekolah itu dengan tujuan mendapatkan donasi. Anak - anak kelas khusus adalah anak terpilih tanpa melihat dari latar belakang keluarga.
Sekolah itu terkenal dengan prestasi dari tahun ke tahun, siapapun alumni sekolah itu ( terdiri SD, SLTP dan SMU) sudah dipastikan akan mudah mendapatkan kampus dan beasiswa pendidikan.
Embun hanya sekolah hingga kelas 6 SD tetapi tidak lulus, prestasi Embun kala itu hingga tingkat internasional dalam Matematika. Piagam penghargaan itu masih terpajang diaula prestasi karena belum ada yang bisa memecahkan rekor itu.
***
Daffa berjalan menyusuri kantin, ia belum mendapatkan teman satupun disekolah ini. Saat istirahat semua siswa menuju kantin untuk makan bersama.
Daffa memilih makanan dengan santainya.
Ups...
Sebuah guyuran dingin tumpah dibelakangnya. Nampak anak lelaki disamping Nathasa menumpahkan minumannya ke punggung Daffa.
Anak lelaki itu tertawa, Daffa menatap datar menunggu apa yang akan terjadi. Tidak untuk diam tetapi menilai apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Bukan sifatnya diam jika dibully orang.
" Kasihan basah" Ejek Nathasa.
Anak lelaki berbadan besar itu rupanya membantu Nathasa untuk mengerjai Daffa. Ketika akan melancarkan tindakan yang kedua kalinya, Daffa bertindak cepat.
Ia menggunakan ujung sendok untuk mengetuk perlahan area bahu anak lelaki itu dan seketika anak itu langsung menangis kesakitan.
Nathasa terkejut melihat temannya kesakitan.
" Apa yang kau lakukan? tolong panggilkan guru!" Seru Gadis kecil itu panik.
" Kau akan seperti itu hingga kau minta maaf padaku dan mengguyur dirimu dengan seember air es" Kata Daffa berlalu pergi.
Anak itu dibawa ke ruang kesehatan dan terus mengasuh kesakitan. Tidak ingin terjadi sesuatu yang berbahaya, sekolah melarikan siswa itu ke rumah sakit. Hingga di UGD anak itu terus saja mengaduh kesemutan dari bahu hingga ujung jarinya.
Tidak ada yang dapat menjelaskan penyebabnya, Dokter syarat berdiskusi mengenai adanya penyempitan syaraf diarea bahu yang membuat kram dan kesemutan yang berkepanjangan.
Kedua orangtua anak itu kebingungan anaknya sehari semalam terus saja gelisah dan mengaduh. Mereka menghubungi pihak sekolah dan mendapati anak mereka ternyata berselisih dengan Daffa.
Seluruh sekolah terkejut, banyak saksi yang menyatakan jika Daffa hanya membalas serangan dengan ketukan sendok dibagian bahu.
" Hanya diketuk dan Rian langsung jatuh " begitu teman-teman lain bercerita.
Alangkah terkejutnya mereka saat tahu siapa kedua orang Daffa, kedua orangtua Rian datang meminta maaf dan memohon anaknya untuk disembuhkan.
" Mudah saja, suruh dia datang langsung meminta maaf padaku" Jawab Daffa.
Ayah Rian marah namun tidak punya pilihan. Rian yang tengah kesakitan dibawa didepan Daffa. Oleh Daffa diguyur dengan seember air es.
" Selesai!" Ujarnya.
" Apa yang kau lakukan, Anakku sedang kesakitan!!!" Marah Ayah Rian tidak tahan lagi.
Daffa cuek lalu menunjuk Rian yang telah berhenti kesakitan.
__ADS_1
" Kau salah memilih teman dan sepertinya kau salah pula memilih lawan" kata Daffa menepuk bahu Rian.
Ajaib Rian sembuh total dari rasa sakitnya. Ayah Rian terpana, tadi masih melihat putranya kesakitan sekarang sembuh seperti tidak pernah terjadi apapun.
***
Siang hari.
Daffa sedang makan di kantin, ia didatangi oleh cleaning servis yang mengatakan jika kepala sekolah mencarinya dan menunggunya diaula prestasi.
Daffa bergegas ke tempat yang diminta CS tadi, disana kepala sekolah sedang bicara dengan Nathan.
" Bapak mencari saya?" Tanya Daffa sopan.
Kepala sekolah menganggukkan kepala. Sebenarnya ini adalah permintaan Nathan agar tidak ditolak Daffa ia meminta kepsek untuk memanggilnya.
Kepala sekolah pamit meninggalkan keduanya.
" Kenapa anda menyuruh kepsek memanggil saya?" tanya Daffa.
Nathan mendekat hendak memeluk namun bocah itu menghindar.
" Apakah ibumu yang memberitahumu mengenaiku? aku hanya bisa minta maaf nak, ini semua salahku! apapun hukumannya aku menerima" kata Nathan sedih seperti hendak menangis, tidak ada lagi wibawa gubernur yang tersisa.
" Apakah ini sedang siaran TV ikan terbang? " Tanya Daffa.
Ia pernah melihat Asisten rumah tangganya sedang menangis tersedu-sedu gara-gara menonton siaran ikan terbang dimana sering sekali ada lagu kumenangisssss membayangkan. ( bisa ditebak kan? 😁😁😁)
" Izinkan aku meminta maaf padamu dan ibumu, putraku!" Pinta Nathan memelas
" No! No! No! aku tidak akan membiarkan kau menemui mommy dan aku seorang Mathews, kau hanya punya seorang putri, tidak ada yang akan pernah berubah" Tolak Daffa dengan tegas.
" Aku merasa sangat berdosa pada kalian, hati ini tidak akan tenang sampai kalian memaafkan aku"
" What? are you okay? " Daffa lalu tertawa 😏😏 lalu pergi begitu saja.
Nathan putus asa, semua jalan menuju Embun tertutup, berharap mengambil hati Daffa walau sedikit saja ternyata tidak semudah yang dibayangkan.
***
Bel berbunyi, tanda pulang sekolah. Beberapa anak kembali ke asrama ( bagi yang memilih asrama, kebanyakan anak kelas khusus) dan lainnya bersiap pulang ke rumah.
Sebuah mobil terlihat mengawasi anak bersepeda yang keluar dari pintu gerbang sekolah.
" Anak itu?" tanya sang supir.
" Ya! Ayo lakukan sesuai rencana!" kata pria disebelahnya.
Tidak peduli ramainya jalan, mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi. Tidak peduli Abang tukang bakso lewat bersama dagangannya ataupun mas penjual kembang gula, semua diseruduk mobil itu. Tujuan mobil itu hanya satu. MENABRAK ANAK YANG SEDANG NAIK SEPEDA!
Daffa tidak memperhatikan kejadian disekitarnya, ia sedang menelpon seseorang dan memarkir sepeda di trotoar. Mobil datang melaju tidak sempat dihindari.
BRUK!
Ia dan sepedanya terlontar beberapa meter ke depan terjatuh disebuah kios kecil.
__ADS_1
***
BERSAMBUNG