
***
Elina dan Dave sampai dirumah mereka tengah malam dengan tergesa-gesa memarkirkan mobil mereka. Wajah mereka tergambar jelas kegelisahan dan kepanikan akibat kehilangan putri mereka.
Flashback On
" APA DICULIK?? " Dave sangat terkejut.
Elina mendengar perkataan sang suami menjadi gelisah. Apalagi Dave muncul ke dalam untuk mengajak istrinya pulang. Prof Andi mengamati kepanikan keduanya, ia belum pernah menikah namun ia paham kecemasan yang sedang melanda pasangan didepannya.
" Kalian pergilah! " Kata Prof Andi.
" Ya Prof" Jawab Elina.
Keduanya langsung berdiri seolah ingin terbang saja menuju mobil mereka.
" Elina! " Panggil Prof Andi.
Elina menengok, Prof Andi menatapnya dengan sangat serius.
" Apa putrimu sepertiku? ( Elina terlihat mengangguk membenarkan) Kabari aku jika telah menemukannya " Kata Prof Andi.
Elina hanya mengangguk saja, airmata telah berada dipelupuk mata. Terbanyang putri kecilnya kini entah dimana.
Flashback Off.
Kepala pengawas telah siaga bersama Bi Andrea saat pasutri ini tiba dirumah mereka.
"Bagaimana? " Tanya Dave tanpa basa basi.
" Tatia" Jawab kepala pengawal
" Sial! Apa maunya gadis gila ini? " Dave meninju meja saking emosinya.
Daffa terdiam, anak itu menjadi orang pertama yang menyadari jika adiknya telah menghilang dari tempat tidurnya. Bi Andrea meninggalkan Kiara menuju dapur untuk menyiapkan makanan Kiara saat bangun nanti.
Bi Andrea juga tidak kalah syok, seumur hidupnya mengabdikan diri pada keluarga Mathews ini adalah kali pertama dirinya merasa lalai dalam mengasuh anak. Elina tidak bisa bicara apapun lagi, putri kecilnya hilang beberapa jam, entah bagaimana Tatia memperlakukan putrinya.
Kepala pengawal telah mengerahkan orangnya untuk bergerak, tidak tanggung-tanggung 500 personil menyebar dan ditambah 1500 orang profesional akan tiba subuh nanti. Mereka sedang berlomba dengan waktu untuk menemukan putri bungsu Dave.
Kakek dan nenek Mathews murka mendengar berita itu,
" Bagaimana cucuku bisa hilang? Mengapa bisa wanita itu masuk menculik dan tidak ketahuan oleh siapapun dirumah?? " Teriak sang kakek saking marahnya.
Lain halnya dengan Kakek Nenek Gunadya walaupun khawatir keduanya memilih tidak mengeluarkan statement apapun. Daffa banyak berdiam diri, adiknya itu tidak seperti dirinya yang memiliki GPS yang tertanam dilengannya. Kiara masih terlalu kecil untuk menjalani prosedur seperti itu.
Paman Tatia terkejut bukan main saat mengetahui jika Tatia nekat melakukan hal tersebut.
" Astaga Tatia! Mengapa kau bisa senekat ini nak! " Keluhnya.
Bibi Tatia sangat marah, " Kita akan membawanya kerumah sakit jiwa! Tatia sudah gila! Bikin malu saja! "
__ADS_1
***
Disebuah tempat supermarket tampak seorang wanita kebingungan memilih produk susu. Dirinya tengah menggendong bayi yang tengah gelisah sehabis menangis.
" Ada yang bisa dibantu Bu? " Tanya pelayan supermarket.
Pelayan itu memperhatikan kebingungan wanita muda didepannya.
" Tolong pilihkan susu untuk bayi ini! " Jawab Wanita itu gusar
" Usianya berapa bulan? " Tanya pelayan itu ramah.
" Pilihkan saja! jangan banyak tanya" Bentak wanita itu.
Pelayan supermarket itu menatap heran melihat seorang ibu yang bahkan tidak tahu memilih susu untuk anaknya. Kalau diperhatikan bayi itu tidak ada kemiripan sama sekali dengan sang ibu. Bayi itu seperti bayi "Bule" yang dilihatnya dalam iklan sedangkan ibunya nampak "lokal" saja.
" Mungkin papanya bule kali, ah untuk apa kupikirkan" Bisik hati sang pelayan.
Ia memberikan susu untuk usia 6 bulan ke atas pada ibu itu berdasarkan pertimbangannya sendiri yang mempunyai anak dirumah. Wanita itu menerima susu itu dan pergi tanpa berterima kasih. Pelayan itu menggelengkan kepalanya.
Bayi kecil itu menatapnya dan sempat memegang tangannya. Bayi itu mendesiskan sesuatu pada pelayan itu disaat ibunya tengah lengah.
" Help..." Desis Bayi itu jelas
Pelayan itu tidak mengerti malah mengelus pipi sang bayi.
" Heh jangan pegang-pegang! " Bentak wanita itu.
***
" Merepotkan saja! Andai saja kau anak orang lain akan kubuang saja dipinggir jalan! " Marah Tatia.
Kiara menyedot susu yang diberikan padanya, bayi itu sudah tidak dapat menahan rasa laparnya. Seharian dirinya hanya minum susu tanpa diberi makan apapun oleh Tatia. Gadis itu sama sekali tidak tahu cara merawat anak.
Bayi itu menahan dirinya mencari seseorang yang kira-kira akan menolongnya. Pelayan supermarket tidak paham apa yang dikatakannya. Kecerdasannya tidak seimbang dengan tubuhnya, ia baru bisa tengkurap dan sedikit merangkak diusianya yang masuk ke 7 bulan.
(Kalau dalam film ada kisah baby bisa merangkak menyelamatkan dirinya dari penculik tidak seindah realita bisa menimpa Kiara, semua hanya ada dalam naskah film saja tidak berlaku dalam dunia nyata)
Tatia tidak membawa ponsel, ia harus memikirkan cara agar bisa membeli ponsel sekarang agar bisa menghubungi Dave. Seharian ia terus direpotkan oleh Kiara. Akhirnya ia membeli biskuit untuk anak itu sebagai cemilan.
Akhirnya Tatia berhasil meminjam ponsel seorang pengendara Ojol dengan alasan habis kecurian ponsel dan dirinya harus menghubungi suaminya.
Tatia menekan angka yang telah dihapalnya diluar kepala, tidak lama terdengar suara Dave.
" Halo, pak Dokter" Sapa Tatia.
" Tatia? Dimana anakku? " Teriak Dave.
Ada rasa senang ketika Dave langsung mengenalinya, Tatia merasa bahagia.
" Kiara baik-baik saja, Tatia kangen dokter. Tatia akan menjadi ibu untuk anak pak dokter " Kata Tatia genit.
__ADS_1
Dave mengeluarkan sumpah serapahnya saking emosi, Tatia mematikan ponsel dan mengembalikan lagi pada abang Ojol tersebut.
" Suaminya akan menjemput neng? "Tanya Bang Ojol penasaran.
Tatia hanya tersenyum lalu menghilang begitu saja. Bang Ojol hanya bisa geleng-geleng kepala saja. Pria itu melanjutkan perjalanannya kembali setelah mendapatkan order. Secara tiba-tiba dirinya disergap oleh beberapa orang berjas hitam.
(Bukan main pucat bang Ojol)
" Dimana wanita itu? " Tanya salah seorang penyergap.
" Wanita yang mana pak? Ampun pak! saya tidak tahu apa-apa, saya hanya mencari rejeki untuk anak dan istri dirumah" Kata Bang Ojol ketakutan.
Hampir setengah jam bang Ojol ditanyai hingga diantarkan ke tempat Tatia menelpon Dave tadi.
" Menyebar! Pasti belum jauh dari sini! " Kata mereka.
Bang Ojol ditinggalkan begitu saja dengan lemas dipinggir jalan. Ia memutuskan untuk pulang ke rumahnya dan tidak menerima order malam ini. Pengalaman disergap tadi membuatnya ketakutan. Bayangkan saja disergap sekelompok bersenjata mengenakan jas hitam seperti difilm yang ditontonnya cukup membuat pria itu syok.
" Untung masih selamat! " Kata Abang Ojol.
Penyisiran wilayah terus dilakukan, tidak ada jejak. Dave sangat kesal saat mengetahui Tatia sangat licin ditangkap. Elina terus saja berdoa untuk sang putri. Bi Andrea juga tidak kalah gelisah. Malam itu tidak ada yang bisa tidur. Pasukan tambahan datang dikerahkan untuk mencari.
***
Pagi itu ponsel Elina terus saja berdering. Wanita itu tidak mempedulikannya. Daffa mengangkat ponsel momnya.
" Prof Andi Mom! " Kata Daffa meloudspeaker ponsel momnya.
" Halo Elina kau masih disitu? Aku tahu cara menemukan anakmu! " Suara Prof Andi membuat Elina dan semua yang mendengarkannya terlonjak.
" I-Iya Prof? Bagaimana caranya? " Tanya Elina
Dave langsung mendekati istrinya.
" Kau bisa ke sini? " Tanya Prof Andi.
Elina dan Dave saling menatap, tidak mengerti maksud profesor nyentrik itu. Disaat seperti ini mungkin cuma itu harapan menemukan putri mereka dengan cepat.
" Siapkan Heli! Aku ingin kita segera sampai disana" Kata Dave.
Kepala pengawal mengangguk segera berdiri menelpon memberikan instruksi.
***
BERSAMBUNG
__ADS_1