
***
" Perutku sakit sekali, dimana mereka sich? apa mereka juga meninggalkanku disini?" Tanya Tatia Kesal.
Gadis itu semakin kesakitan, darah yang keluar lumayan banyak ditambah dengan kondisi air semakin meninggi. Dirinya terlalu sakit untuk memaksa berjalan. Pegangannya semakin melemah.
" Kak Tatia! kak Tatia! "
Terdengar suara Budi dari kejauhan memanggilnya. Budi datang bersama pak Rumbun. Keduanya naik perahu karet dari kamar Daffa. Perahu karet ini berwarna putih sesuai dengan karakter kesukaan Daffa.
(Bayangkan saja karakter ini dalam mode perahu karet ya ๐๐๐๐ ga Nemu digoogle soalnya)
Dalam perahu tersebut sudah dilengkapi motor penggerak dan beberapa peralatan perlindungan diri. Tatia lega melihat bantuan yang datang disaat dirinya nyaris tidak mampu untuk bertahan lagi.
Arus air semakin deras, Debit air kian meninggi. Pak Rumbun agak kesulitan mengendalikan perahu baymax karena air juga membawa material sampah yang bisa saja merobek perahu. Darah mengucur membasahi perahu yang berwarna putih mengkilat itu.
Flashback On
Bi Andrea menatap Budi dan ibunya sambil berpikir apakah Tatia pantas untuk ditolong atau tidak.
Dalam hatinya kesal mengingat Tatia sudah sangat mengganggu keluarga Dave namun rasa kemanusiaan membuatnya wajib menolong manusia sebisanya.
" Baik, ajak pak Rumbun untuk menjemput Gadis itu!" Kata Bi Andrea.
" Tapi air semakin tinggi, tidak mungkin untuk ke sana kecuali kalau ada perahu, ngantar nyawa ini namanya" Bantah pak Rumbun.
Bi Andrea berjalan masuk menuju kamar Daffa yang masih aman dengan banjir, rumah itu sudah sepenuhnya tergenang dilantai bawah namun belum sampai masih jauh menuju lantai dua. Pompa otomatis aktif membuang air ke luar sehingga walaupun ada yang masuk akan segera keluar.
Rumah itu dirancang khusus untuk tahan dalam segala situasi bahkan halaman belakang rumah itu hanya tergenang semata kaki saja padahal jika normalnya rumah itu sudah tenggelam dengan banjir sejak tadi seperti rumah penduduk disekitarnya.
Pilihan Budi untuk mengajak ibu dan adik-adiknya mengungsi ke rumah Daffa merupakan pilihan yang tepat (Jarak rumah Budi dan Daffa hanya 500meter saja). Tadinya Budi hanya teringat rumah sahabatnya itu satu-satunya yang memiliki lantai 2 untuk mengungsi siapa sangka rumah sahabatnya seperti terkena sihir seolah dilewati oleh air.
Bi Andrea memberikan sebuah Boneka karet yang diingat Budi adalah tokoh favorit Daffa.
" Pakai ini" Katanya.
" Ini? untuk apa boneka ini?" Tanya pak Rumbun dengan wajah bingung ๐คจ๐คจ๐คจ
Bi Andrea menekan sesuatu yang ada pada Boneka itu dan melepasnya tak jauh dari teras itu.
๐ฒ๐ฒ๐ฒ๐ฒ๐ฑ
semua bengong dua detik.
__ADS_1
Sebuah perahu karet karakter baymax telah siap didepan mereka.
" Pakai ini jemput gadis itu, tunjukkan jalannya " Instruksi Bi Andrea pada pak Rumbun dan Budi.
Flashback end.
Kondisi Tatia semakin memburuk, pendarahan tidak juga berhenti. Bi Andrea mau tidak mau juga khawatir.
Wajah gadis itu pucat akibat kehilangan banyak darah. Bunyi helikopter terdengar. lagi-lagi semuanya bingung mengapa bisa ada heli disituasi seperti ini. seperti cerita di film-film.
Bi Andrea menengok ke atas, ia tidak tampak heran dengan turunnya salah seorang pengawal.
" Bagaimana Dave dan lainnya?" Tanya Bi Andrea.
" Sudah berada di tempat yang aman" Jawab Pengawal tanpa basa basi.
" Bawa wanita itu dulu, disini sepertinya masih bisa diatasi " Kata Bi Andrea.
Pengawal itu mengangguk dan melakukan evakuasi secepatnya. Kondisi Tatia semakin kritis. Heli masih diatas rumah, Setelah Tatia berada diatas, heli itu segera pergi.
" Ada apa dengan kalian?" Tanya Bi Andrea keheranan melihat orang didepannya pada terpaku di tempatnya.
" Itu? Helikopter dari mana? apakah itu tim SAR?" Tanya Budi.
" oh itu heli milik keluarga Mathews bukan tim SAR, sebentar lagi mereka akan kembali untuk mengevakuasi kita " Kata Bi Andrea
" Tidak usah sekaget itu, nak! hal itu hanya sebagian kecil saja... oh itu dia mereka datang" Kata Bi Andrea.
Beberapa pengawal turun untuk membantu Bi Andrea dan yang lain naik ke atas. Bi Andrea yang paling akhir naik karena sibuk mengemasi barang yang perlu dibawanya dan menekan beberapa tombol darurat yang digunakan untuk melindungi rumah dari bahaya seperti kebakaran atau kemasukan pencuri.
Mereka berkumpul dengan Dave disebuah tempat asing yang baru diketahui sebagai rumah darurat yang diperlukan untuk situasi tertentu. Tentu hal ini menjadi pengalaman baru untuk Budi, ibunya, Sanja dan lainnya.
" Kalian baik-baik saja?" Kata Bi Andrea langsung memeluk Dave sambil mengusap pipi Dave yang terperban.
Bi Andrea langsung menimang Kiara dan memeluk Daffa.
" Senang melihat bibi baik-baik saja " Kata Dave.
" Elina mana?" Tanya Bi Andrea
wanita itu tidak melihat Elina sejak kedatangannya tadi.
" aku disini Bibi " Kata Elina sambil membawa banyak gelas dalam nampan. Ia membuat teh hangat untuk tamu yang datang.
Mereka lega berhasil terhindar dari bencana alam yang barusan menimpa mereka. Pak Rumbun langsung menyalakan TV untuk melihat berita. Dampak bencana cukup luas, korban belum bisa terhitung, dimana-mana air masing menggenang bahkan bencana ini membuat beberapa jembatan putus.
__ADS_1
" lihat itu hotel tempat kita menginap" Kata Daffa.
Hotel itu miring dan masih banyak orang yang terjebak didalamnya. Dave bersyukur keluar dari hotel tersebut tepat waktu. Budi dan Daffa saling berpelukan gembira.
Budi sangat antusias bercerita mengenai pengalaman pertamanya naik helikopter dan ingin naik lagi suatu saat nanti.
" Baiklah kita akan naik heli kalau situasi sudah aman... " kata Daffa
" Oh ya Tatia juga sudah mendapatkan penanganan dirumah sakit" Kata Bi Andrea.
Dave langsung teringat dengan gadis muda itu, nyaris saja dirinya lupa jika Budi dan keluarganya menampung Tatia. Ibu Budi secara singkat bercerita bagaimana Tatia bisa ada dirumahnya pada orang-orang didepannya.
***
Tatia ternyata dibawa ke rumah sakit pamannya. Disana ia langsung ditangani oleh dokter jaga. Arga dan orangtuanya juga sudah berada dirumah sakit karena dihubungi oleh pengawal Dave.
" Bagaimana kondisinya?" Tanya Arga pada dokter.
" Prosedur operasi Caesar harus dilakukan, bayinya tidak bisa Bertahan lebih lama lagi " Kata Dokter.
" Tapi...tapi Tatia baru hamil 7 bulan " Arga takut membayangkan sesuatu yang tidak diinginkan terjadi pada keduanya.
Paman Tatia juga sudah datang, ia memeriksa hasil lab Tatia dan langsung menandatangani surat pernyataan setuju.
Operasi berjalan dengan sangat cepat, bayi Tatia langsung masuk inkubator. Walaupun tampak kecil dan mungil tangis bayi itu sama kencangnya dengan bayi pada umumnya.
" Lihat, betapa miripnya dengan Arga " Desis mama Arga pada suaminya. " masihkah wanita itu mengaku jika bayi kecil ini sebagai anak orang lain? " Lanjut mama Arga dengan wajah geram.
Arga memutuskan untuk melihat kondisi Tatia terlebih dahulu sebelum menemui anaknya.
" Bagaimana kondisimu?" Tanya Arga lembut.
Tatia membuang muka, rasa sakit diperutnya semakin terasa seiring hilangnya obat bius.
" Cepatlah pulih lalu kita bisa memikirkan masa depan anak kita bersama " Ujar Arga.
" Pergilah!" Kata Tatia dengan nada kesal.
Arga memaklumi emosi Tatia masih tidak stabil hingga pria itu pamit keluar.
" Dokter, kenapa kau belum juga datang melihatku? aku disini sangat membutuhkan dokter " Kata Tatia mengeluh sendirian.
Gadis itu meratap ketidakpedulian Dave pada kondisinya.
***
__ADS_1
Bersambung