Embun Dari Langit

Embun Dari Langit
Kepanikan


__ADS_3

***


Dave dan Daffa gelisah didepan ruangan, Elina sedang diperiksa oleh Edgard.


" Bayinya akan segera lahir " Kata Edgard.


" Benarkah? apa tidak ada indikasi bahaya?" Tanya Dave.


" Tenang saja, sejauh ini kondisi vital Elina dan Anaknya baik-baik saja" Kata Edgard menenangkan.


" Kapan perkiraan akan lahir?" Tanya Dave.


" Kalau melihat perkembangan sekarang bisa jadi sebentar sore, Kita siap-siap saja" Kata Edgard.


Dave dan Daffa menengok Elina didalam ruangan. Ia masih harus menunggu pembukaannya lengkap. Elina memutuskan untuk melahirkan secara normal walaupun saat melahirkan Daffa dioperasi. Edgard tidak melihat adanya bahaya tetapi tetap bersiap sewaktu waktu jika harus mengoperasi Caesar adiknya kembali.


Butuh waktu lama untuk meyakinkan Edgard agar mengizinkan Elina melahirkan secara normal, namun keyakinan Elina membuatnya tidak bisa menentang.


" Jarak kelahiran Daffa dan adiknya 7 tahun, menurut pemeriksaan tidak ada bahaya jika melahirkan normal" Tegas Elina.


Berita Elina akan segera melahirkan segera tersebar kekeluarga besarnya, Ibu Sekar juga datang bersama Judith dan Dean. Elina dan Judith berkenalan secara singkat diruangan perawatan.


" Asal kau tau dia adalah kakak angkat Anggun" Kata Ibu Sekar dalam mobil saat perjalanan pulang.


Judith tertegun, ia tidak mengetahui hal itu. Tadinya ia mengira Anggun adalah anak tunggal.


" Saya tidak pernah melihatnya " Kata Judith .


" Ya, Keluarga Bumiwardoyo sungguh kejam bukan hanya padamu tetapi juga padanya"


Sepanjang perjalanan ibu Sekar menceritakan secara garis besar penderitaan yang dialami Elina. Judith ternganga.


" Natasha sekarang sedang kritis, dokter mengatakan jika dalam dua bulan tidak mendapatkan pendonor maka anak itu akan meninggal" Kata Judith merasa kasian.


" Kau merasa kasian? Anak itu seharusnya memang sudah mati sejak dulu, tahukah kau untuk bertahan hidup hingga sekarang Anggun Bahkan menculik keponakannya dan mengambil hatinya? Aku heran padamu kenapa mengasihani iblis itu" Kata Ibu Sekar dengan emosi.


Judith terdiam, dirinya terlalu sibuk bekerja sehingga tidak sempat mencari informasi apapun tentang orang disekitarnya.


" Penculik Dean kemarin adalah suruhan boss besar yang terhubung dengan mafia dan kau tau siapa wanita dibelakang semua itu?" Tanya Ibu Sekar.


Judith memandang dengan wajah ngeri, pikiran nya melayang pada boss besar yang dikenalkan pada Anggun


" Ya! Boss besar yang kau kenalkan pada wanita iblis itu nyaris membuatmu kehilangan satu-satunya anakmu, kau masih berpikiran untuk menolongnya? Ceh! siapapun yang mengenalnya pasti akan celaka" jawab ibu Sekar menebak isi pikiran Judith.


Judith terdiam, sepanjang perjalanan ibu Sekar banyak menasehatinya untuk tidak terlalu polos. Mobil berhenti didepan sebuah rumah mewah.


" Bukankah ini rumah Anggun? untuk apa kita ke sini?" Judith melihat pagar rumah Yang dikenalnya.


Ibu Sekar tidak peduli, ia mengajak Dean masuk ke dalam. Judith lebih heran lagi saat melihat rumah itu ramai dengan anak-anak panti bahkan Nesya dan Garin ada disitu. Ada apa ini? kenapa semuanya ada disitu?.


Nesya datang menyambut, hari ini merupakan hari perpisahan Dean dengan teman pantinya. anak itu akan tinggal dirumah neneknya mulai sekarang.


Dean pamit pada semuanya dan berjanji akan sering mengunjungi tempat itu. Judith juga sudah berhenti dari pekerjaannya. Ibu Sekar menyewa khusus guru untuk mengajari Judith agar bisa menyesuaikan dengan lingkungan jetset. Serta membuat wanita itu sibuk dengan banyak belajar berbagai keterampilan yang harus dimilikinya.

__ADS_1


Ibu Sekar juga keras dengan pendidikan Dean, ia tidak ingin Dean menjadi seperti Sean yang telah salah jalan.


***


Menjelang sore Elina semakin sering merasakan kontraksi. Waktu kelahiran semakin dekat wanita itu dibawa keruangan bersalin.


Dave masuk ke dalam bersama Edgard. Daffa menunggu diluar bersama nenek dan kakeknya ( Pihak Elina) yang telah tiba dari Singapura.


Semuanya tegang menanti dan banyak berdoa.


" Mau kemana?" tanya nenek.


" Ke kamar kecil nek, mau pipis" jawab Daffa.


Anak itu berlari-lari kecil menuju toilet. Sang nenek tersenyum melihatnya. Karena merasa Daffa terlalu lama, sang nenek menyusul ke kamar mandi.


" Daffa" Panggil sang nenek.


Tidak ada jawaban, seorang cleaning servis datang mendekati menawarkan bantuan lalu mengecek keberadaan Daffa dikamar mandi.


" Tidak ada cucu Nenek dikamar mandi, semua toilet kosong" Jawab CS tersebut.


Nenek terkejut, bagaimana mungkin?


" terimakasih mungkin cucuku sudah kembali " Jawab nenek.


Wanita tua itu beranjak menuju ruang bersalin.


" Mana Daffa?" Tanya Kakek.


Kakek menggelengkan kepala. Nenek menjadi cemas. Seketika perhatian teralihkan oleh suara tangis bayi dari dalam ruangan. Dave keluar 5 menit kemudian dengan wajah gembira.


" Daffa mana?"


Kakek dan nenek menggelengkan kepala tidak tau.


" Tadi pamit ke toilet tapi ditunggui tidak datang" Jawab nenek.


Wajah Dave menegang, ia menelpon ponsel Daffa.


Ringg! Telolet telolet


Suara dering ponsel Daffa terdengar agak jauh, Dave mencari arah suara. Alangkah terkejutnya ia mendapati suara ponsel berasal dari tempat sampah.


Segera ia menelpon orang suruhannya.


" Periksa cctv rumah sakit dan aku ingin mendapatkan informasi tentang anakku sekarang!" seru Dave diliputi kecemasan.


Apa yang harus ia katakan pada istrinya, wanita itu sedang lemah setelah melahirkan.


" Aku tidak bisa memberitahu Elina sekarang Sampai semuanya jelas, kau dimana Daffa?" Dave menggigil saking cemasnya.


Edgard segera diberitahu, sama seperti Dave pria itu langsung menegang. Cctv rumah sakit diperiksa, Daffa masuk toilet dan tidak keluar. Gambar nenek terlihat disitu sedang bicara dengan cleaning servis. Setelah sang nenek berbalik sang cleaning servis masuk kembali membawa sesuatu yang ditutupi.

__ADS_1


" Ikuti kemana cleaning servis itu" Suruh Edgard.


Petugas keamanan dengan lincah berpindah cctv mengikuti cleaning servis tadi dan ternyata bungkusan besar itu adalah Daffa yang tengah pingsan dengan cepat dan rapi tubuh anak itu dibawa keluar rumah sakit.


Dave menelpon interpol, ia tidak ingin lagi membiarkan Intel polisi Indonesia yang menangani penculikan anaknya. Ia pun mengerahkan team khusus keamanan yang dimiliki keluarganya.


" Segera cari dimana posisi putraku" Kata Dave.


Pencarian dilakukan tanpa sepengetahuan Elina. Dave dan Edgard pamit keluar rumah sakit dan memilih memantau dari rumah. Ibu Sekar terkejut saat mendapat pemberitahuan Daffa diculik.


" Pasti Anggun! kita kerumah Wanita iblis itu." Kata Ibu Sekar.


Saat sampai disana rumah itu tampak lengang dan kosong tidak ada tanda kehidupan dari penghuninya. Judith memberitahu alamat rumah sakit Nathasa dirawat.


" Baru saja dipindahkan " Kata petugas administrasi.


" Dipindahkan kemana? bukankah pasien sedang kritis?" Tanya Dave.


Petugas itu mencari namun Anggun memang sengaja tidak menuliskan apapun. Dave meninju dinding saking frustasi.


" Jangan panik Dave, kita harus mendapatkan Daffa secepatnya" Kata Edgard.


" Yah, jika sampai Anggun melukai anakku seujung kuku saja akan kupastikan dia tidak akan hidup utuh" Ancam Dave.


Semuanya mencari keberadaan Daffa. Tim mendapatkan koordinat Dafa berdasarkan GPS yang dipasang pada tubuh Daffa.


" Team satu sedang menuju lokasi" kata kepala pengawal yang baru.


Dave mengikuti petunjuk. Dering ponsel mengalihkan perhatiannya. Ia melirik Edgard.


" Halo?"


" Dimana kalian? " Tanya Elina.


" Eh Daffa secara tiba-tiba ingin membelikan adiknya hadiah, aku sedang mengantar menuju toko" jawab Dave berbohong.


" Suamiku, apa kau yakin Daffa sedang bersamamu?" Suara Elina terdengar menyelidiki.


Dave dan Edgard terdiam, mengapa Elina bertanya seperti itu.


" Ah yakin dong, mengapa kau bicara seperti itu? kami akan tiba sebentar lagi " Kata Dave gugup lalu mematikan ponselnya.


***


Dilain tempat.


Diruangan perawatan setelah melahirkan, Elina menerima pesan yang mengejutkan pada ponselnya.


Foto ini anggap saja sebagai foto terakhir putra mu, terimakasih telah melahirkan dia untuk menjadi penyambung hidup anakku


Anggun.


Elina melihat Daffa tengah terbaring tidur ditempat duduk yang tidak diketahui tempatnya. Elina menelpon sang suami menanyakan keberadaan putranya.

__ADS_1


***


BERSAMBUNG


__ADS_2