Embun Dari Langit

Embun Dari Langit
Kedekatan Batin


__ADS_3

***


Nathasa segera mendapatkan perawatan setelah Silvia menandatangani sebagai wali dari Nathasa, Semalaman ia bersama Ibu Ningsih menunggui Nathasa. Stephan tidak keberatan, entah mengapa keduanya merasa adanya keterikatan batin dengan anak Nathan.


Dokter memeriksa kondisi lebih lanjut dan mengambil sampel darah sebagai uji laboratorium.


" Anggun masih tidak bisa dihubungi? " Tanya Silvia.


Ibu Ningsih menggeleng lemah, Anggun tidak juga mengangkat teleponnya. Silvia mencoba menelpon tetapi ponsel Anggun sudah tidak aktif.


" Kirimkan saja pesan, siapa tahu nanti saat melihat ponsel Anggun akan segera menghubungi"


Silvia mengangguk dan mengirim pesan. Ia keluar membeli makanan dan memastikan ibu Ningsih tidak kekurangan suatu apapun selama menjaga cucunya malam nanti. Kondisi Shasa masih dalam pantauan, panasnya tidak kunjung turun.


***


Di Club malam.


Anggun baru saja selesai mengantarkan minuman ke ruangan VIP, disana ia sangat terkejut melihat orang yang dianggap sahabatnya tengah berpesta dengan lelaki yang nampaknya adalah pacarnya.


" Anggun? Hei kenapa kau disini? dan apa ini? Pakaian pelayan? " Sapa Chelsea setengah mabuk sambil tertawa.


Anggun menatap dingin, Chelsea lain lagi ia malah menggandeng wanita itu ke depan teman-temannya.


" Perkenalkan ini Nyonya Anggun Bumiwardoyo! Sekarang telah menjadi pelayan club ini hahahaha " Kata sambil tertawa.


Suara tawa bergema diiringi dengan suara musik yang saja terdengar samar padahal ruangan ini kedap suara. Anggun merasa dipermalukan namun tidak berdaya melawannya. Kenyataannya dia memang bangkrut dna semua teman-temannya menjauhinya.


Judith datang menyelamatkannya dari ruangan itu meninggalkan sekumpulan orang mabuk itu. Anggun menahan airmatanya, pantang baginya menangis didepan orang banyak. Ini adalah salah satu kelebihan Anggun setelah ia dewasa, ia mampu mengendalikan airmatanya dalam diam.


" Kau tidak apa-apa kan? Sialan si Chelsea padahal dulunya seperti Anj*ng menjilatmu tanpa malu! " Kata Judith.


" Tidak apa-apa! kenyataannya memang benar, sekarang aku jatuh dan tidak ada lagi yang memandangku! kecuali kau! padahal aku jahat padamu tetapi kau masih baik menolongku" Kata Anggun.


" Hei jangan mengungkit hal itu lagi, aku juga sempat sangat membencimu! tapi yah sudahlah semua sudah lewat" Kata Judith.


Anggun tersenyum, ia bergegas mengantarkan minuman kembali.


" Hati-hati! Bos besar satu ini pemilih wanita, jangan menggodanya! " Bisik Manajer sebelum Anggun memasuki ruangan suite.

__ADS_1


Baru kali ini Anggun masuk ke ruangan Presiden Suite yang lebih bagus daripada ruangan VIP, ruangan itu malah seperti sebuah bar mini, penataan ruangan itupun membawa kesan mewah dan elegan disetiap sudutnya.


" Letakkan saja disana " Kata Pria itu tanpa menoleh ke arah Anggun yang membawa sebuah minuman eklusif, Anggun tahu harganya sama dengan gajinya setahun bahkan lebih. Disamping pria itu ada seorang wanita yang sibuk merayu pria tadi.


Anggun melihat seberapa keras usaha wanita tadi bahkan mencoba menempelkan bagian sensitif tubuhnya pada sang pria.


Setelah mengantar minuman pesanan tamu langganan Club' itu, Anggun membungkuk lalu pamit. Pria itu memperhatikan Anggun sedari tadi sambil meminum minumannya.


" Berhenti !" Panggilnya.


Anggun berhenti, ia berbalik sambil menunduk sopan.


" Apakah ada yang harus saya bawakan?" tanyanya.


" Kemarilah! biarkan aku melihat wajahmu lebih dekat " Kata Pria itu.


Anggun menelan ludah, berjalan mendekati namun masih menunduk. Ia teringat pesan manajer sebelum masuk.


" Kenapa harus memperhatikan pelayan, Tuan" Tanya wanita yang sedari tadi menempel pada pria itu.


Pria itu mendorong wanita itu dengan kasar dan beralih pada Anggun. Seringai tipis muncul segaris diwajah pria itu saat melihat wajah Anggun.


Anggun terus saja diam menanti tindakan pria didepannya. Tindakannya ini justru mengundang penasaran pria tadi. Dengan segera ia menarik tubuh Anggun dalam pelukannya.


" Tu-tuan" Kata Anggun terkejut.


" Katakan berapa hargamu" Desis pria itu ditelinga Anggun. Wanita itu memberontak.


" Saya tidak jual diri tuan" Kata Anggun pelan.


Diluar dugaan pria itu terkekeh dan menjawab dengan desisan yang sama.


" Tidak ada wanita disini yang tidak menjual dirinya, katakan saja berapa hargamu" Kata Pria itu.


Anggun menelan ludah namun terlintas dalam pikirannya jika ia menolak kemungkinan akan mengalami pemerkosaan lagi. Anggun tidak menginginkan hal itu. Ia tidak boleh rugi kedua kali.


" Berapa anda sanggup membayarku tuan?" Tantang Anggun balik.


Seringai pria itu semakin lebar, ia menjentikkan jarinya padahal suaranya tidak begitu terdengar tetapi manajer langsung datang tergopoh-gopoh.

__ADS_1


" Apakah ada pelayanan yang kurang memuaskan tuan?" kata Manajer itu takut-takut.


" Tidak, hanya aku meminta izin untuk membawa pelayanmu ini " kata Pria kaya itu menunjuk Anggun.


Anggun hanya berdiri mematung saat manajer menyetujui, pria itu memberikan tips pada manajer lalu Anggun dibawa pergi oleh pria itu lewat jalan VIP yang tidak dilewati oleh sembarang tamu. Hanya tamu khusus yang bisa lewat situ.


Anggun menelan ludah, ia pasrah dibawa oleh pria asing yang baru ditemuinya itu ke sebuah hotel mewah berbintang lima.


Anggun pernah menginap dikamar yang paling mahal dihotel itu sebagai hadiah tahun baru dari ayahnya. Ia tidak kaget lagi saat berada ditempat itu hanya saja kurang nyaman karena pakaian pelayan yang dikenakannya.


Saat sudah berada dikamar, pria itu duduk memanggil Anggun.


" Nah sekarang puaskan aku, hargamu tergantung kepuasan yang kau berikan" Kata Pria itu mempersilahkan Anggun berinisiatif pada dirinya.


Anggun merasa tidak bisa mundur lagi, dilangkahkan kakinya mendekati sang pria asing itu dan memulai aksinya. Malam itu menjadi malam panas bagi mereka berdua. Pria itu tadinya membiarkan Anggun yang berinisiatif malah membalas menyerang balik, tanpa kenal lelah mencari kenikmatan dari aktivitas mereka.


Entah sudah berapa jam berlalu, keduanya akhirnya terkapar lelah dan tertidur. Anggun tertidur meringkuk dipeluk erat sang pria asing.


" Sudah lama aku tidak pernah merasakan keasyikan seperti ini, seolah tidak pernah puas " Kata pria itu.


Ia menyerang Anggun bahkan disaat wanita itu sedang tertidur hingga keesokan paginya Anggun diberi sebuah cek seharga 10juta atas pelayanan yang diberikan.


" Kenapa?" tanya pria itu melihat kening Anggun berkerut.


" Tidak tuan, aku hanya melihat betapa murahnya diriku bisa dihargai 10juta saja" Kata Anggun.


Nada bicara Anggun memancing rasa penasaran dari pria itu, nalurinya berkata Anggun itu bukan wanita yang kebanyakan yang terharu melihat cek. Saat datang ke hotel ini saja, Anggun terlihat biasa saja tanpa ada tanda jika wanita itu kagum dan bangga dibawa ke hotel mewah.


" Ini.. anggap saja tips " Kata Pria itu memberikan segepok uang lembaran 100-an dari tasnya.


Anggun menerima uang itu dan pamit hendak kembali ke rumahnya. Ponselnya mati karena kehabisan daya. Akibat semalaman berolahraga panas, Anggun harus mengatur cara jalannya agar terlihat biasa. Tubuhnya penuh dengan bekas memar harus ia sembunyikan dari ibu dan anaknya.


" Mengapa sunyi? mom! Shasa! Mommy pulang" kata Anggun tiba dirumah.


Tidak ada jawaban, Anggun diberitahu tetangga jika Anaknya dibawa ke rumah sakit karena kejang. Anggun panik langsung ke ruang sakit yang dituju.


" Shasa maafkan mom sayang" Kata Anggun gelisah.


***

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2